Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 52


Didalam ruangan bersalin Dewi di suruh tidur miring kekiri agar pembukaan bertambah karena kini ia baru saja pembukaan 5, masih ada 5 pembukaan lagi supaya bayi nya bisa keluar.


"Jangan ngeden ya Bu ! kalau sakit tarik nafas panjang lalu keluarkan, ulangi terus sampai rasa sakitnya berkurang" ucap dokter memperingati.


"Baik Dok" jawab Dewi patuh walaupun rasa sakitnya begitu dahsyat.


Mama Mira mengelus pinggang Dewi untuk sedikit mengobati rasa sakit karena mustahil jika Dewi tak merasakan sakit saat melahirkan.


"Ya Allah ini sakit sekali Ma" rengek Dewi.


"Sabar Nak ! Semuanya akan terlewati"


"Aku mau duduk Ma" ujar Dewi.


"Sebentar !" Mama Mira berdiri dari duduknya lalu membantu Dewi sedikit berjongkok.


Dewi terus merubah posisi kadang jongkok, nungging atau berdiri. Hanya itu yang dapat ia lakukan.


Jangan tanyakan perasaan nya karena sudah pasti Dewi begitu sakit, saat melahirkan seperti ini sang suami sedang terbaring di ruangan lain.


Entah sampai kapan ia harus menunggu Afnan sadar. Apalagi ucapan dokter selalu membuat Dewi hampir putus asa.


Tanpa Dewi sadari kini Afnan sudah duduk di atas kursi roda setelah di periksa dokter. Sebenarnya keadaan Afnan belum memungkinkan untuk bergerak banyak hanya saja Afnan keras kepala. Ia ingin menemani sang istri bertaruh nyawa untuk melahirkan anak-anaknya.


Seorang suster mendorong kursi roda Afnan menuju ruang bersalin.. Di depan ruang bersalin ada Papa Edi dan Ustadz Rahman. Mereka berdua begitu terkejut melihat Afnan sudah sadarkan diri.


"Masya Allah Afnan" ucap Ustadz Rahman yang adalah Ayah Afnan sendiri.


Ustadz Rahman langsung memeluk tubuh anaknya dengan erat air matanya menetes membasahi baju Afnan. Begitupun dengan Afnan yang juga meneteskan air mata.


Tak pernah menyangka kalau dirinya masih di beri kesempatan untuk bertemu kembali dengan keluarga.


"Allah mengabulkan doa kami semua Nak. Apalagi istri kamu. Dia begitu menderita saat mendengar kamu mengalami kecelakaan" ujar Ustadz Rahman.


Setelah Ustadz Rahman, giliran Papa Edi yang memeluk Afnan.


"Terima kasih karena sudah kembali untuk Dewi Nak"


"Ini semua atas izin Allah Pa. Allah masih memberikan kesempatan kepada Afnan untuk kembali menemani Dewi"


Papa Edi mengelap air matanya "Silahkan Masuk Dewi sedang berjuang melahirkan anak kamu" pintah Papa Edi.


"Baik Pa" balas Afnan.


"Afnan masuk dulu Abi" ucap Afnan kepada Ustadz Rahman.


"Silahkan Nak, Dewi begitu membutuhkan kamu" jawab Ustadz Raham.


Kursi roda Afnan kembali di dorong menuju ruangan bersalin.


Ceklek.


Afnan membuka pintu. Hal pertama yang ia lihat adalah sang istri yang sedang berdiri menghadap dinding dengan kedua tangannya berpegangan pada dinding.


Mama Mira hendak bersuara namun Afnan langsung menempelkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan supaya Mama Mira diam saja.


Afnan tersenyum manis kearah Mama Mira.


Mama Mira mengangguk. Kemudian kursi roda Afnan di dorong mendekati Dewi.


Dewi merasa itu adalah Mama nya yang mendekat.


"Ma sakit sekali Ma ! tolongin Dewi" ucap Dewi yang terdengar begitu jelas di telinga Afnan.


"Pijitin lagi Ma !" pinta Dewi.


Afnan langsung memijiti pinggang sang istri dengan gerakan lembut.


"Iih. Mama gak kerasa kalau begitu. Kencangin dikit Ma !"


"*Masya Allah, rasanya hamba begitu merindukan wanita ini !"


"Maafkan Mas Sayang* !"


Afnan mulai memijiti pinggang Dewi sedikit lebih keras, membuat Dewi diam.


