
Satu minggu kemudian, Afnan kembali menemui Ustadz Rahman, tapi sekarang ia harus menunggu karena Ustadz Rahman sedang tausyiah di Masjid terdekat, awalnya memang Afnan yang akan tausyiah tapi Afnan menolak karena ia baru saja pulang keindonesia.
Selama menunggu Afnan duduk sambil memikirkan jawaban yang akan ia ucapkan kepada sang Ayah.
"Apakah ini yang terbaik" batin Afnan.
Ia akan menerima perjodoha ini, menikahi perempuan yang baru saja berpisah dengan suaminya. Besar kemungkinan jika wanita yang akan menjadi istrinya kelak masih menyimpan rasa untuk mantan suaminya.
Sudah 3 malam Afnan bermimpi mengelus rambut seseorang yang terus menangis saat bertemu dengan Afnan di dalam mimpi.
"Semoga ini jalan terbaik ya Allah, lancarkanlah niat baik hamba" kembali Afnan membatin.
Hingga satu jam kemudian Ustadz Rahman pulang, ia langsung duduk di hadapan anaknya.
"Ada apa Nak ?" tanya Ustadz Rahman.
"Afnan sudah ada jawaban nya Abi" jawab Afnan tegas.
"Katakan ! apa jawaban nya, Abi akan menerima dan mendukung setiap keputusan mu" tegas Ustadz Rahman.
Sejenak Afnan terdiam, lalu kembali menyebut nama Allah. "Atas izin Allah Afnan siap menerima perjodohan ini dan Afnan juga siap menjadi suaminya"
Ustadz Rahman langsung tersenyum, ia sebenarnya sudah yakin kalau Afnan tidak mungkin menolak permintaan nya.
"Nanti malam Abi akan menemui Pak Edi, Abi ingin pernikahan kalian di selenggarakan secepatnya"
"Iya Abi, setelah masa iddah wanita itu selesai Afnan akan melafaskan ijab kabul"
Ustadz Rahman kembali tersenyum "Iya Nak, masa Iddahnya tinggal 60 hari lagi, sekitar 2 bulan jadi persiapkan diri kamu untuk menikah" ujar Ustadz Rahman.
Afnan mengangguk "Insya Allah Abi"
Setelah berbincang, Ustadz Rahman langsung meminta bertemu dengan Pak Edi yaitu Papanya Dewi.
Di sebuah masjid terdekat Ustadz Rahman dan Pak Edi bertemu. Keduanya duduk bersila sambil berhadapan.
"Ada apa ya Ustadz Rahman ? kenapa meminta bertemu disini ?" tanya Pak Edi.
"Begini, saya ingin menyampaikan kalau putra saya menerima perjodohan ini, dan ia siap menikahi putri bapak setelah masa Iddahnya selesai"
Mendengar itu Pak Edi langsung tersenyum senang, putrinya anak di nikahi oleh seorang laki-laki yang baik, Pak Edi ingin membuktikan kepada Rian jika anaknya bisa hidup bahagia bersama suami barunya.
"Alhamdulillah, saya sangat senang sekali mendengarnya Ustadz. Lalu mengenai masalalu putrinya saya apakah Nak Afnan menerima" tanya Pak Edi.
"Insya Allah, anak saya ikhlas menerima semuanya"
"Alhamdulillah"
Pak Edi tak henti-hentinya mengucapkan syukur.
"Saya akan menyampaikan berita bahagia ini kepada istri dan anak saya. Dewi pasti akan bahagia sekali karena akan menikah dengan Afnan"
Selama satu jam berbincang, Pak Edi pamit pulang, rasanya ia sudah tak sabar menyampaikan berita bahagia ini.
"Ma" panggil Papa Edi setelah ia sampai di rumah.
Mama Mira terbirit-birit karena mendengar panggilan sang suami yang sepertinya ada hal penting "Ada apa sih Pa ? kenapa teriak-teriak ?" tanya Mama Mira.
"Papa ada berita bahagia Ma"
"Apa ?"
"Benaekah Pa ? Papa tidak bohong kan ?"
Papa Edi menggeleng, membuat Mama Mira tersenyum senang.
Sementara itu Dewi yang akan mengambil air minum mendengar dengan jelas tentang perjodohan dirinya dengan laki-laki yang belum ia temui.
