
Seharian ini Nafiza hanya terus berada di kasur, karena sedang memulihkan kesehatannya. Ia baru saja menghabiskan makan malamnya serta meminum obat yang sudah Bi Inah siapkan, tubuhnya sekarang menjadi lebih baik, terlebih dengan kehadiran Brian membuatnya serasa semakin sehat.
"Sebetulnya aku tidak memerlukan obat yang lain, obatku itu cukup dengan adanya Brian, hihi" gumamnya dalam hati, pemikiran Nafiza menjadi sedikit berlebihan.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" suara Brian menyadarkan lamunan Nafiza.
"Aaaa aku hanya sedang memikirkan sesuatu"
"Memikirkan apa?" Brian duduk di samping Nafiza.
"Ternyata kehadiran orang yang kita sukai bisa membuat kita melupakan rasa sakit dan memberi rasa senang ya"
"Hem mungkin" Brian menatap ke langit-langit kamarnya.
"Kenapa jawabanmu mungkin? memangnya menurutmu seberapa penting kehadiran orang yang kamu sukai?"
"Mungkin lebih dari itu nona, kehadiran seseeorang yang kita sukai bisa memberi banyak kekuatan. Meski akhirnya harus berpisah, jika kita mencintainya, cinta sejati tidak akan pernah berubah"
"Wah kamu menjadi sangat puitis, Brian anak pintar" Nafiza mengelus rambut Brian menggoda dan memperlakukankanya seperti anak kecil.
"Cih, Nafiza dengarkan aku, tak peduli seberapa banyak perkelahian yang kamu alami, ketika kamu benar-benar mencintai seseorang, pada akhirnya itu tidak akan menjadi masalah dan kamu selalu bisa memaafkannya" Brian memandang Nafiza dengan lekat.
"Sekarang kamu juga menjadi pintar merayu" goda Nafiza lagi sambil terkekeh.
"Kamu tidak bisa di ajak berbicara dengan serius ya" Brian mengalihkan pandangannya. "Oia aku mempunyai sesuatu untukmu" Brian berdiri dari posisi duduknya kemudian berjalan menuju meja kecil di samping ranjang dan mengambil sesuatu dari dalam lacinya.
"Apa ini?" Nafiza menerima sebuah kotak kecil berwarna coklat dengan pita besar di depannya.
"Bukalah" ucap Brian di samping Nafiza, kemudian ia membuka kotak tersebut dengan pelan.
"Berlian atau bukan, aku memberinya hanya untukmu Nafiza, kamu tidak usah tahu dan hal itu juga tidak penting, sini aku pakaikan kalungnya" Brian mengambil kalung dari dalam kotaknya, Nafiza memutar tubuhnya membelakangi Brian.
"Bagaimana? cantik tidak?" Nafiza memutar kembali tubuhnya menghadap Brian, kali ini Nafiza tampak lebih cantik dengan kalung di lehernya.
"Sangat cantik" Brian tersenyum dan mengelus pelan pipi Nafiza, ia menarik pelan tengkuk leher Nafiza, ia dapat merasakan nafas Nafiza sebelum bibir mereka bertemu.
Tok tok
"Non maaf menganggu, ini vitaminnya bibi tadi lupa memberikannya" ucap Bi Inah dari luar yang membuat Nafiza dan Brian refleks mejauhkan wajah mereka.
"Hem Bi Inah tidak bisa ya memberikan vitaminnya besok!" umpat Brian pelan sambil melepas tangannya dari leher Nafiza sedangkan Nafiza hanya tersenyum mendengar ucapan Brian.
"Iya Bi" Nafiza kemudian berjalan ke pintu menghampiri Bi Inah dan mengambil vitaminnya, setelah menutup pintunya Nafiza segera meminumnya.
"Terima kasih hadiahnya ya Brian, kamu sebaiknya sekarang istirahat ya, aku akan pergi ke kamarku" langkah Nafiza terhenti, Brian menarik tangan Nafiza dan mendudukannya di pangkuannya.
"Kenapa sekarang kamu malah ingin tidur di sana, kemarin saat aku tidak ada kamu tidur di kamar ini dan juga memangnya kamu hanya bisa memberi ucapan terima kasih?"
"Itu kan kemarin, sekarang ya kembali ke tempat semula, lagi pula aku harus membalas apa atas kalung pemberianmu ini" Nafiza berusaha berdiri, jantung berdegup kencang.
"Tidak boleh, mulai sekarang ini menjadi kamarmu! juga ayo lanjutkan yang tadi sebagai ganti ucapan terima kasihmu nona" Brian mendorong tubuh Nafiza ke ranjangnya, kini Brian berada di atas tubuh Nafiza.
"Aku tidak akan membiarkanmu tidur sendirian lagi dan aku hanya meminta bayaran dari kalung itu hanya dengan ini" Brian langsung melayangkan ciumannya.
"Sepertinya bibirku akan menjadi lebih tebal besok" ucap Nafiza dalam hati.