Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 26


Sementara itu, di kediaman Papa Bayu.


Setelah sang suami berangkat bekerja, Maudy menemani keponakan nya bermain, soalnya Alya sedang mengantar Keyla ke sekolah, jadilah dirinya menggantikan posisi Alya menjaga Zio.


“Tante, Zio mau susu” Seloroh Zio.


“Tunggu sebentar ya, Tante bikinin dulu” ucap Maudy, lalu beranjak menuju dapur untuk membuatkan Zio susu.


Beruntung selama ini ia sudah sering membuatkan Zio susu saat Alya sedang sibuk, jadi Maudy begitu hapal dengan takaran susu.


“Aku harus kedokter kandungan untuk program, sudah satu bulan aku menikah tapi belum hamil juga” Batin Maudy.


Botol susu yang semula kosong kini sudah penuh dengan air berwarna putih pekat, karena sudah tercampur dengan susu bubuk. Maudy langsung membawanya ke ruang televisi lagi untuk memberikan Susu tersebut kepada Zio, mungkin sudah waktunya Zio tidur.


“Sini Tante gendong” ucap Maudy.


Dengan cepat Zio merentangkan kedua tangan nya, Maudy menggendong Zio sambil memberikan susu kepada Zio. Benar saja botol dot itu belum habis isinya namun Zio sudah tertidur dengan pulas.


Saat hendak menidurkan Zio kekamar, suara Alya muncul di ambang pintu. Membuat Maudy menghentikan langkahnya dan berjalan mendekati Alya.


“Tidur ya ?” tanya Alya dengan suara pelan.


Maudy menjawab dengan anggukan kepala.


“Sini biar sama Kakak aja, kamu pasti capek gendong Zio yang gendut seperti ini” ujar Alya lagi.


Alya mengambil alih menggendong Zio, menepuk punggung nya dengan pelan supaya Zio tak terbangun.


“Kak” panggil Maudy.


“Hmmm” jawab Alya.


“Nanti aja Kak, setelah Kakak menidurkan Zio”


“Baiklah Kakak kamar dulu”


Alya meninggalkan Maudy, menggandeng tangan Keyla yang masih berpakaian sekolah.


Dengan sangat pelan Alya menidurkan Zio di atas kasur empuknya, setelah itu beralih mengganti pakaian Keyla.


“Sini nak ganti pakaian dulu” ajak Alya.


“Iya Mom” jawab Keyla dan mulai melangkah mengikuti Alya menuju kamarnya sendiri.


Memang setelah Keyla berumur 5 tahun, Kenan langsung menyiapkan kamar sendiri untuk putri nya itu, dan akhirnya Keyla berani tidur sendiri hanya saja kalau tengah malam ia pingin pipis, Keyla akan menuju kamar Alya dan Kenan. Walaupun di kamarnya sendiri ada kamar mandi.


“Mau pakai baju yang mana ?” tanya Alya sembari membuka lemari pakaian bermotif Hello Kitty dimana menampakan seluruh Pakaian Keyla.


“Ini saja Mom” Keyla menunjuk sebuah dress berwarna hijau Armi yang 2 hari lalu di belikan oleh Maudy.


“Yang di beliin sama Tante” ucap Keyla lagi.


“Baiklah” Alya mengambil baju tersebut, yang kemaren sempat ia cuci, lalu memakaikan baju itu di tubuh Keyla, sangat pas .


“Anak Mommy cantik sekali” puji Alya.


“Tapi kata Daddy cantikan Mommy dari pada Key” balas Keyla merengut kesal jika teringat ucapan Kenan.


“Hahahaha” Alya justru tergelak “Kata siapa, cantikan Key lah, kalau Mommy udah tua” Alya mengelus pipi putrinya yang lembut dan halus.


“Tapi memang Mommy cantik, banyak teman Key di sekolah yang bilang seperti itu” Keyla membalas mengelus pipi Alya


“Wah, benarkah ?”


Keyla mengangguk.“Katanya mereka ingin punya Mommy kaya Keyla”


Alya hanya geleng-geleng kepala mendengar cerita dari putri nya itu. Setiap pulang sekola Keyla banyak bercerita.


“Ya sudah Key makan dulu sama Bi Mina, setelah itu minta di temanin tidur siang ”


“Baik Mom”


-


-


-


“Ada apa Dy ?” tanya Alya. Ia duduk di single sofa.


“Keyla mana Kak ” Maudy Mala balik bertanya.


