
Sementar itu.
Di dalam kamar yang lain, setelah melaksakan sholat isya Afnan dan Dewi duduk di atas ranjang dengan saling diam, tidak ada yang ingin berbicara terlebih dahulu.
Denting jam yang terus berbunyi seolah memecahkan kesunyian di dalam kamar itu, beberapa kali helaan nafas terdengar di telinga Dewi, entahlah apa yang sekarang di pikirkan suaminya, mungkin kecewa atau marah !
“Mungkin memang Mas yang salah karena masuk dalam kehidupan kamu, jika kita tidak menikah kamu pasti bisa rujuk sama dia” Afnan membuka pembicaraan.
Dewi mendongak, ia menatap wajah sang suami dengan dalam, entah apa julukan yang tepat untuk dirinya, sudah punya suami tapi masih menangisi pria lain. Namun Dewi juga tidak ingin menangis di acara pesta tadi, air mata itu lolos begitu saja tanpa bisa di hentikan.
“Aku terlalu bo doh bukan” lagi-lagi Afnan berbicara.
Dewi mengernyitkan keningnya karena bingung akan ucapan dari sang suami.
“Iya bo doh karena terlalu berharap kamu akan mencintai ku seperti kamu mencintai dia” Afnan tertawa sumbang, tawa yang begitu menyentuh ulu hati Dewi.
Dewi hanya bisa menunduk, memainkan ujung baju tidurnya dengan perasaan bersalah.
“Namun apa yang harus aku lakukan, karena aku tidak bisa melepaskan kamu Dek, aku terlalu mencintai kamu, dan aku akan menunggu sampai kamu siap menerima aku apa adanya”
“Maaf !” hanya itu Jawaban dari Dewi, matanya sudah berkaca-kaca, ucapan suaminya terdengar begitu memilukan.
Memang tidak seharusnya dia seperti ini, menangisi pria lain yang sudah menjadi masalalunya.
Afnan bangkit hendak meninggalkan Dewi, namun dengan gerakan cepat Dewi menahan.
“Mas mau kemana ?” tanya Dewi dengan suara bergetar, sebab air mata yang sudah menganak-pinak akan segera meluncur dengan deras.
“Mau keluar sebentar, kamu tidur aja duluan !” jawab Afnan dengan sorot mata yang teduh.
“Jangan pergi Mas ! tolong temani aku” titah Dewi.
“Baiklah kalau begitu, ayo tidur Mas temani”
Afnan langsung menuntun Dewi ketempat tidur, mengelus rambut Dewi dengan gerakan lembut.
“Kenapa matanya masih terbuka, ayo tidur !” ujar Afnan karena melihat Dewi tak kunjung menutup matanya.
“Mas tidur juga”
“Baik Sayang”
Cup.
Kecupan singkat Afnan berikan di kening sang istri, membuat rasa yang tadi terhampau kecewa dan rapuh mulai sedikit terobati.
Tidak berapa lama dengkuran halus terdengar, Dewi melirik suaminya dan ternyata Afnan sudah tertidur dengan pulas, mungkin karena lelah akibat perjalanan jauh.
“Maafkan aku Mas, tidak seharusnya aku selalu mengecewakan Mas seperti ini, Maaf belum bisa menjadi istri yang baik untuk Mas” gumam Dewi.
Jari telunjuknya menelusuri wajah Afnan yang bersih dan putih, terlihat sekali kalau Afnan selalu menjaga kebersihan wajahnya, bekas sisa cukuran jenggot dan kumis nya begitu halus.
Dan tanpa di duga jari telunjuk Dewi berhenti tepat di bibir Afnan, bibir berwarna sedikit merah karena memang Afnan tidak merokok seperti yang lain.
“Astaga, apa yang aku pikirkan , bisa-bisanya aku berpikir ingin di cium sama Mas Afnan” Dewi merutuki kebodohan nya sendiri.
Setelah itu Dewi kembali merebahkan badannya, lalu membaca doa tidur untuk segera terbuai kealam mimpi, berharap ia bisa bermimpi indah malam ini.
---------
Berbeda dengan kamar tempat Rian dan Maudy, mereka berdua sedang menikmati malam panas mereka, suara ******* dan decitan mengjadi pemecah kesunyian di dalam kamar hotel bintang lima itu.
