
Setelah mengadzani kedua putrinya Afnan kembali keruangan nya karena memang ia belum di perbolehkan untuk benyak bergerak. Afnan pun menurut ia juga begitu ingin cepat sembuh karena ingin menemani sang istri mengurus kedua putri mereka.
Tapi sebelum kembali keruangan Afnan meminta kepada dokter untuk di satukan ruangan bersama sang istri dan kedua anaknya.
Di dalam ruangan yang begitu besar terdapat dua ranjang dan bok bayi. Dimana Afnan dan Dewi berbaring disana sementara kedua anak mereka berada di dalam box bayi itu.
Saat itu Afnan sedang tertidur dengan nyenyak, mungkin karena efek obat sehingga membuat Afnan cepat sekali tertidur.
Dewi melirik suaminya, ia tersenyum dan rasanya begitu legah karena saat ini pujaan hatinya sudah sadarkan diri.
"Terima kasih ya Allah, terima kasih karena sudah mengembalikan suami hamba" batin Dewi.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan kedua bayi Dewi yang belum di beri nama. Dewi ingin Afnan yang memberi nama si kembar.
"Mungkin lapar nak" ucap Mama Mira yang langsung mengecek kedua cucunya.
"Siniin Ma, biar Dewi susuin dulu" pinta Dewi kemudian.
Mama Mira membawa anak pertama yang Dewi lahirkan lalu kemudian meletakkan nya di pangkuan Dewi yang saat ini sudah mengubah posisinya menjadi duduk.
Sementara bayi satunya di gendong Mama Mira sambil menunggu Dewi menyusui.
Samar-samar Afnan mendengar suara tangisan Bayi di lanjut dengan suara Mama Mira yang menenangkan. Afnan membuka matanya lalu menoleh kesamping dimana istrinya sedang menyusui. Lalu beralih kepada Mama Mira yang tengah menggendong anak keduanya.
"Rewel ya Ma" ucap Afnan tiba-tiba.
Mama Mira terkejut " biasa Nak, namanya juga bayi mungkin ya laper" jawab Mama Mira.
Afnan menguba posisi menjadi duduk dengan sangat pelan.
"Siniin Ma, biar Afnan yang gendong" pinta Afnan .
"Yakin bisa Mas ?" sahut Dewi yang nampak ragu.
"Kamu meragukan keahlian Mas Sayang ? coba ingat bagaimana Mas membesarkan Alwi dulu" jawab Afnan..
Dewi terkekeh "Iya-iya yang jago" balas Dewi dengan wajah di buat seimut mungkin.
Afnan tersenyum lalu meraih bayi mungil itu di gendongan Mama Mira.
"Bismillah" gumam Afnan saat menggendong bayinya.
"Anak Abi kenapa rewel ? laper atau kangen sama Abi ?" tanya Afnan pada bayi yang belum tau apa-apa itu.
"Jangan rewel ya Nak, kalau mau nyusu gantian sama Kakak"
Hingga Afnan melantunkan sholawat nabi, yang membuat bayi mungil itu tampak terdiam dengan tenang.
"Mau di beri nama siapa mereka Mas ?" tanya Dewi setelah Afnan selesai bersholawat
Afnan tampak berpikir, lalu kemudian tersenyum.
"Untuk putri kita yang pertama namanya ' Maisa Nurul Zakia' dan untuk putri kita yang kedua namanya 'Maira Nurul Zarina' " ucap Afnan.
"Nama panggilan nya apa Mas ?" tanya Dewi.
"Arin dan Kia" jawab Afnan.
"Enggak Maisa dan Maira saja Mas biar enak gitu ?"
"Tidak Dek, wajah mereka aja beda jadi panggilan nya Arin dan Kia"
"Nama nya bagus kok Nak" sahut Mama Mira.
Afnan tersenyum begitupun dengan Dewi.
"Makasih Ma" balas Afnan.
"Wah Baby Arin udah selesai enen nya, sekarang giliran baby Kia" seloroh Dewi.
Mama Mira mengambil alih menggendong Baby Arin lalu meletakkan kembali ke dalam Box, terus beralih mengambil baby Kia di pangkuan Afnan.
"Sama Bunda dulu ya Nak !" ucap Afnan, tak lupa mencium kening baby Kia sebentar.
