
Setelah Kenan memberikan alat tes kehamilan, Dewi segera mencoba nya dengan bantuan Alya, di dalam kamar mandi Alya dan Dewi menunggu hasilnya, sementara yang lainnya menunggu di luar termasuk Papa Bayu.
Rian merasa deg-deg kan dengan hasil nya.
Tidak berapa lama Alya dan Dewi keluar, Kenan dan Rian segera mendekat.
“Bagaimana hasilnya ??” tanya Rian ke sang istri.
“Ini hasilnya” jawab Dewi sambil memberikan Test Pack kepada sang Suami.
Rian mengamati hasilnya. Sesaat kemudian dia tersenyum melihat garis merah ada dua di alat tes kehamilan itu.
“Kamu hamil Dek ?? Ya Allah, Alhamdulillah” ucap Rian senang..
“Selamat ya Rian, sebentar lagi kamu akan jadi Ayah, di jaga Dewi nya” ujar Alya memberikan semangat untuk adik iparnya.
“Iya Kak Alya, makasih, Rian janji akan menjaga Dewi dan calon anak Rian dengan baik”
Papa Bayu mendekat, dia langsung memeluk putra bungsunya.
“Selamat nak sebentar lagi gelar mu akan bertamba”
Rian pun membalas pelukan Papanya, dia mengucapkan terima kasih dan meminta doa supaya kandungan Dewi baik-baik saja, bukan hanya Rian yang Papa Bayu peluk Kenan pun juga. Apalagi Kenan yang tinggal menghitung hari menunggu buah hati nya lahir.
Hingga pagi itu di warnai dengan tangis bahagia karena mendapat kabar baik yaitu kehamilan Dewi.
-
-
Di bengkel Zaki, ada Cela yang sedang membantu mencatat pengeluaran serta pemasukan dari hasil bengkel suaminya.
Sementara Zaki sedang uring-uringan, dia terus gelisa sambi memandang ke arah istrinya yang terlihat santai.
“Pokoknya malam ini harus berhasil, masa iya nikah udah mau seminggu tapi gue masih aja perjaka. kan enggak banget.” batin Zaki.
“Abang !!” panggil Cela kemudian.
Zaki mendekat, dia duduk di samping istrinya.
“Kenapa dek ??”
“Kamu tu yang kenapa ?? kok dari tadi gelisa terus”
“Anu Abang lagi mikirin bagaimana supaya nanti malam berhasil”
Perkataan Zaki membuat Cela mengernyit bingung, dia memandang wajah suaminya dengan tatapan heran.
“Memangnya nanti malam mau ngapain ??” tanya Cela heran.
“Kok pakai nanya mau ngapain sih ?? ya jelas mau malam pertama Dek” jawab Zaki sedikit kesal.
Nasib nya menikah dengan boca, membuat Zaki harus banyak mengala, Cela benar-benar masih polos, bahkan Zaki masih ingat semalam saat dia ingin meminta hak nya sebagai suami dengan polosnya Cela menjawab.
Aku masih anak-anak Bang, enggak takut di hukum sama negara.
Itu semua membuat Zaki frustasi, Dia benar-benar gak ngerti dengan jalan pikiran istrinya, Zaki tidak tahu Cela itu memang masih polos atau memang dia hanya berpura-pura karena belum sanggup menyerahkan keperawanan nya kepada Zaki.
“Ku kasih obat perangsang kau nanti” gumam Zaki.
“Abang kok buru-buru sih ?? aku kan masih ingin ngobrol sama Ibu” tanya Cela heran .
“Ngobrolnya bisa besok, tapi kalau yang ini gak bisa di tunda lagi, Abang capek nunda terus”
“Iya makanya jangan di tunda”
Jawaban Cela membuat Zaki tersenyum senang, dia pikir istrinya juga menginginkan hal yang sama.
“Kamu juga gak mau kan nundanya ??” tanya Zaki dengan tatapan genitnya
“Memangnya yang di maksud Abang nunda apa ??”
“Nunda malam pertama Dek” bisik Zaki di telinga Cela.
