Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Episode 165


Rian pulang dengan keadaan lesu, rasa sakit campur kecewa membuatnya tak berangkat kerja, lagian buat apa kerja dalam keadaan kacau seperti itu, tak akan membuat fokus.


“Kakak”


Pelukan erat Rian berikan untuk sang Kakak, saat dia sudah berada di rumah, membuat Kenan bingung dengan kelakuan adiknya saat ini.


Tidak ingin bertanya terlebih dahulu, Kenan hanya membiarkan Rian memeluk nya dengan erat.


Hingga suara isakan tangis yang Kenan dengar menyandarkan nya kalau sudah terjadi sesuatu kepada adik semata wayang nya itu.


“Kamu kenapa ??” tanya Kenan sembari melepaskan pelukan Rian.


“Dia benar-benar pergi Kak, dia benar-benar bukan lagi milik ku. hiks--hiks--hiks. Dia, dia” Rasanya Rian sudah tidak sanggup mengatakan lagi, mengenai Dewi yang saat ini telah menjadi istri orang lain.


“Dia siapa ?. Apa maksudnya ??”


“Dewi Kak, dia sudah menjadi milik orang lain”


”Kamu ketemu sama Dewi ?? Kapan ??”


“Tadi pagi di taman, kami tak sengaja bertemu, tapi pertemuan ini membuat aku sadar kalau kami memang tidak lagi berjodoh”


Kenan terdiam, pantas saja adiknya pulang dengan mata sembab dan juga keadaa kacau, ternyata dia baru saja bertemu dengan Dewi.


Tepukan halus Kenan berikan kepada sang adik. Memberi kekuatan dan juga semangat bahwa semuanya baik-baik saja. Tidak ada gunanya juga bersedih kalau memang kenyataan nya seperti ini, lebih baik Rian membuka lembaran baru.


Sulit memang tapi bagaimana lagi, ini sudan jalan takdir.


“Dia pergi gara-gara aku Kak, jika saja aku tak memperlakukan dia dengan buruk mungkin saja saat ini dia masih menjadi istriku” Rian kembali berkata dengan suara isakan tangis nya.


“Berhenti menyalahkan diri sendiri Rian, kamu bersikap seperti itu karena Dewi juga. Jadi berhentilah berpikir kalau semua itu salahmu, sekarang waktunya kamu untuk membuka lembaran baru”


...**************...


Rian masuk kedalam kamarnya, masih dalam keadaan yang sama, Sedih dan kecewa.


Huuuuuuuu


Berulang kali dia menghela nafas kasar, saat ini hatinya terasa remuk redam, penantian nya selama 4 tahun terjawab sudah, kenapa harus seperti ini pertemu mereka ??


Berjalan kearah lemari dimana ada beberapa baju Dewi yang masih dia simpan, baju itu dia bawah dari rumahnya, sengaja karena Rian ingin merasa Dewi selalu di dekatnya. Tapi sekarang itu sudah tak layak lagi untuk dia lakukan Dewi sudah menikah, tak baik baginya masih mengenang wanita yang sudah resmi menjadi milik orang lain.


Tangan nya terulur mengambil beberapa tumpukan pakaian yang tersusun dengan rapih, bahkan wangi parfum khas Dewi masih sedikit-sedikit tercium oleh hidungnya, membuat dadanya bergemuruh akan hal itu.


“Terima kasih karena telah memberikan aku Cinta, terima kasih pernah mengandung anak ku. Maafkan atas sikap bajingan ku selama ini”


Pakaian itu dia masukan kedalam plastik hitam yang dia temukan di laci lemarinya, setelah itu Rian keluar dari kamar.


“Bik tolong buang ini !!” pinta Rian kepada Bik Mina yang saat itu sedang menyapu.


“Apa ini Den ?” Bik Mina bertanya karena bingung.


“Kalau Bibik mau tau buka aja !! terserah Bibik mau di buat apa, asal barang itu jangan kelihatan di mata Rian lagi”


Rian meninggalkan Bik Mina yang hanya mengangguk kepalanya atas perinta yang Rian berikan.


“Baju ?? baju siapa ini ?? sepertinya masih bagus” ucap Bik Mina setelah mengetahui isi dalam plastik hitam itu.


...*************...


Hari-hari berikutnya, Rian sudah mulai membuka diri untuk kelanjutan hidupnya, buat apa juga dia hidup larut dalam kesedihan Toh Dewi juga tidak akan kembali padanya. Benar kata sang Kakak kalau mereka tidak berjodoh.


Jalanan ibu kota hari ini terlihat sangat ramai padahal masih sangat pagi, membuat Rian kesal karena dia selalu berhenti akibat macet.


“Sial”


Umpatnya kesal saat lampu merah menyalah dengan terang di pinggir jalan, membuat nya harus kembali menghentikan mobilnya padahal pagi ini ada jadwal operasi di rumah sakit.


Dengan sedikit berlari Rian masuk kedalam rumah sakit, nafasnya ngos-ngosan karena dia sudah sangat telat. Ini pasti karena macet tadi.


“Tumben telat” ucap Seno teman Rian sesam dokter.


“Macet”


“Macet apa kesiangan ??”


“Dua-duanya”


“Haha, makanya cari istri lagi, biar ada yang bangunin untuk berangkat bekerja,lagian kamu anak orang kaya kok ya lebih memilih tinggal sendiri”


Iya setelah mengetahui kalau Dewi sudah menikah lagi, Rian benar-benar membuka lembaran baru, dia bahkan keluar dari rumah sang Kakak karena Rian ingin hidup sendiri, bahkan Rian lebih memilih tinggal di sebuah kontrakan kecil yang jauh dari kata mewah.


Hidup sederhana sudah Rian jalani hampir semingguan, Kenan dan Papa Bayu hanya mendukung yang penting Rian bisa move on.


Apapun keputusan kamu, Papa akan setuju saja asal kamu bahagia, dan yang terpenting kamu bisa melupakan Dewi.


Begitulah yang Papa Bayu ucapkan saat dia pamit kepada sang Papa untuk keluar dari rumah, dan memilih mencari kontrakan sendiri.


Saking ingin mandiri Rian bahkan pindah ke tempat kerja, dan dari sana lah Rian berteman dengan Seno.


“Nanti lah aku nikah kalau udah dapat yang pas” ucap Rian menjawab perkataan Seno.


“Mau nyari yang mana Rian ?? tuh sepertinya dokter Maudy suka sama kamu, udah sikat aja”


“Enggah Ah, nanti aja aku belum kepikiran untuk melamar wanita”


Sebenarnya bukan karena tidak kepikiran hanya saja Rian masih trauma dalam berumah tangga, dia takut kembali menyakiti wanita lagi dan tidak bisa mengontrol emosinya.


Semua orang memang ingina berubah begitupun dengan Rian, di dalam sholatnya Rian berdoa semoga bisa di pertemukan dengan perempuan yang Soleha.


Di hatinya terbesit keinginan agar menemukan wanita seperti Dewi lagi, ya setidaknya persamaan nya lah, tapi kemana dia mencari mau keujung dunia pun Dewi kedua tak akan dia temukan. Atau bila memang Dewi ada kembaran tentu saja sikap dan sifat beda.


“Ayo keruangan, operasi akan segera di laksanakan" ajak Seno kemudian.


“Baiklah”


_


_


_


BERSAMBUNG.