-
-
Sementara itu Rian dan Maudy sedang belanja perlengkapan calon anaknya. Bersama Kenan dan juga Alya. Karena Alwi dan Zio ikut sementara Keyla bermain bersama Jihan di rumah Aska.
"Ini bagus gak dek ?" tanya Rian sembari menunjuk kasur bayi motif hello kitty sesuai dengan anaknya yang perempuan. Pasti akan sangat suka dengan warna pink.
"Bagus Mas" jawab Maudy.
"Ok pilih yang ini" ujar Rian.
Setelah mendapatkan kasur bayi, mereka beralih mencari pakaian bayi.
Maudy terlihat begitu semangat apalagi pakaian itu terlihat sangat lucu dan menarik perhatian.
"Aku mau ini" tunjuk Maudy pada jaket bayi yang berbahan rajut.
"Boleh sayang" jawab Rian.
Puas berbelanja mereka semua ke kafe untuk makan baru akan ketempat Aska untuk menjemput Keyla.
"Alwi mau pesan apa Nak ?" tanya Rian.
"Ok"
Rian dan Kenan memesan makanan. Sementara Maudy duduk bersandar karena rasanya begitu lelah habis keliling. Tapi puas dengan hasil yang di dapat.
"Capek ya Dy ?" tanya Alya.
"Iya Kak, lumayan"
Alya tersenyum "Kalau capek mending belanja online saja Dy, jadi gak perlu keliling seperti tadi"
"Tapi kalau belanja online gak puas rasanya Kak, lebih puas kalau ketokonya langsung"
Alya menganggukan kepalanya, tidak berapa lama Kenan dan Rian kembali.
"Tunggu sebentar lagi ya !" ucap Kenan kepada Zio dan Alwi..
"Iya Dad"
"Iya Paman"
Jawab Zio dan Alwi serempak.
Seorang pelayan datang dengan membawa pesanan mereka. Alwi dan Zio begitu lahap memakan makanan tersebut.
"Enak ?" tanya Rian.
"Enak Pa"
"Enak dong Om"
-
-
Didalam perjalanan pulang ponsel milik Rian berdering, Maudy langsung melihat siapa yang menelpon.
"Papa nya mbak Dewi Mas" ucap Dewi kepada sang suami.
"Angkat dek !" titah Rian.
Maudy langsung menjawab panggilan telepon dari Papa Edi.
"Halo Assalamualaikum" suara Papa Edi di seberang sana.
"Waalaikumsalam" jawab Maudy.
"Dengan mbak Maudy ya ?"
"Iya Om, saya Maudy"
"Rian mana ya ?"
"Lagi nyetir Om, ada apa ya ?"
"Begini saya cuman mau bilang besok apa bisa mengantarkan Alwi ke sini, karena Afnan sudah sadarkan diri"
"Mas Afnan sudah sadar Om ?" tanya Maudy balik membuat Rian terlonjak kaget, beruntung Alwi satu mobil dengan Kenan dan Alya.
"Iya Alhamdulillah"
"Baik Om, besok Alwi di antar sama suami saya kesana"
"Terima kasih atas pengertian nya mbak Dewi"
"Sama-sama Om"
Setelah panggilan terputus.
"Mas Afnan sudah sadar dek ?" tanya Rian kepada Maudy.
"Iya Mas. Besok mereka mau Alwi diantar" ucap Maudy.
Rian terdiam seketika.. Selama ini ia sudah begitu nyaman Alwi ada di rumahnya. Dan rasanya tidak tega jika Alwi akan pulang secepat ini.
"Mas" panggil Maudy karena sang suami hanya diam saja.
"Hemmm"
"Kenapa diam sih ?"
"Enggak papa dek"
"Gak rela ya kalau Alwi pulang" tanya Maudy seolah tau apa yang di pikirkan suaminya.
"Mungkin Mas jahat dek kalau gak biarin Alwi pulang, apalagi sekarang Mas Afnan barusan sadar mungkin mereka kangen sama Alwi"
Maudy tersenyum kemudian mengelus lengan sang suami.
"Jadi besok Mas akan nganterin Alwi ?" tanya Maudy.
"Tidak ! Bukan maksud mas ingin menahan Alwi hanya saja disana di rumah sakit dan banyak penyakit berbahaya. Mas tidak ingin kalau Alwi sakit. Mas janji akan mengantarkan Alwi pulang tapi bukan kesana melainkan kerumah Dewi" jelas Rian
.