Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 15


Setelah satu Minggu berlalu, surat Risign Maudy sudah di terima, dan ia resmi keluar dari rumah sakit tempatnya bekerja.


“Semoga ini keputusan yang terbaik” batin Maudy sambil melangkahkan kakinya keluar ruangan.


Sementara itu, Rian sudah menunggu di luar ruangan untuk menyambut kekasinya yang hari ini akan menjadi hari terakhirnya bekerja.


"Bagaimana ?"tanya Rian saat Maudy sudah keluar ruangan.


"Ni, Lihat aja sendiri" Maudy memberikan sebuah map dimana disana tertulis surat pengunduran diri Maudy, dan dibawahnya sudah di tanda tangi oleh pimpinan itu berarti Maudy sudah resmi keluar.


"Selamat menjalani dunia baru sayang" Ucap Rian usai membaca kalimat yang tertulis di sana.


Kening Maudy mengernyit "Maksudnya ?"


"Iya dunia baru, yaitu menjadi nyonya Rian Almer Abraham" jawab Rian sambil tersenyum.


"Apa Sih" cibir Maudy lalu melangka pergi meninggalkan Rian dengan wajah yang bersemu merah.


__________


"Bagaimana kalau hari ini kita pesta ?" tanya Seno sambil menatap kearah Maudy dan Rian.


"Untuk apa ?" tanya Rian bingung.


"Ya untuk kenang-kenangan lah, kan hari ini terakir Maudy kerja" Jawab Seno.


"Oh iya benar juga itu, oh deh"Rian langsung menyetujui usul Seno lalu berbalik menatap Maudy "Kamu ikut kan Yang ?" tanya Rian.


"Iya"


"Ok deal ya, habis pulang kita langsung kumpul di kafe dekat sini"


Dan setelah Rian dan Seno menyelesaikan tugas nya, mereka langsung menuju kafe yang paling dekat dengan rumah sakit. Bukan hanya mereka bertiga tapi ada juga beberapa suster dan dokter lainnya yang di ajak oleh Seno dan Rian.


“Ok, sengaja saya ngajakin kalian semua kesini, karena Dokter cantik kita ini mau pamitan, hari ini adalah hari terakhirnya bekerja” seloroh Seno membuka pembicaraan.


“Kenapa mau berhenti Dok ?” tanya Kiran, Suster yang paling dekat dengan Maudy.


Maudy hanya membalas dengan senyuman karena ucapan dari Kiran langsung di jawab oleh Seno.


“Karena dia mau jadi istri yang baik untuk Rian” jawab Seno sambil mengerlingkan mata kearah Maudy. Menyebalkan.


“Keren ! Lo beruntung dapet istri seperti Maudy” Dokter Farhan menepuk bahu Rian.


“Beruntung pakek banget malahan” jawab Rian sambil merangkul bahu Maudy.


Tawa mereka pecah saat melihat Rian begitu bucin kepada Maudy, hingga pesanan mereka datang mengharuskan mereka semua menghentikan tawa.


“Iya maafkan kalau selama saya bekerja disana, banyak salah atau pernah menyinggung perasaan kalian semua” Maudy mulai berbicara dengan nada serius.


“Itu mah biasa, namanya juga lagi sama-sama. Dan dari kita gak ada yang nyimpan dendam kok” jawab Farhan mewakili mereka yang ada di ruangan itu.


“Iya, selama saya bekerja sama dengan Dokter Maudy. Ok Ok saja dokter Maudy jarang sekali menyinggung orang lain” sahut Kiran.


Maudy tersenyum, benarkah selama ini ia begitu baik.


“Kita semua di undang gak nih ?” tanya Dokter Farhan lagi


“Iya pasti dong, semua nya bakalan kita undang, siapkan kado yang banyak ya !” Jawab Rian sambil tertawa.


“Pasti, kita akan menyiapkan kado yang spesial”Dokter Farhan membalas candaan Rian.


