
Malam harinya, jika Pras dan Siska mengadakan acara resepsi berbeda dengan Zaki dan Cela karena di rumahnya sedang mengadakan pengajian untuk mendoakan sang Nenek yang telah pergi untuk selama-lamanya.
Kenan dan Aska bingung harus menghadiri yang mana dulu, tidak datang di keduanya pun tak enak hati. Pras dan Zaki adalah orang terdekatnya.
“Bagaimana ini Sayang kita ke tempat siapa dulu ??” tanya Kenan kepada istrinya.
“Kalau menurut aku ke rumah Zaki aja dulu, pengajian untuk orang meninggal itu tidak akan lama berbeda dengan acara resepsi pernikahan Kak Pras dan Siska yang akan sampai jam 12 malam, jadi setelah tempat Zaki kita langsung ke gedung tempat resepsi ??” jawab Alya sambil membantu mengancingkan kemeja sang suami.
“Gitu ya ??”
“He.em”
“Iihhh. Pinternya istriku, makin cinta deh” ucap Kenan gemas sambil mencubit pipi Alya yang sudah sangat tembem.
“Aaww,, sakit Yang”
“Gemes aku, pingin gigit tau gak”
“Dasar”
Keduanya tertawa bersama, Kenan memakai kemeja berlengan panjang dengan warna senada dengan yang istrinya kenakan, kandungan Alya yang sudah memasuki usia 9 bulan sulit dalam mencari pakaian yang pas supaya tak membuatnya sempit ataupun gerah.
“Ya udah ayo berangkat !!” ajak Alya
“Bentar aku hubungin Aska dulu Yang”
Alya mengangguk, Sementara Kenan menghubungi Aska untuk memberi tahukan kalau dia dan Alya akan kerumah Zaki dulu, baru akan datang ke tempat resepsi pernikahan Pras dan Siska.
Ternyata Aska pun ikut dengan Kenan dia dan istri juga akan ke tempat Zaki dahulu.
Kenan dan Alya turun kebawah, di sana ada Rian dan Dewi yang akan pergi ke pesta Pras dan Siska, serta ada Dokter Arif juga disana, memang Kenan menyuruh dokter Arif untuk tinggal di rumahnya sementara waktu sampai Papa Bayu di nyatakan pulih.
“Kau yakin mau kesana ??” tanya Kenan sambil tersenyum sinis ke arah Dokter Arif.
“Yakin lah, memangnya kenapa ??”
“Iya gak apa-apa, aku hanya takut kau nangis darah disana.”
“Itu tidak akan terjadi” bantah Dokter Arif tapi Kenan sangat tahu kalau saat ini Dokter Arif sangat terluka, cintanya bertepuk sebelah tangan, orang yang dia cintai sudah Sah menjadi orang lain.
“Yakin saja Kak Arif, suatu hari nanti pasti akan mendapatkan penggantinya” ucap Rian menyemangati sang Dokter tampan itu.
Dokter Arif menghela nafasnya, kemudian dia mengangguk, entahlah dia juga bingung kenapa dia tidak bisa melupakan Siska, dokter cantik itu benar-benar membuat perasaan nya porak-poranda.
“Rian, kamu duluan saja ke tempat Pras dan Siska. Kakak sama Kak Alya mau ketempat Zaki dulu”
“Baik Kak”
“Ya sudah ayo berangkat”
Mereka semua berangkat, Rian, Dewi dan juga Dokter Arif menuju ke tempat Pras sementara Kenan dan Alya ke tempat Zaki.
-
-
Kenan dan Alya sudah sampai di rumah Zaki, disana sudah ada Aska san Fina, seperti biasa Fina dan Alya akan saling berpelukan jika sudah bertemu.
Kenan membawa Alya untuk bertemu dengan kedua orang tua Zaki, serta berkenalan dengan istrinya Zaki.
“Malam Tante, saya Alya istrinya Kenan” ucap Alya memperkenalkan diri serta mencium punggung tangan kedua orang paruh baya itu.
“Kamu cantik sekali, wajar saja jika Kenan tergila-gila sama kamu” puji Ibunya Zaki hingga membuat Kenan terkekeh.
Kemudian Alya beralih berkenalan dengan istrinya Zaki yang saat itu masih menangis,Terlihat sekali kalau dia benar-benar sedih.