Mama Mira serta dokter tersenyum penuh arti.


"Ma aku mau tiduran" ucap Dewi.


Lalu ia membalikan badan nya dan


Deeggg.


Jantung Dewi berdegup kencang saat melihat suaminya sedang menatap nya sambil tersenyum.


"Ini beneran Mas Afnan ? ini beneran suamiku Kan ?" tanya Dewi beruntun.


"Iya sayang, astaghfirullah kalau bukan suami kamu lalu siapa ? Mas tidak punya kembaran Kok" jawab Afnan


"Ya Allah terima kasih. Engkau sudah mengabulkan doa hamba ! terima kasih Ya Allah !" Dewi langsung bersujud di lantai.


Afnan memandang sang istri dengan mata berkaca-kaca.


"Bangun Sayang, sini Mas mau peluk" ucap Afnan.


Dewi langsung bangun dan memeluk tubuh suaminya, menghirup wangi tubuh Afnan dengan sangat dalam. Merasakan belaian Afnan yang selama ini ia rindukan.


"Aawwww, sakit lagi" tiba-tiba Dewi kembali menjerit.


"Sus bantu istri saya !" perintah Afnan.


"Mas temenin aku ! jangan tinggalin aku ya Mas !" ucap Dewi kepada sang suami.


"Iya Sayang mas akan di sini terus nemenin kamu ! Mas tidak akan meninggalkan kamu sayang !"


Dewi berbaring di atas ranjang khusu untuk bersalin. Berbagai alat sudah di siapkan. Perlengkapan bayi juga sudah siap.


"Saya periksa dulu ya Bu !"


Sang dokter memeriksa pembukaan di jalan lahir.


"Sudah pembukaan lengkap. Ibu ikuti intruksi saya ya !"


Dewi mengangguk. Apapun yang di ucapkan dokter ia patuhi.


Tangan nya menggenggam tangan sang suami dengan erat.


"Ayo sayang kamu bisa ! Kuat ya !" bisik Afnan.


"Sedikit lagi ya bu ! kepalanya udah kelihatan !"


Dewi terus mengeden, dan akhirnya suara seorang bayi terdengar begitu nyaring. Namun rasa sakit itu belum hilang karena berselang lima menit bayi berikutnya lahir juga.


"Sehat semua Pak. Anaknya perempuan semua !" ucap dokter membuat Afnan tersenyum.


"Kami bersihkan dulu !"


Afnan mengangguk kemudian ia beralih mencium wajah Dewi dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih ya dek sudah berjuang melahirkan anak-anak mas !" ucap Afnan.


"Sama-sama Mas. Ini sudah kewajiban aku !"


"Oh ya bagaimana keadaan Mas ? mana yang sakit ?" tanya Dewi.


"Tidak ada yang sakit lagi sayang, jangan khawatir mas sudah baik-baik saja" balas Afnan.


"Jangan tinggalin aku lagi Mas !" mata Dewi kembali berkaca-kaca. Saat mengingat kejadian yang menimpah sang suami.


"Inysa Allah tidak Sayang"


Afnan menghapus air mata Dewi yang sudah menetes.


Tidak berapa lama kedua anak mereka di berikan oleh dokter. Satu bayi di letakkan di sisi kiri dan satu lagi di letakkan di sisi kanan Dewi. Afnan begitu bersyukur melihat anak-anaknya lahir dengan sehat dan tanpa kekurangan satu apapun.


"Mana Alwi Dek ?" tanya Afnan


"Alwi di rumah Mas Rian. Selama aku pergi mencari Mas, Alwi ku titipkan disana" jawab Dewi.


"Ya Allah. Berapa lama Alwi disana sayang ?"


"Sudah sangat lama Mas. Ia kesana di hari pertama Mas kecelakaan"


"Ya Allah. Dia pasti rindu dengan kamu"


Dewi terharu karena suaminya masih mengingat Alwi.


"Oh iya ini adzanin dulu anak kamu Mas !" tita Dewi.


"Baiklah sayang. Mana yang duluan lahir tadi ?" tanya Afnan karena ia belum bisa membedahkan mana anak pertama dan keduanya.


"Yang ini Pak" sahut Suster.


"Sini saya Adzanin dulu"


Suster membantu memberikan bayi itu kepada Afnan.


Lalu terdengarlah suara merdu Afnan yang selama ini Dewi rindukan.