Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 63


"Apa ?" pekik Papa Bayu.


Juminten masih bersuami ?


Papa Bayu menggelengkan kepalanya, dadanya terasa sesak. Harapan nya untuk menikah lagi hancur sudah.


"Apa semua ini terjadi karena kedua putraku tak memberikan restu" batin Papa Bayu.


Menjelang makan siang, Papa Bayu hanya diam saja makanan yang ada di hadapan nya hanya di aduk saja. Membuat kedua putranya dan kedua menantunya saling pandang.


Bingung bercampur heran melihat wajah Papa Bayu yang sangat murung, padahal saat kedatangan Alwi tadi Papa Bayu terlihat bersemangat sekali.


"Papa kenapa ?" tanya Kenan yang sudah tidak tahan melihat tingka sang Papa.


"Tidak apa-apa" jawab Papa Bayu berbohong, padahal di dalam hatinya begitu hancur berkeping-keping.


"Terus kalau enggak kenapa-napa, kenapa makanan Papa gak dimakan ?" sahut Rian.


"Papa lagi malas makan" balas Papa Bayu.


Lalu Papa Bayu berdiri dan meninggalkan meja makan, keluar lewat pintu samping menuju kolam ikan kesayangan nya. Karena memang di situlah Papa Bayu menenangkan diri.


"Papa kenapa ya Mas ?" tanya Maudy


Rian mengangkat kedua bahunya "Mana Mas tau dek, Papa ini semakin aneh saja" jawab Rian.


"Setelah makan, kalian berdua temui Papa, mungkin Papa lagi ada masalah karena gak pernah aku lihat dia murung seperti ini" sahut Alya.


Kenan menatap sang istri, meletakkan sendok makannya di piring.


"Papa itu hanya punya kalian berdua sebagai anaknya, Papa udah lama jadi duda mungkin Papa kesepian karena kalian sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Papa sudah tua jadi berikan lah seluruh perhatian kalian, dia hanya butuh perhatian kalian berdua sebagai anaknya" Alya menasehati suami dan adik iparnya.


Mendadak suasana di meja makan menjadi sedih. Kenan sadar selama ini ia terlalu di sibukan dengan pekerjaan, walaupun ada hari libur tapi Kenan lebih menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya.


Kenan tak pernah berpikir bagaimana sang Papa yang kesepian, haus akan perhatian. Bahkan semua itu tidak pernah ada di pikiran Kenan harusnya sebagai anak tertua Kenan lebih memperhatikan keadaan Papa.


Begitupun dengan Rian yang selalu di sibukkan dengan pasien dan pasien padahal sang Papa juga butuh perhatian lebih.


"Kalian harus ingat bagaimana Papa berjuang sendiri untuk membesarkan kalian, menyekolahkan kalian tanpa memikirkan menikah lagi" ujar Alya lagi.


Seketika Kenan mengingat masalalunya. Bagaimana waktu ia kecil selalu di gendong oleh Papa kemanapun.


Apalagi saat sang Mama meninggal Papa Bayu lah yang merawat Kenan dan Rian seorang diri.


🍀Flasback on🍀


Saat itu Kenan kecil sedang bermain tapi tiba-tiba ada yang mendorongnya, hingga membuat lutuh Kenan menjadi terluka.


Kenan pulang sambil menangis, ia melihat sang Papa sedang menemani Rian di teras.


"Papa" panggil Kenan.


Papa Bayu menoleh, dan langsung panik saat melihat lutut Kenan berdarah.


"Kamu kenapa Nak ? kenapa berdarah seperti ini ?" tanya Papa Bayu.


"Ken di dorong sama teman Pa" jawab Kenan sambil menangis.


Dengan sangat hati-hati Papa Bayu mengobati lutut Kenan.


Perjuangan Papa Bayu begitu besar.


Pernah suatu ketika saat Kenan dan Rian sakit semua, dan selalu minta di gendong. Jadinya Papa Bayu menggendong keduanya, dengan Kenan yang di gendong di belakang sementara Rian di depan.


Walaupun ada baby sister tapi Kedua anak Papa Bayu lebih suka di rawat sang Papa.


