Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 58


Rian memasuki ruang bersalin, ia ingin melihat istri dan anaknya. Namun saat berada di ruangan itu Maudy malah bersikap cuek kepada suaminya. Maudy merasa masih sangat jengkel sama Rian. Harusnya pas melahirkan suaminya berada di sampingnya seperti yang ia dambakan selama ini. Akan tetapi Rian malah jatuh Pingsan.


Selesai mengadzani anaknya, Rian mendekati sang istri.


"Sayang maafin Mas ya !" Rian merasa sangat bersalah.


"Hemmm" jawab Maudy.


"Kok Hemmm terus sih ! ayo dong Dek bicara sama Mas"


Maudy hanya diam saja, ia sibuk menyusui putrinya yang belum di beri nama.


"Dek" Rian kembali merayu.


"Apa sih Mas" pekik Maudy masih merasa kesal.


"Ya Allah, bagaimana caranya supaya istri ku mau memaafkan aku ?" batin Rian


Rian mengusap wajanya dengan gusar, karena sampai siang menjelang sore pun Maudy belum juga mau bicara dengan nua.


Di dalam box bayi ada putrinya bersama dengan Maudy sedang terlelap dengan sangat tenang. Begitupun dengan Maudy yang sudah tidur juga.


Rian duduk di sofa di ruangan Maudy karena sekarang Maudy dan anaknya sudah di pindahkan keruang rawat VVIP khusus keluarga Abraham.


Melihat istrinya sedang tidur dengan wajah yang masih pucat entah kenapa Rian malah terpikir dengan Dewi mantan istrinya.


"Bagaimana Dewi dulu ya saat melahirkan Alwi, dia pasti sangat terluka saa itu. Melihat Maudy seperti ini saja sudah membuatku sakit apalagi saat aku tau dulu Dewi melahirkan tanpa di dampingi suami" batin Rian


Tes.


Setetes air mata membasahi pipi Rian. Begitu besar rasa bersalah nya pada Dewi dan Alwi karena membiarkan mereka berjuang sendiri.


Andai saja malam itu ia tak pernah mengatakan hal yang paling ia sesali Dewi dan Alwi tidak akan menjadi korban. Tapi kemarahan nya karena kehilangan calon anak pertamanya bersama Dewi membuat Rian hilang kendali.


Dulu Rian berpikir saat berpisah dengan Dewi semuanya akan baik-baik saja, namun Rian tak pernah menyangka kalau di balik perpisahan nya membuat dirinya begitu menderita begitupun dengan Dewi.


Hingga bayangan masa lalu dimana ia masih berpcaran dengan Dewi dulu kembali terlintas.


"Astaghfirullah" Rian kembali mengusap wajanya saat kembali mengingat kebersamaan nya dengan Dewi.


"Harusnya aku tidak memikirkan wanita lain saat istriku baru saja melahirkan anakku" gumam Rian.


Rian bangkit dari duduknya karena mendengar suara tangisan anak nya. Sedangkan Maudy masih tidur dengan lelap.


"Cup-cup anak Papa, kenapa nangis" Rian mengangkat bayi mungil itu dan menggendongnya dengan sangat hati-hati.


"Haus ya Nak ? sebentar ya kita bangunin Mama dulu"


Ceklek.


Pintu ruangan Maudy terbuka, ada kedua orang tua Maudy yang kembali datang.


"Nangis ya ?" tanya Mama Melda.


Rian mengangguk "Laper paling Ma. Ini Rian mau bangunin Maudy"


Mama Melda menatap kearah putrinya yang masih tertidur dengan lelap. Bahkan saat suara anaknya melengking tak membuat Maudy membuka mata.


"Nak bangun dulu" Mama Melda menggoyangkan tubuh Maudy


"Emmmm" Maudy menggeliat.


"Bangun dulu Nak, itu anaknya mau nyusu" ucap Mama Melda dengan lembut.


"Iya Ma" jawab Maudy dengan suara serak.


Dengan kepala yang masih terasa pusing, Maudy bangun dari tidurnya..


"Sini Mas, biar aku susuin dulu" pinta Maudy.


Rian memberikan putrinya kepada Maudy.


"Cantiknya Mama haus ya ?" ucap Maudy


Rian tersenyum, lalu ikut duduk di samping sang istri memandangi putrinya yang menyusu dengan kuat. Suara decapan sang anak membuat Rian terkekeh lucu.


