
Keesokan harinya Rian dan Maudy langsung pergi ke studio foto untuk melakukan foto prewedding, dan pilihan yang Maudy pilih adalah kota tua.
Dengan mengenakan gaun berwarna biru muda dengan perpadun putih Maudy tampak begitu cantik, sementara Rian mengenakan setelan jas berwarna hitam yang memang pasangan gaun Maudy.
Seorang foto grafer yang di pilih oleh Rian mulai mengarahkan posisi mereka agar terlihat romantis, Maudy tersenyum bahagia begitupun dengan Rian, apalagi saat meliat sang kekasih tampil begitu cantik Rian tak bisa berkedip.
"Cantik banget kamu dek" puji Rian setelah acara foto selesai.
"Makasih"Jawab Maudy dengan tersipu malu.
Rian terkekeh melihat Maudy dengan wajah yang memerah, terlihat begitu menggemaskan di matanya.
"Silahkan pilih dulu bro yang mana ang harus di cetak" ujar Riko seorang foto grafer yang di tunjuk oleh Rian.
"Ok" jawab Rian, lalu Rian langsung menghampiri Riko yang sedang menatap layar monitor dimana menampilkan foto Rian dan Maudy yang terlihat begitu romantis.
Lama Rian berpikir untuk memilih foto yang mana, karena semua foto terlihat sangat bagus.
"Bingung a milihnya karena semuanya bagus" Seloroh Riko demi mendapati wajah Rian yang kebingungan.
"Ah iya, kau benar Rik, semua foto ini bagus. Gak salah gue milih Lo yang jadi tukang foto" Jawab Rian.
"Hahaha" Riko justru tergelak.
"Ya uda cetak aja semuanya" usul Riko lagi.
"Foto sebanyak ini mau gue pajang dimana, kalau di cetak semua" ucap Rian lagi.
Maudy yang sudah mulai gerah karena masih mengenakan gaun yang panjang, akhirnya mendekati Rian.
“Mana yang di pilih ?” tanya Maudy.
“Belum ada yang dia pilih” jawab Riko sambil menunjuk Rian. “Bingung dia mau pilih yang mana katanya bagus semua” lanjut Riko lagi.
Rian menatap Riko dengan kesal, lalu menatap kearah Maudy dengan senyuman paling menawan.
“Kamu aja yang milih dek !” ujar Rian lalu menggeser tubuhnya untuk memberi ruang kepada Maudy.
“Pilih aja lah Mas, udah panas nih aku udah gak tahan” balas Maudy sambil mengibaskan kedua tangannya kedepan wajah untuk menghilangkan rasa panas yang ada.
Rian dapat menangkap kening Maudy sudah mulai bekeringat.
“Kita ke Studio saja gimana, biar enak milihnya” usul Riko.
“Lah kenapa gak dari tadi sih” gerutu Rian
“Ya gue kira kalian mau langsung pergi setelah ini”
Rian mendelik kesal kearah Riko, namun langsung menuntun sang kekasih untuk segera menuju mobil.
“Gue tunggu di studio" teriak Rian kepada Riko yang masih memberesi perkataan fotonya.
“Sipp” balas Riko yang juga berteriak.
Setelah sampai di mobil Rian langsung membesarkan suhu AC supaya Maudy tidak lagi kepanasan.
“Mau beli minum dulu gak ?” tanya Rian sebelum menjalankan mobilnya.
“He em aku mau, tolong belikan aku Minuman yang dingin ya Mas !”
Rian mengangguk, dia kembali turun untuk membeli minuman, Rian menatap jualan jus pasti akan sangat segar meminumnya.
Tak terlalu lama Rian langsung memesan 2 jus untuk nya dan Maudy, setelah itu ia kembali ke mobil.
“Nih” Rian memberikan satu cup jus kepada Maudy.
“Makasih Mas”
Sruuuutt.
Terdengar bunyian cara meminum Maudy, seketika Rian melirik dimana gelas plastik itu hampir habis isinya.
“Haus banget ya ?” Tanya Rian sambil menarik tisu untuk membersihkan bibir Maudy.
“Kan kamu yang milih di Kotu ( Kota tua)”
Setelah memilih beberapa foto Rian dan Maudy langsung menuju tempat pembuatan Undangan, disana terdapat beberapa jenis undangan untuk acara pernikahan, dan Maudy sendiri yang milih.
