
Nafiza terkejut tiba-tiba Brian sudah ada di belakangnya, padahal sedari tadi ia masih menerima telepon dari Brian menyangka Brian masih ada di rumahnya.
"Kamu kenapa ada di sini?"
"Aku mau jalan-jalan dengan Troy, ya kan Troy?" Brian menyenggol tangan Troy yang ada di sebelahnya.
"I-iya halo nona" sapanya tersenyum kaku.
Nafiza tahu itu hanya alasan, Tita yang ada di sebelah Nafiza merangkul tangannya sambil berbisik.
"Siapa lelaki yang di sebelah Brian?" Tita tak bisa berhenti memandanganya.
"Ini sekretaris Brian namanya Troy"
"Troy?" Nafiza melihat ke arah Tita, ia tidak berkedip melihat Troy. Nafiza mengangkat tangannya dan mengipaskannya beberapa kali tepat di depan wajah Tita.
"Kedipkan matamu Tita!"
"Eh hehe" Tita tersenyum salah tingkah, seakan mengerti akhirnya Nafiza memperkenalkan Troy dan Tita.
"Kak Troy kenalkan ini temanku namanya Tita dan Tita kenalkan ini sekretaris Brian namanya Troy" tangan Nafiza bergantian menunjuk Troy dan Tita.
"Tita" ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum menebar pesona.
"Troy" ia menjabat tangan Tita tetapi tangan Tita memegang tangannya erat, Troy berusaha melepaskan tangannya dari tangan Tita.
"Memegangnya kencang sekali isshhhh" gumam Troy dalam hati.
"Uuuhh tampannya" puji Tita.
Troy masih berusaha menarik tangannya yang tak di lepaskan Tita, akhirnya ia menariknya sangat kencang hingga Tita hampir jatuh ke depan tetapi Tita bukannya malu ia malah tersenyum.
"Gadis menyeramkan kekuatannya seperti samsonwati" umpat Troy lagi.
"Eh maaf ya aku jadi lupa diri" ucap Tita menarik rambutnya ke belakang telinga, Troy hanya membalasnya dengan senyuman terpaksa.
Nafiza menarik tangan Tita untuk berdiri lagi di sampingnya.
"Tita jangan seperti itu, memalukan!" bisiknya.
"Habis dia tampan Fiz" Tita masih memandang Troy.
"Halo Tita" suara Brian, ia daritadi jadi seperti pajangan tak di anggap. Hehe
"Halo juga kak Brian" Tita menjawab sapaan Brian tetapi matanya masih pada Troy.
"Kamu sudah dapat bukunya? kalau sudah ayo kita bayar nanti kita makan, aku sangat lapar" ajak Brian.
"Sudah, ini bukunya. Kenapa kamu belum makan? kan tadi sudah lama di rumah" Nafiza dan Brian berjalan beriringan.
"Aku mau makan bersamamu" Brian memegang tangan Nafiza.
"Hemmmm"
Troy dan Tita mengekor dari belakang, Tita berjalan di samping Troy meski Troy beberapa kali menghindarinya tapi Tita pantang menyerah dan masih menyamakan langkah kakinya dengan Troy.
Sesekali Troy berjalan sambil bergeser menjauh tetapi Tita masih menyusulnya, sedikit seperti drama lari-larian. π
Troy mengambil nafas panjang merasa lelah tetapi Tita masih segar dan tersenyum di sampingnya.
"Gadis pantang menyerah"
Setelah sampai di meja kasir, Nafiza segera membayar buku yang akan di belinya. Kini mereka berempat berjalan untuk mencari tempat makan yang nyaman di dalam Mall.
"Kita makan di sini saja ya, aku sudah lama tidak makan ramen" ajak Nafiza ia menarik kursi di depannya dan duduk di sana, di susul oleh Brian, Tita dan Troy. Mereka duduk dalam satu meja bundar.
Tak lama kemudian pelayan datang dan memberikan dua buku menu, pelayan tersebut siap untuk mencatat pesanan.
"Aku mau pesan Soyu Ramen" ucap Tita.
"Aku mau pesan Beef Teriyaki" pilih Brian. "Kalian mau pesan apa?"
"Aku pesan apa yang Troy pesan" senyumnya Tita tak berhenti memandang Troy di sebelahnya membuat Troy salah tingkah.
"Saya mau pesan Abura Ramen"
"Berarti Abura Ramennya 2 ya" tanya pelayan.
"Iya minumnya lemon tea 4" timpal Nafiza.
"Baik, mohon tunggu sebentar kami kan menyiapkannya" pelayan tersebut pergi meninggalkan mereka berempat.
"Oia Brian aku ingin bertanya, menurutmu aku harus kuliah jurusan apa?"
"Kenapa kamu bertanya padaku? kamu harusnya menyadari bakat dan minat kamu ada di mana untuk menentukannya."
"Aku belum tahu mau kuliah jurusan apa nanti."
"Kamu fikirkan saja hal apa yang kamu sukai, kalau bakat sih asal tidak jadi guru matematika saja. Kamu tidak menguasainya, selain itu jika nanti sedang kuliah kamu hamil dan punya bayi bagaimana? memangnya sudah kamu fikirkan?" Brian memegang tangan Nafiza dan meletakkannya di pahanya sambil mengelus-ngelus telapak tangan istrinya.
