
Setelah mengobrol dengan Seno Rian langsung pulang kerumah, bekerja di bawah emosi seperti bukan lah sesuatu yang menyenangkan. dirinya ingin tidur dan melupakan masalah ini sebentar.
Saat sampai dirumah Rian langsung di sambut oleh kedua keponakan nya. Namun kali ini Rian tak berminat untuk bercanda, bayangan ucapan Papa Maudy kembali melintas di pikiran nya.
“Tumben sudah Pulang ??”
Langkahnya terhenti saat mendengar pertanyaan dari Papa Bayu.
“Lagi gak mood Pa mau kerja” jawab Rian lalu kembali melanjutkan langkah kakinya untuk masuk kedalam kamar.
Papa Bayu hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari putra bungsunya tersebut.
“Apa lagi yang terjadi padamu Nak ??” batin Papa Bayu sedih.
Sementara itu..
Rian sedang duduk bersila di atas kasur tempat tidurnya. Ternyata keinginan nya untuk tidur bukan lah hal yang mudah ia lakukan. Mata nya sulit sekali untuk terpejam.
“Sialan, kenapa gue gak bisa ngelupain masalah itu” maki Rian dengan kesal.
Berulang kali ia mencoba untuk memejamkan mata namun selalu tidak bisa. Pikiran nya gelisah dan bayangan penolakan dari Papa Maudy sangat membuat dirinya sakit.
Hingga akhirnya Rian memutuskan untuk ke balkon kamarnya, semilir angin yang bertiup membuat pikiran nya sedikit tenang. Ia menengadahkan kepala melihat langit yang sedikit mendung. Mungkin akan segera turun hujan. Entahlah ia sendiri tak tahu hal itu.
Apa langit mendung karena tau kalau hati dan pikiran nya sedang kalut juga.
------
Hari ini Maudy tak di suruh untuk berangkat bekerja. Ia di kurung oleh sang Papa didalam kamar hanya karena Maudy menolak jika harus putus hubungan dengan Rian.
Apa salah status Rian ?? kenapa Papa begitu tak suka dengan Rian yang sudah menjadi seorang duda. ??
Air mata nya tak henti untuk menetes. Pikiran nya selalu tertuju dengan Rian. Pasti saat ini laki-laki itu sedang terluka karena ucapan dari Papa nya.
“Papa kertelaluan, bisa-bisanya Papa tidak merestui hubungan aku sama Mas Rian. Papa jahat” ucap Maudy dengan Air mata berderai.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Ada Mama yang sedang berdiri sambil membawa makanan untuk Maudy.
“Makan dulu Nak, tadi kan Maudy belum sarapan” ucap Mama sambil meletakkan nampan berisi makanan di atas meja nakas.
“Maudy gak laper Ma” jawab Maudy dengan cepat.
“Kalau kamu gak makan nanti sakit, Nanti Papa malah tambah marah sama Maudy”
“Biarin Ma, biar Maudy gak ada sekalian biar Papa puas”
“Jangan bicara seperti itu Maudy, !! Mama gak suka dengarnya”
Setelah mengatakan itu Mama langsung pergi dari kamarnya. Maudy pun tak peduli ia masih begitu marah dengan kedua orang tuanya terutama Papa.
Mungkin dengan mogok makan dan tak bicara yang sopan kepada Mama dan Papa akan membuat hubungan nya dan Rian di restui. Bodoh amat walau ini akan terlihat seperti anak kecil.
-------
Namun ternyata Maudy salah saat jam sudah menunjukan pukul 03 soreh tak ada lagi yang datang kekamarnya. Sesekali matanya melirik makanan yang sudah dingin. Dari tadi perutnya sudah minta diisi para cacing didalam perut sudah minta jatah.
Namun Maudy tetap keras kepala, Maudy tetap dengan keinginan nya untuk mogok makan sampai Papa bilang kalau Papa merestui hubungan Maudy dan Rian barulah Maudy akan makan.
Di luar hujan turun dengan deras. Suara petir saling menyambar. Maudy bangkit dari duduknya lalu melihat cuaca di luar. Langit yang mendung mungkin karena sedang hujan deras.