“Mau ada foto kedua orang tuanya juga gak ?” tanya pegawai disana
“Enggak usah cukup nama mereka saja, lagian foto kami hanya satu” jawab Maudy.
Rian hanya tersenyum menatap Maudy yang tampak antusias memilih undangan pernikahan mereka.
“Semoga Mas selalu bisa menjaga tawa kamu sayang” batin Rian.
Setelah menemukan pilihan nya, Maudy kembali mendekati Rian.
“Udah ?” tanya Rian.
“Udah sayang, tinggal nunggu jadinya katanya Lusa udah bisa di ambil” jawab Maudy.
“Baiklah kalau begitu, ayo pulang”
Sementara itu...
“Kenapa wajah kamu kusut begitu ? apa yang terjadi dengan Alwi ?” tanya Mama Mira.
Dewi menggeleng “Alwi baik-baik saja Ma” jawab Dewi lesu.
“Terus kenapa kamu murung seperti ini ? apa kamu bertengkar dengan Afnan ?”
Lagi dan lagi Dewi menggeleng, membuat Mira mendesah frustasi.
“Kapan coba Mas Afnan pernah marah Sama Dewi ma”
“Kalau begitu apa yang terjadi ?”
Dewi diam saja, tak tau harus bagaimana karena bingung harus bercerita atau tidak, tapi jujur setelah pertemuan nya dengan Rian di rumah sakit beberapa hari yang lalu, Mendadak perasaan Dewi menjadi bimbang padahal selama ini ia sudah tidak pernah memikirkan pria itu lagi.
Pikirannya berkenalan kebeberapa tahun silam, saat ia akan menikah dengan Afnan namun kabar mengejutkan terjadi ternyata ia sudah hamil dan Dewi yakin itu anak nya Rian, namun Afnan tetap menikahi Dewi hanya untuk menutupi status anak itu, walau dalam agama perceraian Dewi tidak sah karena sudah pasti saat Rian menalak Dewi waktu itu ia sudah hamil.
Tapi untuk bersama lagi itu tidak mungkin apalagi pernikahan Dewi dan Afnan akan segera di laksanakan.
“*Kalau dalam agama perpisahan Dewi tidak sah, namun dalam negara perpisahan nya sudah resmi karena Surat perceraian itu sudah keluar dan sudah di tanda tangani kedua bela pihak”
“Untuk anak dalam kandungan Dewi aku yang akan menjadi Ayah sambung nya, pernikahan ini akan tetap dilaksanakan tapi aku tidak akan menyentuh Dewi karena hukum nya masih haram, nanti setelah Dewi melahirkan kita adakan nikah ulang*”
Begitu ucapan Afnan saat mengetahui kalau Dewi hamil, entah berat atau tidak namun Dewi menerima semuanya.
Selama mengandung Afnan selalu memberikan perhatian lebih kepada Dewi, memperlakukan Dewi layaknya seorang ratu di istana,hanya saja Afnan tidak pernah menyentuhnya karena bagi Afnan itu masih haram.
Dan setelah anak itu lahir akhirnya Afnan dan Dewi menikah lagi dan pernikahan mereka resmi secara agama dan Negara.
Tapi tetap saja di Akte kelahiran Alwi tertulis nama.
Muhammad Alwi Abraham dan Ayahnya adalah Rian Almer Abraham.
“Dewi ” panggil Mira.
“Iya Ma"
“Malah melamun, ada apa sih ?” Mira masih heran dengan kelakuan Dewi. Semenjak pulang dari rumah sakit Dewi menjadi aneh, lebih sering diam dan tak banyak bicara.
“Apa sudah saatnya kita ngasih tau Mas Rian kalau Alwi anaknya ?” tanya Dewi menatap Mira.
“Tidak boleh, sampai kapanpun Alwi adalah anak kamu dan Afnan, pria bejat itu tidak boleh tau semuanya, lagian yang Mama dengar sudah mau nikah lagi kan" hardik Mira tak terima jika Rian tau semuanya.
“Tapi Mas Rian berhak tau Ma”
“Kau mau menghancurkan pernikahan mereka ?” sahut Papa yang entah datang dari mana..