Satu gelas yang ada di tangan nya jatuh dan pecah berkeping-keping, Papa Edi dan Mama Mira terkejut mendengarnya. Mereka segera mendekati Dewi yang memandang mereka dengan tatapan tajam.
"Apa maksudnya Ma, Pa ?" tanya Dewi.
"Kamu akan di nikahi anak Ustadz Nak, Papa Yakin dia lebih baik dari bajingan itu" jawab papa Edi, bahkan saking bencinya Papa Edi kepada Rian ia enggan untuk menyebut namanya.
"Iya Nak, maafkan Papa kalau tidak membicarakan ini terlebih dahulu, Papa melakukan ini demi kebaikan kamu, Papa dan Mama ingin kamu bangkit dan melupakan Rian" sahut Mama Mira.
"Tapi aku belum mau menikah Pa, Ma. Aku belum bisa menata hatiku untuk menerima keberadaan orang baru, perpisahan ku dengan Mas Rian begitu menyakitkan, kenapa kalian gak ngerti" balas Dewi.
"Afnan akan menyembuhkan luka hati kamu Nak, dia pria yang baik, taat agama, anak Ustadz lagi" Mama Mira kembali memperkenalkan Afnan pada Dewi.
"Kalian gak ngerti bagaimana di posisi Dewi"
Dewi langsung berlari meninggalkan kedua orang tuanya, bahkan panggilan sang Papa saja tak ia hiraukan.
Brraaakk.
Dewi menutup pintu kamarnya dengan kencang, menimbulkan suara yang membuat Papa dan Mama nya kaget.
"Biarkan saja Ma, apapun alasan nya Dewi harus tetap menikah dengan Afnan !" ucap Papa Edi.
"Iya Pa" Mama Mira hanya bisa menurut.
Di dalam kamar tangisan Dewi pecah, kehidupan yang ia jalani begitu rumit, berpisah dengan Rian dan harus di jodohkan dengan pria yang belum ia kenal.
Dewi hanya belum sanggup menerima orang baru di kehidupan nya, apalagi ia akan menjelma sebagai sosok suami. Sikap Rian membuat Dewi sedikit depresi bahkan tak jarang Dewi bermimpi masih di perlakukan kasar oleh Rian.
Tapi sekarang Papa dan Mamanya meminta ia menikah lagi, mereka tak tau bagaimana di posisi Dewi saat ini. Melawan rasa sakit seorang diri dan harus menyembuhka luka teramat dalam yang Rian torehkan.
"Kenapa kalian gak ngerti posisi aku"
Dewi kembali memukul dadanya yang setiap hari kian terasa sesak. Ia sudah menjanda satu bulan seminggu, tapi sosok Rian belum bisa dia lupakan barang sedikitpun.
"Aku cuman ingin menata hatiku dulu, aku belum memikirkan untuk menikah, tapi kenapa semua nya tak mengerti"
Sekarang Dewi memandangi penampilan nya di kaca hias, wajah yang pucat, bentuk tubuh yang semakin kurus dan kantung mata yang sedikit hitam. Ia sekarang sudah seperti seorang monster yang paling menyedihkan.
Sesakit inikah jalan hidup yang ia jalani, isakan tangis yang memilukan menjadi pemecah di keheningan kamarnya.
"Pokoknya aku gak mau nikah lagi"
"Lagian rasa cinta ku sama Mas Rian masih utuh, bukan hal yang mudah untuk melupakan pria itu"
"Sebanyak apapun luka yang ia torehkan, Mas Rian tetap pernah jadi suami yang baik untukku"
Ia menyusut air matanya. Tapi apa yang akan ia lakukan untuk menolak perjodohan ini. Kedua orang tuanya adalah orang yang tegas apalagi sang Papa.
"Aaaaahhhh" Dewi berteriak dan melempar perlengkapan kosmetiknya hingga pecah dan berantakan di lantai.
"Kenapa harus aku yang menerima semua ini, ? kenapa ya Allah ?"
Terkadang saking pedihnya luka yang ia alami pernah terbesit di benak Dewi ingin bunuh diri, tapi selalu gagal saat Dewi menatap wajah sang Mama.