"Bayi?" Nafiza sama sekali belum berfikiran akan hamil dalam waktu dekat, ia terkejut. Brian hanya menganggukan kepalanya pelan.
"Memang kamu tidak kefikiran untuk cepat-cepat punya buah cinta bersamaku?" Nafiza terdiam.
"Aku bisa saja membuat kamu hamil dalam waktu dekat Nafizaku sayang" Nafiza menelan ludahnya, ia menyadari jika hal itu mungkin bisa terjadi karena dia bukan lagi seorang gadis, ia adalah seorang istri yang statusnya bisa dengan cepat berubah menjadi seorang ibu jika Tuhan menghendaki.
"Hey hey membicarakan bayinya nanti saja, kasihanilah kami yang belum menikah" Tita mengetuk meja dengan tangannya menyudahi pembicaraan suami istri yang masih muda.
"Aku mau cepat menikah jika sudah ada yang melamar" Tita memandang Troy sambil mengedipkan kedua matanya.
"Apa sih!"
Kemudian pelayan datang membawa pesanan dan meletakkannya di meja Brian, mereka mulai menyantap dengan lahap makanan di depannya.
***
"Aaahhh kenyangnya" ucap Nafiza setelah menghabiskan makanannya.
"Aku juga kenyang, Fiz apa bedakku berantakan ya? aku mau ke toilet dulu deh sebentar" Tita bangun dari duduknya
"Tidak berantakan kok, tapi aku ikut!" Nafiza menyusul Tita.
"Jadi perempuan itu repot ya" ucap Brian melihat Nafiza dan Tita pergi.
Sesampainya di toilet Tita segera mengeluarkan bedak dan lipstiknya, ia memoles wajahnya yang masih terlihat segar. Kini wajahnya menjadi bertambah Glowing.
Nafiza mencuci tangannya sambil memperhatikan Tita, ia kembali menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tita.
"Sudah cantik kok Ta"
"Benarkah? kamu tidak bohong kan?" Tita memoles sedikit bibirnya.
"Iya tapi kamu sebaiknya jangan terlalu terang-terangan pada Troy Ta, kamu harus sedikit jual mahal"
"Memangnya kamu tahu aku menyukai Troy?"
"Tahulah sikapmu itu sangat jelas, lelaki itu suka tantangan Ta jadi kamu jangan terlalu memperlihatkannya"
"Tapi aku tidak bisa Fiz, aku malah sekarang kalau bisa mengatakan cinta, aku ingin melakukannya sekarang juga"
"Eh jangan, kamu harus pendekatan dulu. Kamu harus tahu dulu Troy menyukaimu atau tidak. Jangan langsung menyatakan cinta"
"Oh begitu ya, tadinya aku berfikir ini sudah waktunya aku bisa memakai ini" Tita mengeluarkan 'pengaman' yang di kembalikan Nafiza tadi siang.
"Iiihhh kenapa kamu membawa benda ini kemana-mana!!" Nafiza memasukkannya kembali ke dalam tas Tita. "Pokoknya tidak boleh mencolok, bersikaplah biasa saja. Oke"
"Aku akan berusaha tapi kalau tidak bisa, tidak apa-apa ya"
"Hadehhhh, sudah ayo kita keluar" Nafiza mendorong bahu Tita untuk berjalan keluar toilet.
Nafiza dan Tita sudah kembali ke meja makan mereka tetapi Brian dan Troy sudah berdiri.
"Ayo kita langsung pulang, hari sudah malam" ajak Brian.
"Antar aku toko aksesoris dulu ya, aku mau membeli sesuatu, tapi Tita pulang saja di antar Troy" pinta Nafiza merangkul tangan Brian.
"Sudah malam, nanti lagi kita ke toko aksesorisnya"
"Aku mau sekarang"
"Nanti"
"Pokoknya sekarang" Nafiza mengedip-ngedipkan matanya pada Brian seolah memberi kode agar Tita bisa berduaan dengan Troy dan saling mengenal.
"Kenapa mata kamu kelilipan?" Brian malah mendekatkan wajahnya pada wajah Nafiza, ia tak mengerti. Nafiza menjadi kesal.
Buggghhhh
"Aw sakit!!" Nafiza menginjak kaki Brian kencang.
"Eh maaf ya Brianku sayang, kakimu terluka ya. Ayo kalau begitu kita harus membeli obat dulu untuk kakimu. Troy antarkan Tita ya, aku dan Brian akan membeli obat" Nafiza seolah memapah Brian.
"Aku tidak apa-apa hanya sakit sedikit"
"Sudah ayo pokoknya beli obat!" Nafiza memaksa.
"Lalu pulangnya bagaimana tuan dan nona?" tanya Troy.
"Kami bisa naik taksi, sudah sana cepat antar Tita nanti keburu larut malam" Nafiza dan Brian meninggalkan Troy dan Tita.
"Yessss!!" suara Tita pelan tetapi masih terdengar.
Troy : "Thor dia ko agresif sekali"
Author : "Lho bukannya laki-laki suka sama perempuan agresif ya" π
Troy : "Tidak!!" π£
Author : "Cup cup cup jalanin saja dulu Troy"
Troy : π
***
**Maaf ya gantung dan mungkin kurang menarik
Author mengantuk berat nulisnya hehe
Jangan lupa Like Koment dan Vote nya jika berkenan
Aku padamu Readers π**