Perlakukan Zaki membuat sekujur tubuh Cela membeku seketika, dara nya seperti berhenti mengalir. Degup jantung nya berdetak kencang.
“Apa ini sudah saat nya aku menyerahkan semuanya kepada Bang Zaki ?? ” tanya Cela pada diri sendiri.
Zaki mencium kening Cela, itu bukan pertama kali karena selama beberapa hari ini Zaki sering melakukan nya dengan alasan penyambutan di pagi hari, Ciuman Zaki turun kemata, ke kedua pipi hingga Zaki menatap bibir mungil yang berwarna pink alami itu.
Sementara Cela hanya diam, pasra dengan apa yang akan di lakukan suaminya. Beribu cara dia menghindar Zaki akan terus mengejarnya, lagian itu sudah menjadi kewajiban nya melayani Zaki.
Zaki adalah suaminya sahnya, dan Cela tidak boleh menolak ataupun membantahnya, karena jika Cela melakukan itu maka Cela akan mendapat dosa..
“Tapi aku takut Bang, kata orang-orang itu sangat sakit” ucap Cela terbata-bata.
“Jangan takut sayang !!! Abang janji akan melakukan nya dengan sangat hati-hati percaya sama Abang”
Dengan ragu dan pelan, Cela mengangguk toh itu hanya kata orang Cela belum perna merasakan nya, jika dia tidak melakukan nya maka Cela tidak akan tahu seperti apa rasanya.
Mendapatkan lampu hijau dari Cela, segera Zaki mengangkat tubuh istrinya naik ke atas kasur, Zaki menindih tubuh Cela, sesaat mata mereka saling pandang. Wajah Zaki semakin dekat sampai akhirnya bibir Zaki menyentuh bibir istrinya, awalnya Zaki masih diam namun kelamaan Zaki mulai menggerakan bibirnya, dia dapat merasakan kalau istrinya masih sangat kaku.
Ciuman itu terus menuntut, Cela mulai membalas mencium bibir suaminya keduanya saling me lu mat, bertukar saliva masing-masing. Cela memukul dada suaminya dan akhirnya Zaki melepaskan pa gu tan nya.
“Aku gak bisa nafas” ucap Cela ngos-ngosan.
Akan tetapi Zaki tak peduli dia sudah di penuhi dengan nafsu kembali dia me lu mat bibir istrinya. Tangan Zaki tak tinggal diam dia membuka satu persatu kancing baju piayama yang di kenakan istrinya. jari jemarinya meraba hingga menggapai sesuatu yang bersembunyi di dalam sana. Zaki memainkan ****** susu milik istrinya dan itu membuat Cela kelonjotan, tubuhnya menegang saat merasakan sesuatu yang sulit untuk di jelaskan.
“Aaaahhhh” buru-buru Cela menutup mulutnya karena tak sengaja mendesah.
Zaki tersenyum dia suka suara itu.
“Mendesa saja sayang, aku suka itu” bisik Zaki dengan suara berat.
Cela hanya memandang wajah tampan suaminya. Saat Zaki memainkan pucuk bukit kembarnya Cela meremas kepala suaminya. Geli namun nikmat itulah yang Cela rasakan.
Cela sudah tidak bisa menahannya dia menginginkan hal yang lebih, dan Zaki mengetahui hal yang itu, segera dia melepaskan seluruh celana istrinya begitupun dengannya, mata Zaki tak berkedip saat melihat sesuatu yang membuatnya uring-uringan selama ini.
Zaki memandang wajah Cela untuk meminta persetujuan, dan akhirnya Cela mengangguk, Zaki membuka kedua paha istrinya dan mengarahkan miliknya disana.
“Saa----kit Bang, Hentikan !!”
“Tahan dek sakit gak akan lama nanti tinggal enaknya doang”
Zaki masih berusaha menerobos masuk kedalam sana, tak peduli dengan jeritan dari istrinya, hingga akhirnya dia berhasil menerobos gawang itu, air mata Cela menetes Zaki menghapusnya dengan pelan, dia belum menggerakan pinggangnya sama sekali karena Cela masih meringis kesakitan.
Hingga malam itu adalah malam panas yang di lalui oleh Zaki dan Cela.