Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Gara-gara laki-laki


Hari mulai siang pasangan pengantin baru ini masih merebahkan dirinya di atas ranjang, entah sudah berapa ronde yang mereka lakukan dari semalam.


Kruyyyuuukkk


Bunyi perut Tita menyeruak, ia hanya bisa tersenyum kecut saat sang suami menoleh kepadanya.


"Kita pesan makanan ya" ucap Troy mengambil ponselnya.


"Sebaiknya begitu, jika tidak aku bisa masuk angin karena terus-terusan tidak memakai baju dan juga belum makan" jawab Tita membuat Troy tersenyum puas. Mereka memang tidak memakai pakaian sehelaipun sekarang.


Kkriiinggg Kriiingggg


Dering ponsel Tita, panggilan tersebut rupanya berasal dari Nafiza. Tita membuka layar kunci ponselnya dan menerima panggilan dari sahabatnya.


"Halo Fiz"


"Halo pengantin baru" sapanya.


"Ada apa bumil menelponku?"


"Sepertinya kalian berada di dalam kamar hotel ya dan sekarang masih di atas ranjang?"


"Bagaimana kamu tahu?" Tita menarik selimutnya tinggi menutupi tubuhnya.


"Feeling saja. Hahaha. . Emm tidak kok aku ada di hotel tempat kalian menginap, aku sedang makan di restoran" wanita hamil ini mengidam makanan yang ada di restoran tempat Tita menginap.


"Oh aku kira di kamar ini ada CCTV yang terhubung denganmu"


"Kamu gila ya Ta, mana ada CCTV di dalam hotel. Bisa-bisa terumbar semua aib pengunjungnya"


"Hehe, kan aku kira. Ya sudah tunggu aku di sana ya, aku dan kak Troy kebetulan belum makan"


"Wah sepertinya kalian sibuk menikmati malam pertama sampai lupa makan" goda Nafiza.


"Iiisshhh kok kamu tahu. Hahahaha" Tita dan Nafiza berbagi gelak tawa bersama. "Aku akan mandi dulu, tunggu aku ya"


"Baik, jangan terlalu lama mandinya"


"Siap bumil" Tita mematikan saluran teleponnya.


"Tuan Brian dan nona Nafiza ada di sini?" tanya Troy mendengarkan percakapan Tita.


"Iya, kita susul mereka ke bawah ya, sebaiknya kita cepat mandi"


Tita menyibakkan selimutnya, turun dari ranjang, ia berjalan cuek tanpa pakaian di depan Troy, suaminya itu hanya bisa menelan salivanya melihat dua bokong kecil bergerak ke kiri dan ke kanan.


"Kak Troy tidak mandi?" tanyanya menoleh pada Troy dengan mulutnya yang menganga.


"Mau kok mau mandi" Troy menutup mulutnya saat menjawab pertanyaan Tita.


"Ya sudah ayo"


"Maksud Tita mandi berdua? mandi bersama? kita?" Troy menunjuk Tita dan dirinya dengan jari telunjuknya.


"Iya, biar cepat aku sudah sangat lapar"


Mendengar perkataan Tita, Troy segera melempar selimut dan berjalan cepat menghampiri istrinya, ia sangat bersemangat, ia bahkan menarik tangan Tita mengajaknya masuk ke dalam kamar mandi.


"Eh pelan-pelan kak Troy"


Rencana awal Tita menargetkan proses mandi sekitar 10 menit akhirnya berlalu hingga 30 menit, pasangan pengantin baru ini sepertinya sangat kasmaran. Tita pun merasakan mandi yang biasanya terasa dingin ternyata bisa berubah menjadi sangat panas, bukan karena suhu airnya akan tetapi. . . Mungkin para readers yang sudah berpengalan bisa membayangkannya. Hahahaha


Kini Tita dan Troy berjalan menuju restoran, sebelumnya ia tadi sempat menelpon Nafiza menanyakannya apakah masih berada di sana. Rupanya sahabatnya itu setia menunggu kedatangan Tita.


"Selamat siang tuan" sapa Troy pada Brian.


"Hai Troy"


"Maaf ya lama" sapa Tita menepuk pundak Nafiza.


"Tak apa, kami pernah merasakan hal yang baru kalian lalui. Aku memakluminya" jawab Nafiza, dia memperhatikan cara Tita berjalan yang sedikit berhati-hati dan menahan sesuatu.


"Ada apa dengan cara berjalanmu?" bisik Nafiza di telinga sahabatnya.


