
1 Bulan kemudian.
Pagi hari yang cerah, matahari bersinar dengan terang, sinarnya yang hangat mampu membuat tubuh Maudy terasa enak.
Saat ini Maudy sedang duduk di taman belakang, memandangi kolam ikan yang berenang kesana-kemari untuk mengejar makanan yang baru saja di tebarkan.
Sesekali Mauyd tersenyum, lalu entah kenapa ia membayangkan ikan mas yang begitu besar itu di goreng. Pasti akan sangat melezatkan.
"Gak mungkin di izinin sama Mas Rian kalau aku goreng ikan ini, inikan ikan-ikan kesayangan Papa"
"Bisa di pecat jadi menantu aku" batin Maudy bergidik ngeri.
Tapi bayangan tentang ikan Mas goreng dengan asap mengepul serta di taburi dengan sambal matah begitu mengguga selera. Bahkan Maudy sudah menelan ludah nya berkali-kali.
"Kamu kenapa Dy ?" tiba-tiba suara Alya mengagetkan Maudy.
Maudy menoleh kebelakang "Kak Alya"
Alya duduk di samping Maudy "Kenapa kok gelisa sekali ?" tanya Alya.
"Emm, itu Kak, Emmm anu" Maudy bingung harus bicara gimana. Takut nya keinginan nya tidak akan di setujui.
"Katakan Maudy ! kamu mau apa ?" Alya kembali bertanya.
"Aku mau ikan Mas goreng Kak" gumam Maudy tapi bisa di dengar oleh Alya.
Alya mengernyit menantap Maudy, karena tidak biasanya Maudy mau meminta makanan seperti ini, selama ini Maudy selalu makan apapun yang dimasak oleh Alya.
Tapi tak berapa lama Alya tersenyum.
"Apakah kamu sedang mengidam ?"tanya Alya.
Maudy langsung menoleh dan menatap wajah Alya. Lalu berpikir sejenak tentang kondisi tubuhnya akhir-akhir ini.
Pertama ia yang muda sekali lelah.
Kedua ia yang selalu ingin tidur tak peduli itu masih jam berapa, bahkan sekarang Maudy sudah jarang menyambut sang suami pulang.
Dan ketiga, ia menjadi malas ngapa-ngapain bahkan mandi saja Maudy enggan.
Namun jika memang Maudy hamil. Kenapa ia tak merasakan mual dan muntah, tidak merasakan yang namanya eneg dengan bau masakan.
Bahkan sekarang ***** makan Maudy meningkat drastis.
"Tapi kan aku gak hamil Kak ?" jawab Maudy.
"Sudah di tes belum ?"
Maudy menggeleng, ia takut mengetes nya karena tidak ingin kecewa, walau dalam hitungan nya ia sudah telat 2 Minggu.
"Tes aja dulu Dy ! siapa tau memang sedang ngisi" titah Alya.
"Nanti saja Kak. Aku masih takut kecewa"
"Ya sudah kalau begitu"
Hingga Alya teringat dengan keinginan Maudy yang ingin makan ikan mas goreng. Segera Alya berdiri dan berjalan kearah kolam ikan.
"Kakak mau ngapain?" tanya Maudy saat melihat Alya berjongkok sambil memegang sebuah jaring yang di gunakan menangkap semua ikan jika kolamnya sedang di bersihkan.
"Katanya mau ikan Mas goreng, ini kakak mau ngambil ikan nya"
"Ta--pi"
"Tapi apa Dy ?" tanya Alya.
"Kalau Papa marah bagaimana ?" tanya balik Maudy.
Alya tersenyum "Tidak Maudy, Papa tidak akan marah, dulu saat aku hamil Zio juga pernah masak ikan ini, rasanya begitu lezat" jelas Alya.
Mendengar kata lezat yang Alya ucapkan membuat Maudy hampir meneteskan air liurnya, ia mengelap bibirnya takut ludahnya jatuh sendiri.
Tiba-tiba sebuah Ikan berukuran besar berhasil Alya tangkap.
"Yeii, akhirnya dapat juga" teriak Alya dengan girang.
"Wah ikan nya besar sekali Kak" Maudy mendekat dan memandang takjub dengan ikan mas berukuran besar itu.
"Mari kita pesta !" seloroh Alya.
-
-
-
Sementara itu, di rumah Afnan dan Dewi...
