
Setelah semuanya berjalan dengan baik, para tamu di suruh untuk menjabat tangan pengantin baru sebelum menyantap hidangan, antrian begitu panjang layaknya kereta api.
“Capek ya ?” tanya Rian kepada sang istri.
“Lumayan Mas” jawab Maudy sambil meringis.
“Sabar ya !” Rian kembali berbisik.
Maudy menganggukkan kepalanya, melihat antrian para tamu yang begitu panjang, membuat Maudy menghela nafas panjang, namun tetap berusaha tersenyum untuk menyambut uluran tangan seseorang sambil mengucapkan selamat kepada nya.
Maudy hanya membalas dengan kata “Terima kasih telah datang” Atau “Makasih ya udah hadir di acara kami” Dan hanya senyuman yang Maudy tampilkan.
Satu persatu para tamu naik ke atas pelaminan, begitu teratur tidak ada yang terlihat berebut, mungkin karena ada petugas yang mengaturnya.
Hingga tiba dengan seorang wanita yang pernah Maudy lihat, iya wanita yang dulu pernah menatapnya dengan seksama.
Maudy memperhatikan wanita itu, apalagi cara wanita itu memandangi suaminya, entah ada perasaan tidak terima didiri Maudy jika sang suami di pandangi seperti itu.
“Selamat ya Mas, semoga bahagia selalu”
Telinga Dewi dengan seksama mendengar ucapan wanita yang belum pernah ia temui.
“Makasih Dek, kamu juga semoga bahagia” jawab Rian.
Apa Dek ?
“Mas Rian manggil dia Dek ? apa mereka saling kenal ? atau dia adalah mantan istri Mas Rian" batin Maudy.
Kemudian wanita itu berjalan dan menghadap ke Maudy, seperti biasa Maudy menatapnya dengan senyuman.
“Selamat ya semoga bahagia selalu” ucap Dewi tanpa ekspresi.
“Makasih !” jawab Maudy
Setelah itu tidak ada lagi yang Dewi ucapkan, dengan langkah cepat Dewi meninggalkan panggung pelaminan, ia harus segera pergi agar tidak ada yang tau bahwa air matanya sudah menganak Pinak di pelupuk matanya.
“Jangan nangis ! ku mohon jangan nangis" batin Dewi sambil menerobos segerombolan para tamu yang hendak bersalaman.
“*Aduh pelan-pelan mbak !”
“Apaan nih, kok nabrak gitu aja*”
Bahkan Dewi masih mendengar dengan jelas beberapa ucapan mengesalkan dari para tamu, namun Dewi tak menghiraukan tetap berjalan ke arah pintu keluar gedung agar segera pergi dari tempat ini.
Saat di luar gedung Dewi duduk di latar, tangisnya sudah tak tertahan, ia menumpahkan dengan cara menelungkup kan wajahnya di kedua lutut yang sudah di tekuk.
“*Kenapa rasanya aku tak rela melihat ia bahagia bersama orang lain ? kenapa ya Allah ?”
“Ini salah sangat salah, aku sudah mempunyai suami, tidak seharusnya aku menangisi laki-laki yang sudah menyakiti perasaanku*”
Dewi terus membatin, Isak tangisnya sudah terdengar, ketika ada seseorang yang mendekat lalu menarik Dewi kedalam pelukan nya.
Dewi hendak protes, ia ingin melepaskan diri dari pelukan orang itu, walau bagaimana pun ia tetap harus menjaga martabatnya sebagai seorang istri.
Tapi tunggu dulu !
Kenapa ia merasa kenal dengan dada bidang ini ? lalu wangi farfum ini, Dewi begitu hapal.
Namun apa mungkin ?
Segera Dewi mendongakkan kepalanya dan..
Deggg.
Ia langsung terkesiap demi mendapati sosok suaminya lah yang sedang memeluknya dengan erat.
“Udah nangisnya ?” tanya Afnan dengan lembut.
“Kalau belum, nangis aja sampai puas ! bahu Mas terus untuk mu bersandar, jangan di pendam karena akan semakin sakit”
Rentetan kalimat yang Afnan ucapkan tak ada satupun yang di tangkap oleh indera pendengaran nya, ia masih bingung bagaimana bisa laki-laki sudah ada di sini karena setahu dirinya Afnan akan tiba soreh hari.
