
"KYAAAAAA" Troy ikut berteriak latah mendengar teriakan Tita, ia mencoba menutup adik besarnya tetapi rasanya percuma kedua tangannya tak berhasil menutup seutuhnya.
Tita berangsut mengambil bantal yang berada di atas kasur menutup wajahnya, tetapi karena penasaran ia menurunkannya sedikit melirik pada Troy dan menaikkannya kembali.
Sedangan Troy begitu menyadari bahwa 'adik' besarnya itu masih terlihat Tita, ia segera menyambar handuk di bawah kakinya dan kembali mengikatkannya di pinggangnya meski tidak kencang dan kedua tangannya harus menahannya agar tidak melorot lagi.
Seketika kamar pengantin baru yang ramai karena teriakan itu berubah menjadi senyap, Tita mulai menurunkan bantal di wajahnya, Troy sudah tidak sepenuhnya telanjang, mereka sama-sama menghela napas meski masih terengah-engah. Troy berdehem mencoba melupakan kegugupannya.
"Ma-maaf membuat Tita kaget" ucapnya ingin mengakhiri kecanggungan.
"Ti-tidak apa-apa kak Troy, maaf aku membuat kak Troy panik" Keduanya kompak duduk di tepi ranjang dengan jarak yang berjauhan.
"Kalau begitu aku akan mengambil pakaianku, tasnya ada di dekat nakas bisa tolong Tita ambilkan" Pintanya, Tita mengedarkan pandangannya, rupanya tas Troy teronggok di bawah di dekat kakinya, ia mengambil dan memberikannya segera.
"Permisi aku akan berpakaian dulu" Troy berdiri dan handuk tadi hampir melorot lagi.
"Kyaaa" Tita menjerit tetapi kali ini teriakannya sedikit pelan.
"Maaf" Troy segera memperbaiki handuknya dan berlari menuju kamar mandi sambil membawa tasnya.
Melihat Troy sudah tidak ada, Tita menarik napasnya panjang.
"Bagaimana ini, aku sangat gugup. Apa sebaiknya aku tidur saja? lagipula ukurannya kenapa besar sekali" Gumam Tita berbicara sendiri.
Troy melepas handuknya.
"Ada apa dengan handuk ini, kenapa melorot terus! aku kan jadi malu di depan Tita, belum apa-apa sudah tegang, Hei 'dek' masih belum lemas juga? tidak bisa ya besok saja beraksinya?" Troy melihat ke bawahnya, berusaha rileks pun adiknya itu tetap tidak menurut, ia masih berdiri tegak tidak mau duduk.
Troy sudah mengenakan pakaiannya dan berjalan menghampiri Tita, di lihatnya gadis yang baru saja dinikahinya itu sudah membungkus dirinya dengan selimut meski belum tertidur.
Sepertinya tidak ada pilihan lain, Troy ikut merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Beberapa menit suasananya hening, keduanya tampak tak saling bicara. Pikiran Troy sendiri sedang menerawang, tiba-tiba dia ingat perkataan Brian, yang mengatakan jika saat malam pertama perempuan akan merasakan sakit terlebih dahulu, Brian bahkan memdeskripsikan secara jelas tentang bagaimana keperawanan perempuan robek ketika pertama kali melakukan hubungan suami istri, membayangkannya saja membuat Troy menjadi ngeri. Lagipula dengan tidak ada reaksi apa pun dari Tita semakin menambah keraguan Troy untuk melakukannya.
"Tita" sepersekian detik Troy bisa melihat rasa takut dan gugup di mata Tita. Troy kembali menghela napasnya, "Aku rasa Tita belum siap, kalau begitu aku siap menunggu. Mmmmm. . ." rona merah menjalari pipi Troy. "Kita akan melakukannya kapan-kapan saja" katanya kemudian, Troy memutar tubuhnya membelakangi Tita.
Keduanya terdiam, Tita tampak bimbang, keningnya berkerut, ia berpikir keras. Rona merah muda juga nampak menghiasi wajah putihnya, Tita mendesah, ia mendekat dan memeluk tubuh Troy dari belakang.
"Kak Troy aku rasa tidak usah di tunda, aku siap melakukannya" ucapan Tita membuat Troy membelalakan matanya, ia berbalik kini mereka berhadapan.