"Udah kelihatan ya dek perutnya !" ucap Afnan sambil melingkarkan kedua tangan nya di perut sang istri.
Dewi memandang wajah suaminya di pantulan cermin, lalu tersenyum dengan begitu manis.
"Sepertinya memang beneran kembar Mas" balas Dewi.
"Memang nya di keluarga Mas ada yang kembar ?"
"Ada, Umi itu kembar sayang"
Afnan mengelus perut istrinya, telapak tangan yang besar itu selalu membuat Dewi merasa nyaman.
"Sehat selalu ya Sayang nya Abi" gumam Afnan.
"Aamiin" jawab Dewi langsung.
Tok--tok--tok.
Suara ketokan pintu membuat Afnan segera melepaskan pelukan nya, lalu berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
"Abi ngapain sih sama Bunda di kamar terus" tanya Alwi.
"Tidak ngapa-ngapain nak, memangnya Alwi mau apa ?"
"Mau main sama Abi !" rengek Alwi.
"Cup-cup, Anak Abi kangen ya sama Abi" seloroh Afnan "Ya udah yuk main" ajak Afnan.
Dewi tersenyum melihat kedekatan Afnan dan Alwi, walau sekarang ia sedang mengandung anak Afnan tapi tetap saja Afnan menyayangi Alwi dengan tulus. Mengajari Alwi tentang agama dan memperlakukan Alwi dengan sangat baik.
Bahkan Dewi tak pernah melihat Afnan membentak Alwi.
"Sayang aku kebawa dulu ya ! mau nemenin sang jagoan main" pamit Afnan.
"Iya Mas, nanti aku menyusul" jawab Dewi
Afnan menggendong Alwi menuruni anak tangga, ternyata Alwi mau main motor-motoran yang di belikan oleh Rian.
Setelah melihat bahan bakarnya, Afnan langsung menghidupkan motor itu.
"Nih udah, Alwi naik dulu biar Abi pegangin dari belakang !" Titah Afnan.
"Baik Bi"
Alwi naik keatas motor, sementara Afnan memegangi bagian belakang motornya, lalu Alwi mulai menarik gas dengan pelan-pelan.
"Bismillah dulu Nak !" ucap Afnan
Alwi langsung menurut, setelah membacakan bismillah, Alwi kembali menarik gas motornya hingga membuat motor itu berjalan dengan sangat pelan.
"Pelan-pelan saja Nak, jangan terburu-buru" seloroh Afnan
"Jangan di lepasin Bi"
"Iya, ini masih Abi pegangin"
"Alwi takut Bi"
"Makanya pelan-pelan aja Nak !"
Suara nyaring Alwi yang terus minta di pegangin menjadi pengisi di pagi hari itu, sinar matahari yang mulai menyemangat membuat tubuh Alwi bekeringat, begitupun dengan Afnan.
"Pegangin ya Bi aku mau berhenti !" titah Alwi.
"Pegang Rem yang kiri Nak, baru yang kanan, gas nya di turunkan !"
Alwi menuruti semua yang di katakan Afnan, sampai motor kecilnya berhenti dengan sempurna.
"Hebat anak Abi, udah bisa berhenti sendiri" puji Afnan.
"Tapi aku masih takut Bi"
"Tidak mengapa ! pelan-pelan pasti bisa"
Mereka berdua duduk di teras rumah, hingga kedatangan Dewi yang membawa dua jus jeruk.
"Wah, Bunda benar-benar tau ni kalau kita haus"
"Iya Bi"
Dewi memberikan Afnan dan Alwi satu orang satu gelas jus, lalu ikut duduk di samping sang suami.
Melihat sang istri hendak duduk Afnan langsung melepaskan sandalnya dan meletakkan di tempat yang akan Dewi duduki.
"Biar gak dingin!" ucap Afnan saat Dewi menatap kearahnya.
"Makasih Mas" bisik Dewi sembari tersenyum.
Afnan menghabiskan jus yang di buatkan istrinya "Makasih sayang, Jus nya segar banget sesegar hati Mas jika memandang wajahmu !" seloroh Afnan.
"Apa sih Mas, gak jelas ?" cibir Dewi
"Iya sayang Love you to" balas Afnan semakin gak jelas.
"Mas Afnan Iih" Dewi mencubit lengan sang suami.
"Aaww. Masya Allah nikmat nya cubitan sang istri"