Rian terus melakukan aksinya, tanpa kenal yang namanya lelah, Maudy juga tidak marah ia mengimbangi permainan sang suami agar-agar sama-sama meraih kepuasan.
Wajah keduanya sudah di banjiri dengan keringat, padahal suhu AC sudah di buat Full namun rasanya masih begitu panas.
“Ah” Maudy kembali meloloskan kata itu, kata singkat berhasil membuat Rian kembali bersemangat.
“Semoga cepat jadi ya Mas” ucap Maudy dengan nafas terengah-engah.
Rian hanya tersenyum menatap sang istri “Jangan terlalu di pikirkan jika Allah sudah memberi kepercayaan pasti akan segera, untuk sekarang kita nikmati dulu semuanya” ujar Rian.
Maudy membalas dengan senyuman, lalu memejamkan matanya karena sekarang sudah menunjukkan pukul 01 dini hari.Rian pun ikut tertidur karena rasa lelahnya ia cepat sekali terbuai kedalam mimpi.
----------
Keesokan harinya, Dewi terbangun lebih dulu, suara Adzan subuh yang saling bersahutan disetiap masjid membuat nya menggeliat.
Ia meoleh kesamping dimana Sang suami masih tertidur dengan lelap.
“Tumben mas Afnan masih tidur biasanya dia paling cepat bangun saat mendengar suara Adzan” batin Dewi.
Gedoran pintu kamarnya mau tak mau membuat Dewi beranjak, lalu membuka pintu dengan pelan.
“Abi mana Bun, Alwi mau ajak Abi ke Masjid" Seloroh Alwi yang sudah siap dengan perlengkapan sholatnya.
“Abinya masih tidur, sebentar ya Bunda bangunin dulu” balas Dewi.
“Iya Bun”
Dewi berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di samping sang suami.
“Mas bangun udah subuh” ucap Dewi sambil menggoyangkan tubuh Afnan.
Karena merasa terganggu Afnan langsung membuka matanya, pemandangan yang indah di pagi hari ini karena melihat sang istri sedang tersenyum sambil menatapnya.
“Udah subuh !” ulang Dewi lagi.
“Alwi udah nungguin katanya mau ngajakin ke Masjid”, ujar Dewi lagi.
Afnan langsung bangun seketika, di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul 05:15 menit.
“Mas kesiangan” ujar Afnan terlihat panik.
“Sebentar ya Nak, Abi mandi dulu” ucap Afnan kepada Alwi.
“Iya Abi” jawab Alwi.
Dengan cepat Afnan ke kamar mandi, membuat Dewi tersenyum karena merasa lucu dengan tingka sang suami yang begitu menggemaskan saat panik.
“Mas Afnan, Mas Afnan” gumam Dewi.
Sambil menunggu Afnan selesai mandi, Dewi langsung menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya, baju Koko yang di padukan dengan sarung yang sering Afnan kenakan saat hendak sholat.
Tidak berapa lama Afnan sudah selesai mandi, wajahnya yang basah karena habis berwudhu membuat Afnan terlihat semakin tampan di mata Dewi.
“Mas tau kalau Mas tampan, jadi jangan ngelirik terus seperti itu” kata Afnan sambil terkekeh.
Dewi hendak melayangkan satu pukulan, namun Afnan langsung menghindar
“Ettttsss, Mas udah wudhu nanti saja kalau mau saling cubit setelah Mas selesai sholat” ujar Afnan sambil mengerlingkan sebelah matanya
“Issst” Dewi mendesis kesal, lalu masuk kekamar mandi meninggalkan suami dan anaknya.
****
Setelah melaksanakan sholat subuh sendiri karena suami dan anaknya pergi ke masjid, Dewi berjalan mendekati lemari hiasnya, lalu membuka laci hingga menampilkan sebuah obat yang selama ini ia minum.
“Mungkin sudah saatnya” gumam Dewi sambil menatap obat yang bertuliskan 'Andalan'.
“Sekarang aku siap untuk mengandung anakmu Mas, semoga segera di beri kepercayaan” Dewi mengelus perutnya yang masih datar.