
Seminggu berlalu semenjak kejadian yang paling membuat Maudy syok setengah mati akibat lamaran mendadak yang di lakukan oleh Rian. Kini membuatnya menghindar. Seperti sebelumnya tidak saling kenal. Karena memang begitu kan.
Tapi sekarang kenapa ada yang beda. Saat melihat wajah Rian membuat nya kesal bercampur bahagia. Eh kok bisa.
Kamu mau kan aku lamar ?
Sebuah kalimat yang dari dulu ia tunggu ucapan nya dari sosok laki-laki. Tapi entah kenapa mala Rian yang mengucapkan nya.
Cinta. Mungkin memang dia mencintai Rian. Merasa kagum saat pertama sekali bertemu dengan laki-laki itu. Tapi untuk menjadi istrinya secepat itu jelas membuat nya menolak karena dalam ringkasan yang selalu tertulis di dalam buku diarynya Maudy ingin menikah dengan kalau sudah mengenal satu sama lain.
“Maudy”
“Maudy tunggu”
Ia bukan tak mendengar panggilan dari laki-laki yang sedari tadi terus meneriaki namanya. Hanya saja untuk saat ini ia belum ingin bertemu dengan Rian terlebih dahulu.
“Maudy tunggu !!”
Sebuah tarikan sedikit kasar ia terima. Membuatnya langkah nya berhenti.
“Ada apa Dokter Rian ??” tanya Maudy tanpa menoleh sedikitpun.
“Kenapa kamu menghindari ku ?? Apa aku ada salah sama kamu ??” kata Rian balik bertanya.
“Tidak”
“Terus kenapa kamu menghindar ? Nomor ku kamu blok, apa coba namanya kalau gak ngehindar” sungut Rian dengan sedikit kesal saat mengingat tentang Maudy yang selalu menjauh sejak insiden waktu itu.
“Tau” Ucap Maudy lagi sambil mengangkat kedua bahunya.
“Apa karena lamaran ku waktu itu ??”
Bola mata Maudy membulat sempurna, ternyata Rian masih mengingat tentang kejadian waktu itu yang dia ingin sekali melupakan nya.
“Jika memang karena waktu itu kamu marah. Aku minta maaf !!”
“Tapi tolong jangan jauhi aku. Tidak apa jika kamu belum mau menerima lamaran ku. Aku akan berusaha lagi sampai kamu mau”
Sederatan kalimat yang Rian ucapkan membuat tengkuk Maudy meremang. Ada rasa yang sulit untuk di jelaskan. Antara terima atau tidak.
“Udah ah aku mau pulang” Ujar Maudy hendak melepaskan pergelangan tangan nya yang masih di cengkam oleh Rian. Memilih menghindar dari pertanyaan dan ucapan yang Rian katakan tadi. Bukan tak bermaksud untuk tidak menjawab hanya saja dia bingung apa yang harus dia katakan.
“Aku Anter. Kamu tunggu disini !” pinta Rian yang sudah melepaskan genggaman nya.
“Tidak perlu !! aku bisa pulang sendiri”
Rian menoleh menatap bola mata berwarna hitam itu dengan pandangan tak menentu. Sejurus kemudian dia tersenyum.
“Kata Seno kamu tidak bawa mobil. Biar aku Anter pulang”
“Tidak usah aku bisa naik taksi”
“Kalau naik taksi harus ngeluarin duit. Kalau sama aku enggak kan ??”
“Eh”
Rian mengu lum senyumnya. Merasa senang melihat kekesalan Maudy. Entahlah dia seperti ada hiburan sendiri selain menggoda dua keponakan nya. Keyla dan Zio.
“Udah tunggu disini !! jangan kemana-mana” kata Rian dengan suara tegas.
“Memang nya kenapa kalau aku kemana-mana ??”
“Biar aku gak susah nyari !!”
Rian langsung meninggalkan Maudy yang masih terlihat kesal. Terserah lah dengan tingka Maudy yang masih marah sama dia yang penting sekarang usaha kalau dia ingin menjadikan wanita itu pendamping hidup. Buru-buru memang tapi Rian ingin langsung menikah tanpa embel-embel pacaran seperti dia dan Dewi dulu.
