
Dewi terus mengikuti para lelaki yang membawa tubuh suaminya. Tangisnya semakin pecah saat melihat Afnan dengan wajah penuh luka serta kebiruan.
"Ini suamiku" ucap Dewi kepada semua orang yang ada disana.
"Coba periksa masih hidup apa sudah meninggal !" perintah seseorang laki-laki.
Semuanya langsung mengecek keadaan Afnan, sementara Dewi berdiri dengan tubub bergetar hebat. Ia harus menyiapkan diri jika kemungkinan sang suami telah tiada.
"Ini kejaiban. Dia masih hidup" seru seseorang yang berhasil membuat Dewi terdiam seketika.
"Benarkah ? suami saya masih hidup ?" tanya Dewi.
"Iya. Suami Ibu masih hidup tapi dia begitu lemah"
"Ayo bawa kerumah sakit. Ia harus di beri pertolongan" pinta seorang polisi.
Dewi langsung memeluk tubuh Mama Mira, sambil menatap suaminya kembali di bawa semua orang menuju mobil.
"Ayo kita ikuti mereka" ajak Papa Edi.
Dewi mengangguk, ia langsung berjalan dengan cepat menuju dimana mobil sang Papa, setelah itu Papa Edi mengikuti mobil ambulance yang membawa Afnan.
"*Selamatkan suamiku Ya Allah !"
"Tolong selamatkan dia !"
"Hamba masih sangat membutuhkan dia* !"
Doa demi doa terus di panjatkan Dewi dalam hatinya. Ia begitu berharap Afnan kembali sadar. Entah bagaimana cara Afnan menyelamatkan diri.
Tapi melihat rompi darurat yang di kenakan Afnan sudah berhasil membuat Dewi percaya jika suaminya tidak ingin meninggalkan nya.
"Makasih sudah berjuang untuk ku Mas" batin Dewi.
Mobil mereka memasuki rumah sakit terbesar di kota itu. Lalu turun untuk kembali mengikuti beberapa orang suster yang kini telah di tugaskan oleh Polisi untuk memberikan pertolongan kepada Afnan.
Dewi dan kedua orang tuanya serta beberapa orang polisi masih menunggu di depan ruangan IGD. Dewi begitu gelisa apalagi sudah satu jam sang dokter menangani Afnan namun tak kunjung juga keluar.
"Kenapa lama sekali ya Ma" tanya Dewi pada Mama Mira.
Mama Mira mengelus punggung Dewi "Sabar Nak. Dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan Afnan"
Hingga.
Ceklek.
Terdengar suara pintu terbuka. Secepat kilat Dewi berdiri lalu mendekati sang dokter.
"Bagaimana keadaan suami saya dok ?"
"Dia baik-baik saja kan ?"
"Dia masih hidup kan ?"
Mama Mira memengang lengan Dewi untuk menghentikan pertanyaan beruntun yang di ucapkan oleh Dewi.
"Sabar Nak ! biarkan dokter yang menjelaskan semuanya !" bisik Mama Mira.
Dewi mengangguk.
"Keadaan pasien begitu lemah. Banyak luka dalam dan luka luar yang ia alami. Kami sudah memasang semua alat bantu supaya pasien bisa bertahan.. Dan sepertinya pasien mengalami Koma" jelas sang dokter.
Lagi dan lagi Dewi tertunduk lesu mendengar keadaang sang suami.
"Bagaimana keadaan putraku ?" tiba-tiba Ustadz Rahmam datang. Membuat semua orang menoleh dan menatap Ustadz Rahman.
"Afnan koma Pak" jawab Papa Edi
"Ya Allah. Kenapa ini harus terjadi dengan putraku" kata Ustadz Rahman lirih.
Dewi hanya diam saja. Karena ia juga butuh kekuatan untuk menerima semua ini.
"Pasien akan di pindahkan ke ruang ICU" terang dokter lagi.
"Lakukan saja dok. Selamatkan menantu kami !"pinta Papa Edi.
"Baik"
Setelah dokter pergi. Mereka kembali duduk di bangku panjang sementara para polisi sudah pamit untuk pergi.
"Jangan nangis terus Nak Dewi ! Afnan sudah kita temukan walaupun kondisinya seperti ini" ucap Ustadz Rahman kepada menantunya.
