Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Episode 122


Hari sudah semakin soreh namun Kenan belum juga pulang, di telfon juga tidak di angkat. Alya sangat khawatir karena jika Kenan akan pulang telat pasti akan mengabarinya terlebih dahulu, Yang membuat Alya semakin khawatir karena Kenan berangkat sendiri itu setau Alya.


“Kamu kemana Sayang ?? kenapa belum pulang juga”


Alya mondar-mandir, kembali menelfon akan tetapi tetap sama, tidak Kenan jawab.


“Non Alya kenapa ?? kok Bibi lihat Non gelisa ” tanya Bik Mina Art disana.


“Tidak apa-apa Bi, Alya hanya khawatir sama suami Alya”


“Oh, kirain Bibi kenapa, Non jangan khawatir !! tuan Kenan pasti akan baik-baik saja”


“Semoga saja Bi”


Bik Mina pun kembali ke dapur, sementara Alya masih menunggu di ruang keluarga, menunggu kabar suaminya supaya perasaan nya tenang. Dan anehnya juga bayi yang dalam kandungan Alya selalu bergerak aktif, biasanya dia tidak akan seperti itu jika tidak di elus oleh Kenan, dia hanya akan bergerak sekali-kali. Namun untuk sekarang Alya merasakan tendangan anak nya sangat kuat terkadang membuat Alya sesak dan sakit.


“Kamu kenapa Nak ?? kangen Daddy ya ?? sabar ya Sayang !! bentar lagi Daddy pulang” ucap Alya sembari mengelus perutnya.


Tidak berapa lama Rian dan Dewi tiba, mereka terlihat buru-buru masuk kedalam membuat Alya heran.


“Rian, Dewi kalian kesini ?? kok gak ngabari dulu ??” tanya Alya setelah kedua pasangan suami istri itu sudah ada di hadapan nya.


“Papa mana Kak ??” bukan nya menjawab pertanyaan Alya, Rian malah langsung bertanya.


“Papa keluar dari tadi pagi,” jawab Alya apa adanya.


“Keluar kemana Kak” kembali Rian bertanya.


“Aku gak tau, memang nya ada apa sih ?? kok kamu panik gitu”


Akan tetapi Rian tak lagi menjawab, Rian langsung terduduk lesu di atas sofa, akhirnya Alya bertanya kepada Dewi.


“Ada apa Wi ?? Rian kenapa ??” tanya Alya ke Dewi


“Tadi di rumah Foto Papa tiba-tiba jatuh Al, gak ada angin Foto itu langsung jatuh begitu saja, dan itu membuat Mas Rian khawatir, dia dari tadi hubungin nomor Papa tapi gak aktif” jelas Dewi


Mendengar itu Alya semakin panik, dia baru sadar sekarang bahwa suami dan Papa mertuanya keluar hampir bersamaan hanya saja Alya tak bertanya kemana kah tujuan Papa Bayu.


“Ya sudah aku telfon Kak Pras dulu, siapa tahu dia tahu Papa dimana” ujar Alya kemudian.


“Iya Al coba kamu hubungin” titah Dewi sambil duduk di samping suaminya.


Alya segera mencari kontak Pras, menekan panggilan agar segera menyambung ke lelaki itu.


“Halo nona Alya, ada apa Ya ??” tanya Pras di seberang sana.


“Halo kak Pras, saya mau tanya apa kamu tau Papa Bayu dimana”


“Tidak Nona, memang nya ada apa ??”


“Papa gak ada di rumah, dia pergi dari pagi, ya sudah kalau gak tahu maaf ya Kak ganggu”


“Hah, Tuan Bayu tidak ada di rumah ?? apa sudah di hubungin Nona ?? saya kesana sekarang”


“Eh gak usah kak Pras mungkin Papa bentar lagi pulang” ucap Alya.


“Saya akan kesana sekarang”


Setelah mengatakan itu Pras langsung mematikan telefon nya, sementara Alya merasa tidak enak karena mengganggu Pras, padahal Alya tahu kalau saat ini Pras sibuk menyiapkan pernikahan nya.


“Bagaimana Kak ??” tanya Rian setelah melihat Alya selesai menelfon Pras.