"Maksudmu?" Nafiza tak mengerti.


"Aku sampai sulit berjalan karena kak Troy" Nafiza tak bisa menahan tawa mendengar perkataan Tita.


"Wah aku kalau sampai sulit berjalan gara-gara Brian sih belum pernah, karena dia selalu lembut dan pelan"


"Kak Troy juga lembut dan pelan hanya saja sedikit besar"


Nafiza semakin tertawa renyah, tak terbayangkan olehnya akan mendengar cerita mesum dari Tita.


"Sebesar apa?" tanyanya penasaran.


"Sebesar ini" Tita mengepalkan tangannya di depan Nafiza, mereka hanya bercanda.


"Sepertinya kalian senang sekali membicarakan hal vulgar" timpal Brian sedari tadi mendengarkan.


"Ini urusan ibu-ibu Brian tidak usah ikut-ikutan" jawab Nafiza ketus.


"Yang menjadikan kalian bisa jadi ibu-ibu kan karena ada bapak-bapak, sesama perempuan memang menyukai ya saling berbagi cerita pengalaman mereka seperti itu"


"Aku rasa hampir semua wanita yang sudah menikah pola pikirnya menjadi sedikit mesum, contohnya Tita ini"


"Kalau Tita sih bukan sehabis menikah baru mesum, sebelum menikah juga sudah mesum" ledek Troy pada istrinya. Tita menepuk bahu Troy pelan.


"Kak Troy sekarang sudah tidak jadi pemalu ya" goda Nafiza.


"Saya masih malu-malu kok nona, malu-maluin. Hehe"


"Katanya kalian belum makan, sudah cepat pesan makanan sana" ujar Brian.


"Iya tuan" Mereka pun makan bersama, terkecuali Brian, dia sudah makan terlebih dahulu saat menunggu sekretarisnya itu datang, kalau Nafiza dia juga sudah makan menemani Brian tetapi ia sudah menambah kembali jatah makannya, si kembar triplet seperti tidak ada kenyangnya.


***


Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kini perut Nafiza sudah membesar, usia kandungannya sudah mencapai 36 minggu. Ukuran perutnya berbeda dari ukuran perut ibu hamil biasa, maklum saja di dalam rahimnya itu ada tiga janin yang berkembang.


Nafiza sudah merasakan sesaknya jika makan sedikit banyak, selalu ingin buang air kecil dan tentu saja sekarang ia mulai sulit tidur dan bergerak.


Malam hari, kegiatan rutin Brian mengelus dan mengajak berbicara ketiga bayi kembarnya.


Sebenarnya ia juga merasa kasihan terhadap Nafiza yang sekarang selalu berkeringat, mungkin rasanya benar-benar panas. Ia melihat keringat mengucur di pelipis matanya.


"Apa ACnya harus di ganti? sepertinya kamu sering kepanasan" Brian mengusap wajah Nafiza pelan.


"Memang katanya ibu hamil selalu merasa kegerahan, AC kamar kita tidak perlu di ganti, uangnya lebih baik di tabung untuk keperluan bayi-bayi kita nanti"


Mendengar perkataan Nafiza yang mulai dewasa membuat hati Brian sedih. Gadis yang di nikahinya ini dulu hanya seorang anak kecil yang kekanak-kanakkan dan banyak maunya tetapi kini dia sudah menjadi dewasa, bahkan Nafiza sekarang sudah bisa membuat keputusan besar terhadap hidupnya. Ia rela menunda kuliah demi fokusnya akan menjadi seorang ibu, padahal ia bercita-cita sekali ingin menjadi seorang psikiater meski akhirnya tidak di terima pada jurusan yang di tujunya tetapi ia tetap bersemangat untuk mencapai pendidikan tinggi dan lagi-lagi harus terhalang karena kehamilannya.


Gadis yang di nikahinya ini sudah tumbuh besar, Brian mengecup kening Nafiza, wanita yang sangat di cintainya.


"Maaf ya semua mimpi masa mudamu harus tertunda"


"Tak apa, aku masih bisa melanjutkan cita-citaku setelah anak-anak kita besar nanti, yang penting mereka sehat"


"Aku sangat mencintaimu Nafiza"


"Aku juga sangat mencintaimu suamiku"


Keduanya saling bercumbu mesra namun tiba-tiba Nafiza merasakan sakit di perutnya.


"Aw" meringisnya sambil memegang perutnya.


"Kenapa?" tanya Brian panik.


"Perutku sakit"


"Apa mereka akan segera lahir?"


***


Bersambung