"Tapi aku dengar rasanya akan menyakitkan untuk perempuan jika ini yang pertama kalinya"
Seulas senyum manis tersungging di bibirnya, Tita membuat sesuatu di dalam diri Troy berdesir.
"Di awal memang akan menyakitkan, aku akan menahannya, karena. ." Tita menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi manis menggemaskan, dia terlihat sangat malu. "Karena nantinya akan terasa nikmat"
"Oohh begitu ya" Troy tak tahu harus menjawab apa.
"Hmmmmm" Tita mengangguk.
Mengetahui kebingungan Troy yang minim soal pengalaman perempuan, Tita berinisiatif, Tita memutuskan untuk membimbing Troy yang sebenarnya dia juga tidak punya pengalaman. Berangsut maju Tita memegang kedua pipi Troy memperhatikan wajah suaminya dengan seksama mengagumi ketampanannya.
Mata Troy melebar melihat perbuatan Tita, bergantian kini dia menatap bibir istrinya yang menggoda.
Tita mendekatkan wajahnya mengecup lembut bibir Troy penuh cinta, lalu pipi serta keningnya setelah itu kembali ke bibir. Perlahan Tita mulai mempraktekan pengetahuannya tentang berhubungan intim dari buku yang pernah di berikannya pada Nafiza, buku yang sempat di bacanya itu ternyata sangat berguna.
Ciuman Tita terlepas, mereka saling melempar senyuman, kemudian menyatukan kembali bibirnya melakukan ciuman yang bergairah, manis dan penuh cinta. Saling meraba dan menyentuh kulit masing-masing, kedua napas mereka saling memburu, mereka mulai berkeringat, satu persatu kain yang menempel pada tubuh mereka pun terlepas.
Troy dapat melihat dua buah melon kecil yang sudah lepas bungkusnya.
"Bolehlah aku menyentuhnya?" tanyanya lagi polos membuat Tita tertawa dan juga malu, Tita menganggukan kepalanya. Troy berhasil memegangnya membuat Tita berdesau hebat. Kini tangannya turun menuruni sebuah semak kecil tak berpenghuni melebarkan sebuah lubang dangkal menggalinya sedikit demi sedikit agar lebih dalam.
Tubuh Troy sendiri bergetar setiap mendengar eluhan yang keluar dari bibir Tita. Adik besarnya itu sudah meronta tak sabar ingin menggali lubang yang lebih besar di semak-semak tersebut.
"Tita sudah siap?" tanyanya yang kini berada di atas istrinya.
"Siap kak Troy"
Sedikit demi sedikit hentakan pinggul Troy membuat galian itu robek dan berubah menjadi sumur kosong yang dalam, teriakan sakit itu perlahan hilang dan ada kini hanya deru napas yang saling beradu, sumur yang kosong itu tiba-tiba meluap karena di semprot cairan oleh sang penggali lubang. Akhirnya pembuat lubang itu lemas tak berdaya setelah pegal berdiri selama beberapa jam.
Keduanya berkeringat kepanasan, Troy menutup semak itu rapat dan menyelimuti tubuh Tita.
Malam panas dan panjang pasangan pengantin baru itu terlewati dengan indahnya.
Terbangun di pagi hari sedang memeluk dada bidang Troy membuat Tita malu sendiri. Kejadian tadi malam benar-benar membuat wajah Tita tak berhenti memerah. Ia berusaha bangun dan memesan sarapan, kini ia sudah memiliki tanggung jawab sebagai istri yang harus melayani suaminya.
"Tita mau kemana?" tanya Troy dengan mata terpejam.
"Ingin memesan makanan untuk sarapan kak Troy" jawabnya.
"Nanti saja, tinggalah di sini sebentar lagi" Troy menarik tubuh Tita dan mendekapnya. Tubuh tanpa pakaian itu pun kembali bersentuhan.
"Sepertinya ada yang mengganjal" ucap Tita merasa ada sesuatu yang membuat jarak antara tubuhnya dan tubuh Troy.
"Sepertinya ada yang ingin menggali lubang lagi"
"Hem?" Tita tak mengerti.
"Bolehkah aku meminta kejadian semalam terulang kembali?" Troy memasang wajah nakal mulai berani.
"Replay?"
Troy menganggukan kepalanya, menyibak selimut dan bersiap kembali dengan aksinya.
Author : "Troy sedang beralih profesi menjadi tukang gali. Hahay"
Semoga terhibur đź’•