Alunan musik menjadi bagroond disana, canda dan tawa selalu menghiasi kebersamaan mereka. Karena bukan hanya Maudy yang keluar melainkan Rian juga akan kembali kerumah sakit milik keluarganya.


Setelah selesai mereka semua pamit, Maudy serta Rian langsung pulang kerumah.


Selama di perjalanan, Maudy selalu bertanya tentang konsep acara resepsi pernikahan mereka.


“Mas ikut aja sayang, apapun yang kamu pilih Mas akan setuju” jawab Rian karena memang ia tidak tau masalah beginian.


“Tapi Mas juga harus ngasih pendapat dong, kalau bagus bilang iya terus alasan nya apa, kalau jelek juga harus begitu” gerutu Maudy yang terlihat kesal


“Sayang, Mas tidak tahu sama konsep seperti itu, jadi Mas nurut aja” Balas Rian.


“Mas kan udah pernah nikah masa gak tau”


Rian mendesah pelan, ia menghentikan mobilnya setelah menepi sebentar, Rian menggenggam tangan Maudy lalu menatap Maudy dengan senyuman. Ia tahu kalau wanita didepan nya itu sedang merajuk.


“Ya sudah besok kita bahas masalah resepsi ya, sama kita tentuin lokasi untuk foto Prewedding” kata Rian berusaha selembut mungkin .


“Beneran ?” tanya Maudy dengan memasang wajah yang begitu imut.


“He em. Besok Mas kerumah”


Dengan cepat Maudy menampilkan senyum kebahagiaan, dan itu yang selalu ingin Rian lihat melihat wanita yang ia sayangi selalu bahagia.


Rian kembali menjalankan mobilnya untuk mengantar Maudy pulang, setelah sampai di depan rumah Maudy, Rian langsung keluar untuk membukakan pintu.


“Enggak mampir dulu ?” tanya Maudy.


“Kenapa masih kangen Ya ?” jawab Rian dengan nada menggoda..


“Apa sih, kan Maudy hanya basa-basi gitu”


“Oh jadi gak ikhlas nih ceritanya, tega banget sih sama calon suami”


“Apa sih Mas, gak jelas tau”


Rian tergelak, sementara Maudy hanya cemberut saja, namun di dalam hatinya Maudy begitu bahagia bisa melihat Rian tersenyum tanpa beban seperti ini.


“Ya sudah Mas langsung pulang Ya, besok Mas kesini, mampir nya kapan-kapan"


Maudy hanya menggelengkan kepalanya, setelah Rian kembali melajukan mobil nya, Maudy langsung masuk kedalam rumah.


------


Malam harinya usai makan malam, Rian menemani Papa Bayu menonton televisi.


“Bagaimana persiapan pernikahan kamu ?” tanya Papa Bayu tanpa mengalihkan pandangan nya di layar segi empat dengan ukuran besar di hadapan mereka.


“Besok baru mau foto prewedding sama cetak undangan Pa” jawab Rian.


“Resepsi di gedung mana ?” Papa Bayu kembali bertanya.


“Belum tau Pa, masih mau rundingan sama Maudy dulu”


Sontak Papa Bayu menatap Rian dengan kening mengkerut.


“Belum dapet berarti ?” tanya Papa Bayu yang langsung di angguki oleh Rian


“Minta tolong sama Kakak mu, dia yang akan membantu, atau minta tolong sama Kak Aska dan Zaki” pinta Papa Bayu.


Rian langsung ingat dengan teman-teman kakaknya, kedua laki-laki gesrek itu pasti akan membuli dirinya lagi. Namun kali ini ia harus meminta bantuan Kenan dan kedua sahabatnya untuk Proses jalannya akad nikah dan resepsi.


Ketika jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Rian mengantar Papa Bayu kekamar nya dulu, walau Papa Bayu selalu menolak namun Rian tetap melakukan nya.


Setelah itu barulah Rian ke kamarnya, untuk beristirahat.