“Lagi makan siang sama Bibi, tadi katanya Maudy mau bicara, kenapa memangnya ?”


Sejenak Maudy terdiam, entah harus memulai dari mana.


“Maudy ingin ke dokter kandungan Kak” ucap Maudy tiba-tiba.


“Kamu hamil ?” tanya Alya antusias.


“Bukan Kak, Maudy ingin program kehamilan”


Alya memandang wajah Maudy dengan lekat, lalu tersenyum dan beralih duduk di samping Maudy.


“Ini baru sebulan Maudy, kenapa harus buru-buru untuk segera hamil, Apa Rian yang menyuruh kamu ke dokter kandungan” Tanya Alya.


Alya takut kalau Rian akan mengulang kesalahan yang sama, bayangan tentang Dewi sang Sahabat Kembali berputar walaupun Alya hanya tau dari cerita Dewi saja.


Namun tetap saja Alya begitu khawatir, Rian akan mengulang kesalahan yang sama, lalu kembali terpuruk saat penyesalan datang.


Sebenarnya Rian adalah orang yang baik, Alya bangga kepada Rian karena Rian selalu menghormati dirinya sebagai Kakak ipar, walaupun umur Rian dan Alya , lebih tua Rian 2 tahun tapi tetap saja Rian selalu memanggilnya dengan sebutan Kakak.


“Bukan Kak, bukan Rian yang memaksa Maudy. Kakak jangan salah paham” ucapan Maudy berhasil membuyarkan lamunan Alya tentang masalalu Rian


“Syurkulah kalau begitu, terus kenapa Maudy harus ke dokter kandungan, karena menurut Kakak Maudy nyantai aja lagian kan baru sebulan kalian menikah, jadi masih banyak waktu kecuali kalau kalian sudah menikah hampir satu tahun” balas Alya.


“Tapi aku ingin membahagiakan Mas Rian Kak”


“Ya sudah kalau begitu yang mana baik nya saja, jika Maudy ingin ke dokter kandungan ya Kakak dukung saja, tapi minta persetujuan dari suami dulu”


“Baik Kak”


-


-


-


Malam kembali datang, perlahan matahari mulai meninggalkan peraduan nya, hingga sang rembulan yang menggantikan sinar mentari.


Namun malam ini Tak ada cahaya dari bulan, bahkan satu bintang pun tak ada yang muncul, mungkin karena hujan yang begitu deras tadi soreh. Bahkan sampai sekarang masih rintik-rintik yang terdengar.


Maudy memandang ke luar kaca jendela kamarnya, menunggu sang suami pulang, karena tadi Rian mengatakan kalau Rian akan pulang jam 8 malam nanti .


Lalu kembali teringat dengan kata-kata Alya tadi siang, bagaimana Alya selalu mendukung dan memberika motivasi dalam hidupnya.


“Semoga saja Mas Rian setuju kalau aku ikut program hamil” batin Maudy.


Suara jangkrik mulai bersahutan, keadaan di luar sangat sepi, karena hujan deras yang mengguyur kota Jakarta membuat semua orang malas keluar rumah, mereka mungkin lebih baik tidur di rumah atau kumpul bersama keluarga.


Namun tiba-tiba. Lap.


Lampu mati dalam seketika, membuat sesisi ruangan menjadi gelap gulita, Tak ada cahaya sedikitpun, namun telinga Maudy mendengar suara semua orang panik dan tangisan dari Keyla dan Zio.


Tangan Maudy merabah dinding lalu berjalan dengan pelan, untuk mencari ponselnya. Dan dalam situasi mencengkam seperti ini Maudy harus menahan kesal karena ponsel yang baru saja ia dapatkan tak bisa menyala karena kehabisan baterai atau Lowbat.


*Menyebalkan !


Sangat mengesalkan*. !


Maudy lupa mencarger ponselnya ia kira tidak akan mati lampu.


Tok--tok--tok.


Suara ketokan pintu membuat Maudy terlonjak kaget, dalam kegelapan ini Maudy sangat ketakutan Karena bayangan tentang film horor melintas semua di pikiran nya .


“Maudy ini lilin untuk menerangi kamarmu, karena lampu nya akan mati lama soalnya ada kabelnya yang putus” ucap Alya yang sudah membuka pintu kamar sebelum Maudy berhasil membukanya.


“Pakai ini saja dulu, suami Kakak sedang menyuruh orang untuk menghidupkan mesin di rumah ini”


“Terima kasih Kak” ucap Maudy