“Aku harus bagaimana supaya bisa menemui Mas Rian. Aku harus nemuin dia” batin Maudy.
“Tunggu sebentar lagi. Kalau tidak reda juga aku akan nekat untuk kerumah Mas Rian, tidak apa-apa kalau hujan deras seperti ini” ucap Maudy lagi.
Benar saja selama hampir satu jam menunggu, Hujan tak kunjung reda. Akhirnya Maudy nekat untuk keluar walau cuacanya hujan deras seperti ini.
Maudy langsung memakai tas nya, kemudian keluar kamar yang kebetulan tak lagi Mama kunci. Ia mengendap-ngendap turun supaya tak katahuan oleh Mama dan Papa.
“Aman“ ujar Maudy karena tak melihat satu orang pun di ruang keluarga ataupun dapur. Mungkin dengan cuaca seperti ini membuat para penghuni rumah memilih untuk berada didalam kamar.
“Eh Non Maudy mau kemana ??” tanya Pak Mamat.
Maudy langsung menoleh kebelakang, ia melihat Pak Mamat sedang menatap nya dengan heran.
“Saya mau keluar sebentar ada kepentingan”
“Tapi ini hujan Non nanti bapak marah”
“Saya sudah izin kok”
Pak Mamat ragu untuk mengizinkan Maudy pergi menerobos hujan yang begitu deras. Namun ia juga bingung kalau harus menahan Maudy secara Maudy adalah anak majikan nya.
“Ya sudah Non hati-hati di jalan” ucap Pak Mamat lagi.
“Iya Pak.makasih” Mauyd tersenyum senang karena sekarang telah lolos oleh pertanyaan dari Pak Mamat.
Beruntung taksi Online yang Maudy pesan sudah sampai di depan rumah. Ia sengaja tak membawa mobil karena tidak ingin ketahuan oleh Mama dan Papa.
“Mau kemana mbak ??” tanya sang sopir taksi.
“Ke jl. ****. Pak” jawab Maudy menyebutkan nama jalan rumah Rian. Maudy mendapat kan alamat Rian dari Seno.
Ternyata menempuh perjalanan di tengah derasnya hujan bukan lah sesuatu yang baik. Terbukti banyak sekali jalanan yang terendam banjir membuat perjalanan nya menuju rumah Rian terhambat.
“Jakart-jakarta. Hujan bentar aja udah banjir” Gumam sang sopir taksi.
Maudy hanya bisa terdiam. Pikiran nya tak tenang. Rasanya ingin sekali untuk segera sampai di rumah Rian lalu memeluk laki-laki itu dengan sangat erat..
Eh tapi tunggu. Rian tinggal sama siapa di rumah ??
“Aduh kalau banyak orang di rumah nya bagaimana ?? kan malu aku, masa iya cewek ngejar cowok sih” ucap Maudy dengan pelan.
“Apa mbak ??” tanya sang sopir taksi.
“Hehe enggak ada apa-apa Pak.” jawab Maudy sambil meringis.
Hingga akhirnya mobil sudah sampai tepat di depan rumah Rian. Entah kenapa jantungnya berpacu dengan kuat padahal saat hendak ke sini tadi Maudy tak merasakan apa-apa.
“Sudah sampai mbak” ucap Sopir taksi tersebut.
“Tunggu bentar Pak, saya telepon dulu orang nya”
“Gak masuk aja Mbak ?”
“Bentar Pak. Gak lama kok”
Maudy segera menghubungi nomor Rian. Beruntung Rian langsung menjawab telepon darinya.
“Iya dek ada apa ??” ucap Rian di seberang sana.
“Aku di depan rumah kamu. Keluar sekarang”
Tuuut.
Maudy langsung memutuskan panggilan teleponnya. Hanya tinggal menunggu Rian akan segera keluar dari rumahnya.
-
-
-
BERSAMBUNG...
MAAF YA 2 HARI GAK UPDATE.BANYAK BANGET ALANGAN NYA.