“Mas Afnan kapan datang ? setau aku Mas akan tiba soreh nanti” tanya Dewi
“Mas berangkat semalam sayang, makanya pagi ini Mas sudah di Indonesia, maaf ya gak ngasih tau dulu” jawab Afnan
“Mau pulang apa mau masuk kedalam lagi ?” tanya Afnan lagi..
“Pulang aja Mas”
“Baiklah kalau begitu”
--------------
Setelah acara resepsi selesai Rian dan Maudy langsung ke kamar hotel yang sudah di siapkan oleh Kenan dan Alya, mereka pikir kalau Rian belum melakukan malam pertama padahal semalam sudah sangat puas. Hehe.
“Mas”
“Hmmm”
“Enggak jadi”
Rian mengernyit lalu menoleh ke arah sang istri, ia tahu ada sesuatu yang ingin Maudy ucapkan.
“Ada apa sayang ? katakan saja !” ujar Rian sambil mendekati Maudy.
“Emmmm, cuman mau nanya wanita yang tadi siapanya Mas ?” tanya Maudy hati-hati.
Rian menantap wajah Maudy dengan seksama “Wanita yang mana ?” tanya Rian
“Itu Loh yang tadi pakai hijab warna hijau sama gamis yang senada warnanya, kaya nya dia beda gitu cara Mandangin Mas”
“Oh dia”
Rian berjalan dan duduk di sofa di ikuti oleh Maudy.
“Dia mantan istriku, Kak Alya yang mengundangnya” jawab Rian
“Oh itu yang namanya Dewi, Cantik ya Mas”
“Semua wanita itu cantik Sayang, kamu juga cantik pakek banget di mata Mas” Seloroh Rian
“Dia sudah menikah Mas ?” Maudy rasanya masih penasaran tentang wanita berhijab tadi.
“Iya, udah punya anak juga”
“Kok dia gak datang sama suaminya ?”
Rian mengangkat kedua bahunya “Mas gak tau sayang"
“Kok kak Alya ngundang Dia, ? apa Kak Alya sengaja mau memperkenalkan aku sama dia” tanya Maudy.
“Jangan berprasangka buruk sayang, dia itu sama Kak Alya sahabat paling dekat udah kek sodara” jelas Rian
“Kak Alya, Fina sama Dewi itu udah sahabatan dari SMA, nanti kalau kerumah banyak foto nya Dewi di pajang di rumah tapi barengan sama Kak Alya dan Fina, kalau Dewi sendiri gak ada” Rian kembali menjelaskan nya.
Maudy mendengarkan dengan baik, mungkin sampai kapanpun ia tidak akan bisa menghapus nama Dewi di ingatan suaminya karena bagaimanapun Mereka pernah menjalin hubungan suami istri.
“Mas masih ada rasa gak sama dia” tanya Maudy dengan nada bercanda.
“Hahaha, kalau Mas masih ada rasa sama dia ngapain Mas nikahin kamu Sayang” jawab Rian jujur, walau dulu ia hanya ingin menjadikan Maudy untuk kebahagiaan Papa Bayu, namun seiring berjalan nya waktu nama Dewi hilang begitu saja tanpa bekas.
“Yang utama sekarang adalah kamu dek, kamu adalah kebahagiaan Mas, kamu prioritas utama Mas, dan Mas mohon dengan sangat jika suatu hari nanti Mas ada salah tolong marahi Mas, Tegus supaya Mas tidak berlarut dalam kesalahan"
“Semua ini awal dari perjalanan kita sayang, di depan sana sudah menanti masalah yang akan menimpah kita sayang, Dan Mas harap kamu akan selalu berada di samping Mas apapun yang terjadi, jangan pernah berniat untuk meninggalkan Mas sendiri”. jelas Rian dengan sunggu-sunggu.
“Insya Allah aku akan selalu bersama Mas, dan Mas juga jangan pernah ninggalin Aku ya, aku ingin Mas selalu ada di samping aku selamanya"