Alya menggeleng, membuat Rian mendesah berat, padahal mereka tahu kalau selama ini Papa Bayu sering bepergian tapi entah kenapa untuk kali ini pirasat mereka tidak enak.


“Coba kamu yang nelfon kak Kenan, siapa tahu di angkat” titah Alya menyuruh Rian menghubungi suaminya.


Segera Rian menghubungi sang Kakak, akan tetapi sama saja tidak di angkat oleh Kenan, Alya rasanya ingin marah kenapa suaminya susah sekali di hubungi, tidak tahu kah dia kalau di rumah Alya tengah di landa ke khawatiran.


Sekarang mereka tak tahu harus bagaimana selain menunggu kepulang Papa Bayu dan Kenan, entah sampai kapan mereka semua akan menunggu seperti itu. Hingga kedatangan Pras membuat Rian sedikit lega karena dia yakin Pras akan menemukan Papa nya..


“Kak Pras tolong lacak dimana Papa ku” ucap Rian langsung.


“Baik tuan muda”


Beruntungnya Pras membawa laptop untuk dia melacak semuanya, namun ternyata dia tak bisa melacak dimana keberadaan Papa Bayu, hanya saja Pras berhasil melacak keberadaan Kenan.


“Sedang apa Tuan Kenan di rumah sakit ??” batin Pras heran.


Pras dapat mengetahui lewat mobil yang di bawah Kenan, mobil itu terpakir di depan rumah sakit. Pras ragu untuk mengatakan nya kepada Alya karena takut akan kondisi Alya.


“Bagaimana ?? apa sudah ketemu” tanya Alya tak sabaran..


“Saya tidak bisa mengetahui dimana posisi Tuan Bayu, akan tetapi saya bisa mengetahui posisi Tuan Kenan”


“Dimana suamiku”


“Hemm, anu Nona” Pras terlihat ragu mengatakan nya.


“Katakan kak Pras !! jangan bikin aku penasaran” titah Alya


“Tapi anda harus tenang ya Nona, mungkin saja tuan Kenan ada kepentingan di sini”


“Katakan yang jelas Kak Pras dimana suamiku ??”


“Sabar Al !! kamu jangan panik kasihan bayi kamu” ucap Dewi yang khawatir akan keadaan Alya.


“Tuan Kenan ada di rumah sakit di kota S”


“Apa ???”


Alya langsung berdiri, dia langsung syok mendengar semuanya, berarti inikah jawaban kenapa suaminya tidak menjawab panggilan nya.


Apa yang telah terjadi dengan Kenan ?? kenapa dia di rumah sakit ?? berbagai pikiran negatif menyerang Alya.


“Kita harus kesana Rian, aku harus tau kenapa Kakak kamu di rumah sakit” ucapnya kepada sang adik ipar.


“Biar aku sama Kak Pras saja Kak Alya, Kakak di rumah sama Dewi, ini bahaya buat Kakak kalau ikut, kita juga kan gak tahu kenapa Kak Kenan disana bisa jadi kan Kak Kenan hanya main” jelas Rian dengan lembut, jika membawa Alya kesana dia takut kalau Kenan marah.


“Tidak aku mau kesana pokonya, kalau kalian gak mau bawa aku, maka aku akan kesana sendiri”


Rian mengusap wajahnya dengan kasar, Dewi berusaha membujuk Alya supaya menunggu di rumah, namun Alya tetap dengan pendirian nya untuk ikut kesana.


“Ya sudah Nona Alya ikut saja, takutnya kalau di rumah dengan kondisi panik mala akan membahayakan dia, tapi Nona harus tenang ya !! tetap berpikiran positif” Kata Pras hingga membuat Alya tersenyum.


“Tapi Kak Pras, aku takut Kak Kenan marah” sahut Rian.


“Saya yakin Tuan Kenan akan mengerti”


“Hemm, baiklah, kita berangkat sekarang” Alhirnya Rian mengalah dia membiarkan Alya ikut, semoga saja Kenan mengerti kenapa istrinya bisa ikut kesana..


---------------------


...**LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...


...RATE BINTANG LIMA**...