🍀 Flasback off🍀


Tak terasa buliran air mata membasahi kedua pipi Kenan dan Rian.


Rasa kangen di peluk Papa, kangen saat di gendong Papa, dan kangen saat di manja sang Papa.


"Sama, Kakak juga merindukan saat itu" balas Kenan.


"Temui Papa, dulu kalian yang membutuhkan Papa dan sekarang Papa yang membutuhkan kalian" pinta Kenan.


"Habiskan wekend kalian dengan Papa, anak-anak biar aku sama Kak Alya yang mengurus" sahut Maudy.


Kenan dan Rian langsung mengangguk, lalu bangkit dan menyusul sang Papa.


Dari kejauhan mereka berdua dapat melihat Papa Bayu duduk di kursi yang sudah tua, kursi kesayangan sang Papa.


Tubuh yang dulu kuat kini mulai melemah, tangan yang


dulu kekar kini sudah mengkeriput, mata yang dulu terang saat melihat kini mulai memudar. Kenan dan Rian baru menyadari bahwa waktunya bersama sang Papa tidak akan lama lagi.


"Papa" panggil Kenan dan Rian serempak.


Papa Bayu menoleh, lalu bingung saat melihat Kenan dan Rian berjalan kearahnya, hingga tatapan Papa Bayu seperti beberapa tahun yang lalu saat Kenan dan Rian masih kecil. Mereka sering berjalan bersama dan memanggil 'Papa' seperti tadi.


Kenan dan Rian memeluk Papa Bayu dengan erat.


"Kalian kenapa ?" tanya Papa Bayu heran, tapi tetap saja mata Papa Bayu berkaca-kaca.


Sudah sangat lama momen ini hilang, bahkan Papa Bayu tak ingat kapan terakhir kali memeluk kedua putranya secara bersamaan. Atau bermain bersama.


"Ken kangen sama Papa"


"Ian juga Pa"


Itu adalah panggilan masa kecil Kenan dan Rian (Ken dan Ian).


"Kan Papa di rumah terus ?" seloroh Papa Bayu terkekeh.


"Ken kangen main sama Papa"


"Ian juga"


Papa Bayu kembali terkekeh, tapi buliran air mata semakin deras membasahi pipi keriputnya.


Selalu begitu Rian akan mengikuti kata sang Kakak. Seperti 'Ian juga'.


"Kalian ini kenapa ? malu sama anak istri" ucap Papa Bayu lagi.


Serempak Kenan dan Rian melepaskan pelukan nya, lalu menatap waja sang Papa yang sudah sangat tua.


"Hari ini kita main bersama ya Pa, kita mengenang masa dulu saat Ken dan Ian kecil" ucap Kenan.


"Untuk apa ?" tanya Papa Bayu semakin heran.


"Tidak untuk apa-apa Pa, aku sama Kak Kenan menyadari kalau kami berdua terlalu jauh sama Papa, tidak pernah ada waktu untuk Papa..Bahkan saat Rian menonton televisi lalu Papa mendekat Rian langsung masuk kamar. Maafkan Rian Pa" sahut Rian.


Papa Bayu tersenyum samar "Papa mengerti nak, kamu capek karena bekerja, apalagi kamu sudah punya anak istri, Papa tidak mempermasalahkan semua itu" Ucap Papa Bayu lalu menepuk bahu Rian dengan lembut.


"Bagaimana kalau sore ini kita ke taman bermain Pa, di tempat dulu saat Kenan dan Rian kecil" tawar Kenan.


Papa Bayu tampak berpikir "Hanya kita bertiga ?"tanya Papa Bayu.


Kenan dan Rian serempak mengangguk "Iya Pa, anak dan istri kita gak ikut" jawab Kenan.


"Bagaimana Pa ?" sahut Rian sembari bertanya.


"Ayo, Papa mau"


"Yeiiiii" Kenan dan Rian bersorak bahagia, itulah yang terjadi saat mereka kecil dulu.


Papa Bayu hanya menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum bahagia.


"Walau kalian ini aneh tapi Papa bahagia, terima kasih anak-anak ku karena masih mengingat Papa" batin Papa Bayu.