Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Anak


Nafiza mengeluhkan sakit di perutnya dan Brian memutuskan untuk segera membawa Nafiza ke rumah sakit. Mereka telah menghubungi kedua orangtua mereka namun sayang, baik orangtua Brian maupun orangtua Nafiza membutuhkan waktu untuk sampai di sana. Orangtua Nafiza sedang berada di luar pulau dan orangtua Brian sedang berada di Amerika.


Keduanya kini sedang menunggu hasil pemeriksaan dokter.


"Apa perutmu masih sakit?" tanya Brian duduk di samping Nafiza sambil memegangi tangannya.


"Sekarang sedang tidak sakit, tapi beberapa waktu yang lalu terasa sakit"


"Menurut bidan memang sakitnya akan datang dan pergi jika pembukaannya belum banyak, jika terasa sangat sakit kamu boleh mencakarku, memukulku atau menjambak rambutku" Nafiza tersenyum mendengar hal itu.


"Aku tidak akan tega melakukannya kepadamu" Melihat aura kepanikan dan keresahan yang tergambar dari wajah Brian membuat Nafiza sedih dan terharu, ia sangat bersyukur memiliki suami yang baik dan setia sepertinya, tak terasa Nafiza meneteskan airmata.


"Kenapa kamu menangis? apa terasa sakit lagi? apa aku harus memanggilkan dokter?" tanya Brian gelisah.


Nafiza menggelengkan kepalanya, ia mencoba untuk duduk di bantu oleh Brian. Mendengar pertanyaan Brian membuat hatinya semakin sedih.


"Brian ah tidak, suamiku maafkan aku jika selama ini aku belum menjadi istri yang baik, aku melakukan banyak kesalahan, begitu banyak dosa yang aku perbuat kepadamu, kamu begitu menyayangiku tetapi aku kadang menjadi semena-mena terhadapmu" buliran air mata Nafiza semakin deras, Brian pun tak kuasa melihat permohonan maaf dari istrinya.


"Jangan berkata seperti itu, kamu membuatku takut. Selama ini kamu sudah menjadi istri yang baik, aku pun tidak sempurna, aku banyak membuat kesalahan" Brian duduk di samping Nafiza dan memeluknya, lelaki yang biasa tegar ini tak kuasa menahan kesedihannya, dia ikut meneteskan air mata. Brian mengelus pelan rambut Nafiza.


"Aku sangat mencintaimu"


"Aku juga sangat mencintaimu, banyak-banyak berdoalah meminta kepada Tuhan agar kamu dan ketiga anak kita akan baik-baik saja" Brian melepas pelukannya dan menyeka air mata di pipi Nafiza, wanita itu pun melihat mata suaminya yang memerah dan beberapa buliran air mata di wajahnya ia ikut menyekanya.


"Nyonya Nafiza" panggil suster saat memasuk ke dalam ruangan Nafiza.


Brian segera berdiri.


"Hasil pemeriksaannya sudah keluar, kondisi ibu semua hasilnya baik, darah normal, tidak memiliki riwayat penyakit kronis, untuk kondisi bayi, karena ada tiga janin ada yang posisinya sudah bagus berada di pinggul, ada juga yang sungsang, salah satu bayi terlilit tali pusar sehingga detak jantungnya melemah, kondisi ini tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, nyonya harus menjalani operasi caesar" jelas suster.


"Kami pasrahkan pada dokter dan perawat yang ada di sini, jika itu yang terbaik tak apa suster"


"Baik tuan, mohon untuk mengurus administrasinya. Sekitar dua jam lagi operasinya akan di mulai" ucapnya seraya pergi.


"Aku akan keluar sebentar" pamit Brian, Nafiza menganggukan kepalanya.


Saat Brian menuju keluar, Troy sudah berada di depan pintu.


"Tuan" ucapnya membungkukan badan.


"Troy aku akan mengurus administrasi Nafiza, bisakah kamu menemaninya sebentar di dalam"


"Baik tuan" Brian menepuk pundak Troy dan pergi, sekretarisnya itu kini menghampiri Nafiza.


"Nona bagaimana keadaannya?"


"Kak Troy aku baik-baik saja, Tita tidak ikut ke sini kan?"


"Tidak nona"


"Baguslah, ini tak baik untuk mentalnya, aku takut dia trauma, karena kami kan sama-sama sedang mengandung"


"Iya nona"


"Bagaimana apa calon bayi kalian sudah bergerak-gerak di dalam perut Tita?" usia kandungan Tita sudah 20 minggu.


"Sudah nona, sepertinya dia akan menjadi seorang atlit"


"Hah? maksud kak Troy?" Nafiza sedikit tertawa mendengar perkataan Troy, mereka memang sengaja mengobrol untuk menghilangkan ketegangan.


"Bayi itu tendangan keras sekali meski masih di dalam perut, entahlah mungkin jika dia sudah besar nanti akan menjadi atlit sepak bola atau bola voly"


"Kak Troy ini ada-ada saja, biarkanlah nanti dia mau menjadi apa, yang terpenting dia bahagia dan sukses"


"Iya nona"


Nafiza dan Troy pun melanjutkan obrolannya, tak lama kemudian Brian pun datang.


"Apa kamu tegang akan melalui proses operasi?" tanya Brian kembali duduk di samping tempat tidur Nafiza sedangkan Troy memilih untuk duduk di luar.


"Tidak, aku malah ingin semua segera selesai dan bertemu dengan mereka" Nafiza mengelus perut besarnya.