Ingin kembali membina rumah tangga. Dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan fatal seperti dulu lagi.
**********
“Kenapa diam terus ??” tanya Rian saat di perjalanan pulang mengantar Maudy.
Iya karena bujuk rayu Rian dan sedikit adegan pemaksaan akhirnya Maudy menerima tawaran Rian untuk mengantarnya pulang.
Namun di dalam mobil dia hanya diam saja, memalingkan wajahnya menghadap keluar jendela. Sesekali ekor matanya melirik kesamping dimana pria tampan nan gagah itu tengah fokus ke kemudia dan jalanan yang padat.
“Kamu tau rumahku ??” akhirnya dengan pikiran bingung Maudy memilih bertanya. Dari pada dirumah dia terus kepikiran dari mana Rian mendapatkan alamat rumahnya.
“Tau” jawab Rian singkat.
“Dari mana ?.”
“Kalau nyari alamat doang mah kecil” sambil menunjukan jari kelingkingnya di hadapan Maudy.
“Nyari kamu yang susah” lanjutnya lagi.
“Udah deh !” cibir Maudy mendengar gombalan receh dari Rian.
“Kok udah ?? mulai aja belum” balas Rian lagi.
“Aku serius Rian” hentak Maudy dengan geram.
“Iya aku juga serius. Serius banget malahan”
“Serius apanya ??” tanya Maudy bingung.
“Serius mau jadiin kamu istri aku”
Blaaaasssss.
Dengan segera Maudy kembali memalingkan wajahnya yang tiba-tiba berubah menjadi berwarna merah bak kepiting rebus.
Ciiiitt.
Suara Rem yang di injak Rian terdengar begitu saja. Maudy baru menyadari kalau dia sudah sampai di depan rumahnya. Ternyata Rian benar-benar tau alamat rumahnya. Hebat.
“Makasih” ucap Maudy Jutek. Sambil membuka pintu mobil tanpa embel-embel untuk mengajak nya mampir terlebih dahulu.
“Sama-sama. Aku gak boleh mampir nih ?? nanti malam. Malam Minggu kan ??” ucap Rian sambil bertanya.
Maudy yang hendak menurun kan sala satu kakinya kembali dia urungkan. Dia menoleh kebelakang dimana Rian tengah tersenyum kearahnya.
“Iya kenapa memangnya ??” kembali Maudy menjawab dengan nada jutek.
“Keluar yuk. kalau enggak sibuk tapi” ajak Rian dengan sungguh-sungguh..
“Kemana ?”
“Kemana aja yang penting jalan”
“Lihat nanti kalau gak sibuk”
“Ok”..
Maudy turun di pandangi Rian dengan senyum merekah. Setelah pintu kembali di tutup oleh Maudy iya menjalankan mobilnya untuk pulang kerumah.
*Din
Din
Din*
Suara klakson Rian bunyikan saat melewati Maudy. Tak ada lambaian tangan seperti yang dia harapkan tapi itu saja membuat nya bahagia.
“Maaf Maudy mungkin permintaan ku begitu cepat untuk mengajak mu menikah. Tapi aku benar-benar ingin berumah tangga bersama kamu. Walau sebenarnya nama Dewi masih ada di hatiku”
Jelas saja kalau nama Dewi masih bertakhta di hatinya sampai saat ini. Mereka menjalin hubungan sebelum menikah sangat Lama walau itu mereka jalani dengan LDR.
Apalagi dulu dia dan Dewi saling mencintai. entah setan apa yang merasuki nya dulu sampai bisa sekejam itu kepada wanita. Hanya karena satu kesalahan.
.
Seandainya dia mampu bersabar mungkin saat ini dia kembali mempunyai anak. Atau bahkan seumuran dengan anak Dewi yang tak sengaja dia temui di taman waktu itu.
Ah mengingat nama Dewi lagi membuat dada Rian kembali sakit. Dia harus segera melupakan wanita itu. bukan kah dia berjanji akan serius dengan Maudy.
Tak ada gunanya mengingat yang telah lalu. Karena itu akan selalu membuat Rian merasa bersalah. Tapi melupakan semua itu juga butuh waktu.