"Lebih kuatkan hatimu jika sesuatu terjadi. Kita tidak pernah tau rencana Allah kedepan nya"
-
-
Rian juga sudah mendapat kabar kalau Afnan sudah di temukan. Membuat Rian terus mengucapkan syukur.
"Mas Afnan di temukan Dek" ucap Rian kepada Maudy.
"Benarkah ? lalu bagaimana keadaan nya ?"
"Dia mengalami koma. Sepertinya Mas Afnan sempat keluar lewat pintu darurat saat pesawat akan jatuh" jelas Rian
"Ini keajaiban Mas. Ini rencana Allah"
"Iya Sayang"
"Lalu bagaimana, apa kita akan menjengok keadaan Mas Afnan ?" tanya balik Maudy.
"Kalau kamu mau ayo kita kesana tapi besok saja"
Maudy langsung mengangguk. Jelas ia ingin melihat keadaan Afnan karena ia juga ingin bertemu dengan Dewi walau sekedar memberi semangat. Karena semenjak kejadian yang menimpah Afnan. Maudy belum bisa bertemu dengan Dewi karena keadaan nya yang sedang hamil besar sekarang.
"Alwi apa di ajak Mas ?" tanya Maudy.
"Kita lihat besok ya" jawab Rian.
-
-
Di dalam ruangan bernuansa serba putih. Dewi duduk di kursi samping ranjang sang suami.
Suara nyaring monitor terus menggema, memecahkan keheningan di dalam ruangan itu.
"Assalamualaikum Mas" ucap Dewi dengan bibir bergetar.
"Kangen gak sama aku ?"
"Udah 20 hari loh kita gak ketemu, aku kangen di manja sama kamu. Kangen juga di sayang sama kamu"
Kemudian Dewi mengambil tangan Afnan lalu menempelkan telapak tangan besar itu di perut nya. Seketika tendangan si kecil mulai terasa membuat Dewi tersenyum walau air mata terus menetes.
"Mereka kangen sama kamu Mas" ucap Dewi lagi.
"Ayo bangun ! apa kamu tidak ingin menemani aku lahiran nanti ?"
"Aku gak rela jika kamu gak nemenin aku Mas. Gak rela banget. Aku akan menganggap kamu suami yang jahat karena sudah membiarkan aku seorang diri berjuang melahirkan dua anak kamu sekaligus"
Rasanya Dewi sudah tidak tahan ia memeluk tubuh Afnan dengan erat. Menciumi waja Afnan bertubi-tubi.
"Maaf Bu waktunya sudah habis, biarkan pasien istirahat lagi" ucap Seorang suster yang datang tiba-tiba.
Dewi mengangkat kepalanya. Lalu mengangguk kepada suster itu.
-
-
Keesokan harinya Rian dan Maudy mendatangi rumah sakit dimana Afnan di dawat. Awalnya Rian ingin membawa Alwi tapi Papa Bayu mencegah karena takut Alwi akan syok saat melihat keadaan Afnan.
"Assalamualaikum" ucap Rian dan Maudy serempak.
Papa Edi dan Mama Mira menatap Rian dan Maudy.
"Waalaikum salam" jawab mereka berdua serempak juga.
"Bagaimana keadaan Alwi nak Rian ?" tanya Mama Mira.
"Alwi sehat Ma. Jangan khawatir dia baik-baik saja di rumah !" jawab Rian.
Mama Mira begitu legah mendengar kalau cucunya baik-baik saja. Rian memang sengaja tidak memberi tahukan jika Alwi sempat sakit.
"Mbak Dewi mana ya Tante ?" tanya Maudy yang tak melihat keadaan Dewi.
"Dia masih di dalam. Sebentar lagi keluar.Maklum karena Afnan ada di ICU jadi melihatnya harus gantian"
"Lalu bagaimana keadaan Mas Afnan ?" tanya Rian
"Masih koma Nak. Kata dokter kecil kemungkinan ia akan selamat tapi Dewi tetap ingin suaminya di rawat" jawab Papa Edi
Rian mengangguk begitupun dengan Maudy. mereka juga merasakan apa yang di alami Maudy. Jika mereka berada di posisi Dewi juga akan melakukan hal yang sama.
Tidak berapa lama Dewi keluar. Terlihat sekali wajah lelah dan raut kesedihan Dewi. Serta tatapan mata yang sayu dan tubuh yang sedikit kurus. Sangat berbeda sekali saat Afnan ada dulu.