Detik demi detik, menit demi menit pun berlalu, Brian dan Nafiza tak hentinya mengucapkan doa agar proses kelahiran bayi mereka selamat. Kini Nafiza berada di ruang operasi, Brian menunggu di luar dengan resahnya. Kedua orangtua Nafiza juga sudah tiba.


Pintu ruang operasi di buka.


"Tuan Brian" panggil suster.


"Saya sus" Brian, Troy dan kedua orangtua Nafiza menghampiri.


"Bayinya sudah lahir dengan selamat, tuan boleh ikut masuk dan mengadzankannya"


Brian masuk ke dalam ruangan tersebut, kondisi Nafiza masih berada di ruang pemulihan, dia hanya boleh menemui ketiga bayinya.


Air matanya kembali mengalir, melihat ketiga bayi mungil darah dagingnya. Dua bayi perempuan dan satu bayi laki-laki, semuanya lahir dalam keadaan sehat.



Brian mengumandangkan adzan dan iqamah pada ketiga bayinya dengan perasaan bahagia.


" Juno, Jena, Jani, anak-anak kesayangan ayah dan bunda" ucapnya penuh haru memegang jari salah satu si kembar triplet. Terungkap pulalah nama ketiga bayinya yang terinspirasi dari 'Jun', rupanya Brian memang tak bisa bisa move on dari nama tersebut.


***


"Jun, Juno kamu dan kedua adikmu di panggil bunda" ucap Thalia berteriak.


"Jena jani ayo sudah mainannya, nanti kita di marahi bunda" ucap sang sulung pada dua adik kembarnya.


"Biasanya Thalia bohong kak, dia hanya ingin mengambil mainan kita saat kita pergi" ucap jena berburuk sangka.


"Kalau di marahi bunda, aku tidak mau ikut-ikutan ya" timpal Jani sedikit takut.


Karena ketiga anak itu tak kunjung datang akhirnya Thalia memegang tangan adiknya Thalisa yang merengek untuk ikut menghampiri si kembar triplet.


"Kenapa kalian masih di sini? aku bilangkan sudah di panggil bunda kalian" ucapnya marah karena perkataannya tidak di dengarkan.


"Kamu bohong kan? nanti kamu pasti mau mengambil mainan kami kalau kami pergi, kamu mau mainan dengan adikmu kan berdua" ujar jena.


"Aku tidak berbohong, kalau tidak percaya aku akan panggil bunda kalian. Bundaaa juno jena dan jani tidak mau makan katanya" teriaknya.


Kemudian Nafiza menghampiri.


"Juno jena jani mainannya sudah dulu ini waktunya makan"


"Iya bunda" jawab ketiga kompak dan bangun dari duduknya.


"Tuh mereka tidak percaya padaku bunda, katanya aku akan mengambil mainan mereka" adu Thalia pada Nafiza.


"Eh kalian tidak boleh berburuk sangka pada Thalia dan Thalisa kalian kan berteman bahkan seperti saudara" nasihat bunda. "Minta maaf pada Thalia dan Thalisa, anak baik dan pintar tidak boleh seperti itu"


"Baik bunda, maaf ya" ketiganya kompak mengulurkan tangan, mereka pun bersalaman.


Dari jauh Brian dan Troy memperhatikan.


"Anak-anak itu lucu ya Troy, tak terasa mereka sudah besar"


"Iya kak"


"Bagaimana perusahaanmu apakah sudah selesai proyek hotel yang di bangun di Bali?" tanya Brian lagi, beberapa tahun yang lalu Troy membuat keputusan untuk meneruskan perusahaan konstruksi milik ayah Tita, dengan berat hati ia harus berhenti menjadi sekretaris Brian. Mantan majikannya itu tak keberatan dan mendukung Troy dengan pilihannya, tak ada yang lebih penting di bandingkan dengan keluarga. Meski sudah bukan sekretarisnya lagi Brian dan Troy tetap berhubungan baik, malah mereka seperti adik kakak. Troy sendiri sudah memiliki tiga anak selama 4 tahun pernikahannya, bahkan Tita kini sedang mengandung anak keempatnya.


Tita menggendong anak ketiganya dengan keadaan perut buncit.


"Tara sini di gendong bunda yuk kasihan mamanya perutnya sudah besar" ucap Nafiza mencoba menggendong anak ketiga Tita, balita tersebut pun mau.


"Terima kasih ya Fiz"


"Sama-sama, kamu itu hebat sudah punya tiga anak dan sedang mengandung masih aktif ke sana kemari mengurus semuanya" pujinya pada sahabatnya.


"Iya mau bagaimana lagi, awalnya berat dan lelah tetapi lama-lama aku jadi terbiasa ya walaupun repot"


"Lain kali pakai pengaman atau KB"


"Aku tidak mau pakai pengaman rasanya tidak enak, tidak joss. Hahahaha" kedua ibu muda itu pun tergelak tawa.


"Tapi kamu kebobolan terus"


"Tak apa aku mau jadi keluarga Gen petir seperti yang di televisi"


"Itu karena memang ingin punya banyak anak atau kalian doyan?"


"Karena kak Troy doyan. Hahahaha" mereka menyukai pembicaraan seperti itu.


"Eh sudah ayo makan, aku sudah lapar" ucap Brian menghampiri Nafiza.


"Iya sayang"


Kedua keluarga itu pun berbaur makan bersama di sebuah meja besar.


***


TAMAT