“Hai,aku Alya” ucap Alya.
“Saya Cela kak” balas Alya dengan suara tersendat karena kelamaan menangis
“Kamu yang sabar ya !! Kakak pernah ada di kondisi seperti ini, jangan terlalu larut dalam kesedihan, ingat semua ini sudah di atur sama Allah”
Cela hanya mengangguk, dia sudah berusaha untuk kuat dan ikhlas namun nyatanya itu sangat sulit, walaupun Suami dan kedua mertuanya sudah memberikan dia semangat dan menghiburnya tapi tetap saja Cela sedih, kehilangan sang Nenek membuatnya merasa sendiri.
Alya dan Fina duduk bersebelahan, mengikuti acara demi acara pengajian itu sampai selesai, setelah selesai mereka langsung pamit karena harus ke tempat Pras dan Siska.
“Maafin gue Ken, gue gak bisa datang keacara resepsi pernikahan Pras dan Siska” ucap Zaki setelah Kenan mengatakan kalau dia dan istri akan segera pamit.
“Gak papa, Pras pasti akan mengerti, nanti gue jelaskan kenapa Lo gak bisa hadir”
“Thanks Ken, Lo dan Alya hati-hati di jalan”
“Ok”
Kenan dan Alya sudah pergi, begitupun dengan Aska dan Fina yang langsung menyusul, sekarang tinggal Zaki dan Cela disana, Zaki langsung membawa Cela ke kamar untuk istirahat.
“Udah dek jangan nangis terus, lihat mata kamu udah bengkak” ucap Zaki. Saat ini mereka berdua sudah duduk di atas ranjang tempat tidur.
“Memang nya kalau mata Cela bengkak, Cela gak cantik lagi ??”
“Iya tetap cantik, tapi kurang”
“Oh gitu, ya sudah Cela pergi aja”
“Eh” Zaki menggaruk kepalanya yang tidak gatal “Kenapa jadi gini ?? kan niat gue pingin menghibur kok dia ngambek” batin Zaki.
Zaki melirik Cela, dia melihat Cela mengerucutkan bibirnya dan itu membuat Zaki gemas. Ingin sekali dia mencium atau bahkan menggigit bibir itu..
“Nyicip dikit boleh gak sih ??” gumam nya pelan tapi masih bisa di dengar oleh Cela.
“Nyicip apanya Bang ??” tanya Cela heran
“Itu, Anu, Itu----”
“Apa sih, Abang gak jelas deh, udah ah Cela mau ganti baju gerah pakai ini”
Cela langsung bangkit meninggalkan suaminya yang terus menatapnya, setelah mengambil baju tidur Cela masuk ke kamar mandi..
“Kalau gue minta malam pertama sekarang dosa gak ??” tanya Zaki pada diri sendiri.
Zaki mengusap wajahnya kasar, dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang, karena malam ini, malam pertama baginya tidur di kamar dengan di temani seorang perempuan yang saat ini sudah SAH menjadi istrinya.
Ingin sekali dia minta haknya sebagai suami, tapi Zaki sadar kalau Cela masih dalam keadaan berduka, dia tidak ingin menjadi suami yang jahat yang hanya memikirkan kepuasan sendiri.
Tidak lama Cela keluar, mata Zaki melotot melihat penampilan istrinya. Bagaimana tidak saat ini Cela memakai piama tidur lengan pendek dengan celana pendek juga, walaupun tidak transfaran tapi tetap saja sesuatu di bawah sana sudah berdiri, apalagi melihat kedua gunung yang sangat menonjol itu.
“Dek gak ada pakaian lain apa ??” tanya Zaki, bukan karena dia tidak suka melihat istrinya memakai itu tapi Zaki tidak akan bisa menahan nya kalau begini caranya.
“Memangnya kenapa Bang ?? Cela biasa pakai ini, kalau malam gerah soalnya, bahkan kalau bisa Cela mau lepas baju aja”
Zaki menelan saliva nya berkali-kali mendengar jawaban istrinya.
“Iya kalau Adek sudah siap Abang perawanin mah ok ok aja, lah ini kan enggak, Abang tersiksa Dek.. Huaaaaa. 😭😭”
BERSAMBUNG-------