"Kenapa tertawa Mas ? apa yang lucu ?" tanya Maudy heran.


"Lucu aja lihat dia nyusu, Mas jadi pengen juga.. Aawwwww" Rian menjerit sakit karena istrinya malah mencubit lengan nya dengan kuat.


"Sakit Dek" ucap Rian


"Lagian ngomongnya kok gak di filter sih" balas Maudy sengit.


"Hehe, maaf Dek"


Kemudian Maudy teringat kalau anaknya belum di beri nama.


"Siapa namanya Mas ? apa Mas sudah menyiapkan ?" tanya Maudy.


"Sudah dong" jawab Rian bangga.


"Namanya 'Annaisha Nura Abraham' panggilan nya Nura" jawab Rian.


Maudy tampak berpikir, lalu kemudian menyetujui nama yang di berikan sang suami.


"Hai Baby Nura, cantik nya Mama smeoga jadi anak yang sholeha ya" ucap Maudy kepada Baby Nura yang baru selesai menyusu.


Rian tersenyum, hidupnya terasa begitu lengkap sekarang. Mempunyai istri yang begitu mengerti dirinya, menerima setiap kekurangan Rian.. Dan sekarang ia sudah di anugerahi dua orang anak. Yaitu Alwi dan Nura walaupun beda ibu Rian berharap kedua anaknya akan akur nanti.


"Permisi" dokter Adinda datang.


"Iya dok" jawab Rian.


"Saya mau memeriksa keadaan Ibu Maudy dulu ya, sekaligus memeriksa baby nya"


"Silahkan"


Saat dokter Adinda memeriksa keadaan Maudy, Mama Melda menggedong baby Nura.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Sementara itu...


Di rumah Papa Bayu sedang di landa kebingungan karena tak menemukan dimana keberadaan wanita yang bernama Juminten tadi.


"Aiiisss. Aku harus cari dimana si Juminten ini" gumam Papa Bayu gusar.


Papa Bayu mengacak rambut nya frustasi. Cinta pada pandangan pertama kembali ia rasakan.


Ia memandangi foto istrinya "Apa kamu mengizinkan jika aku menikah lagi" tanya Papa Bayu.


"Ah lebih baik aku bicara dengan Kenan saja"


Papa Bayu keluar dari kamarnya, ia melihat ruang keluarga ternyata Kenan tidak ada.


"Pasti di ruang kerjanya" Kembali Papa Bayu berjalan menuju ruang kerja Kenan.


Ceklek.


Pintu ruangan itu di buka oleh Papa Bayu.


"Betulkan disini" ucap Papa Bayu.


Kenan mengernyit menatap sang Papa.


"Ada apa Pa ?" tanya Kenan.


"Papa mau bicara" jawab Papa Bayu.


Kenan menutup laptopnya terlebih dahulu sebelum bicara dengan sang Papa, pasti ada yang penting batin Kenan.


Papa Bayu duduk di sofa sembari menunggu Kenan. Setelah Kenan duduk di sampingnya entah kenapa Papa Bayu malah mendadak gugup.


"Ada apa Pa ?" tanya Kenan


"Emmm, anu itu. Emm anu Ken" tiba-tiba Papa Bayu menjadi gugup.


"Anu apa Pa ? kenapa gak jelas begini sih ?" Kenan semakin heran saja.


"Papa mau kamu mencari perempuan yang bernama Juminter"


Kening Rian menampakan lipatan yang banyak, lalu menatap sang Papa dengan bingung.


"Juminten siapa Pa ?" tanya Kenan semakin heran.


"Iya Juminten ken, alah mau Papa jelasin juga kamu gak bakalan kenal" jawab Papa Bayu.


"Lah terus ngapain nyuruh Kenan cari Juminten ? memangnya dia ngapain Papa ? nipu Papa gitu ?"


"Dia sudah membuat jantung Papa berdegup kencang Ken"


Mendengar itu Kenan menjadi panik, di apakanlah sang papa oleh Juminten.


"Dia sudah meracuni Papa begitu ?" tanya Kenan lalu meneliti tubuh sang Papa karena takut ada luka atau sejenisnya.


"Bukan" Papa Bayu menggelengkan kepalanya.


"Terus ?" Kenan semakin heran saja.


"Papa jatuh cinta sama Juminten" jawab Papa Bayu jujur.


"What ?" pekik Kenan kaget.


-


-


Nah loh mau di apakan Papa Bayu sama Kenan 😁