Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 23


“Assalamualaikum” Seru Afnan saat memasuki kamarnya.


Dewi menoleh, lalu menyambut suaminya dengan senyuman.


“Waalaikumsalam” Jawab Dewi sembari menyambut tangan sang suami untuk dia cium, kemudian beralih mengambil Sajadah dan peci yang di berikan oleh Afnan.


Dewi berjalan untuk meletakkan kembali Sajadah dan Peci ke tempat biasa.


“Ini pakaian Mas, dek ?” tanya Afnan sambil menunjuk satu stel pakaian yang di letakkan di atas kasur.


“Iya Mas” jawab Dewi.


“Makasih Sayang” Afnan tersenyum menatap Dewi.


Setelah mengganti pakaian, Afnan dan Dewi bergabung untuk sarapan pagi, sembari menunggu hidangan selesai Afnan tak henti-hentinya bercanda dengan Alwi.


“Kamu belum hamil lagi ?” tanya Mama sambil sibuk meletakkan hasil masakan nya ke dalam mangkok.


Dewi hanya menjawab dengan gelengan.


“Masih pakai KB ?” Mama kembali bertanya.


“Semalam udah gak Aku minum Ma” jawab Dewi.


“Bagus kalau begitu” jawab Mama, lalu berjalan meletakkan wajan kotor ke Tempat cucian piring.


“*Memang sudah seharusnya kamu hamil lagi, dan memberikan keturunan untuk Afnan”


“Afnan memang sayang banget sama Alwi, tapi sampai kapanpun Ayah kandung Alwi adalah Rian bukan Afnan”


“Jadi buatlah Afnan merasa jadi laki-laki sempurna dengan cara kamu mengandung dan melahirkan anaknya"


“Laki-laki maupun perempuan sama saja, Afnan bukan laki-laki yang memilih*”


Serentetan kalimat yang Mama ucapkan membuat Dewi menelan ludah Nya berkali-kali, ia hanya menjawab dengan anggukan dan anggukan, karena tak mampu menjawab dengan kata apa.


Memang benar sesayang apapun Afnan dengan Alwi, tetap tidak akan bisa menggantikan posisi Rian sebagai Ayah kandungnya.


“Wah Ayam goreng, Alwi suka Ayam goreng” ucap Alwi begitu riang.


Dewi langsung menyusul kemeja makan dan duduk di samping sang suami, mengambilkan makanan untuk Afnan dan juga Alwi.


“Kalau suka makan yang banyak makanya” balas Afnan sambil mengelus kepala Alwi dengan gemas.


“Siap Abi” Alwi memberikan hormat kepada Afnan membuat mereka smeua yang berada di meja makan menjadi tertawa.


Kemudian semuanya menjadi hening, hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring menjadi pemecah keheningan di pagi ini.


Setelah selesai sarapan, Dewi kembali kekamar, ia mengambil pil KB yang selama ini ia minum lalu membawanya menuju teras samping rumah, dan melemparnya kedalam tong sampah.


“Bismillah” gumam Dewi.


“Apa itu Sayang ?” tanya Afnan yang tiba-tiba muncul di belakang Dewi.


“Astaghfirullah Mas, bikin kaget aja” Dewi mengelus dadanya karena terlalu kaget dengan kedatangan Afnan yang tiba-tiba.


Namun alih-alih menenangkan Afnan justru tertawa, ia mencubit kedua pipi sang istri dengan gemas.


“Uuuhh, gemasnya nyonya Afnan ini”


Di dalam sana sang Mama yang melihat keromantisan anak dan menantunya menjadi tersenyum.


“Semoga kamu benar-benar membuka hati kamu untuk Afnan, Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan mu” batin Mama dalam hati.


Dewi dan Afnan mala saling kejar di samping rumah, namun tiba-tiba mata Afnan menangkap sebuah benda yang di lempar Dewi tadi, lalu menghentikan larinya dan mengambil benda itu.


“Kok di buang ?” tanya Afnan sambil menatap Dewi, memang selama ini Afnan tau kalau istrinya mengenakan KB.


Dewi meraih kedua tangan Afnan lalu meletakkan telapak tangan Afnan di perutnya “Supaya Afnan junior atau Dewi junior segera hadir di dalam sini” kata Dewi dengan serius.


“Masya Allah, jadi kamu sudah siap mengandung anak ku Sayang ?” Tanya Afnan dengan mata berbinar.


Namun Afnan tetap mengangkat tubuh istrinya, berputar dengan gerakan pelan.


“I Love You Dewi Mustika” teriak Afnan tanpa merasa malu kalau ada kedua mertuanya di dalam rumah.


“Aaahh, Mas turunin aku” pinta Dewi


-


-


-


Sementara itu, pasangan pengantin baru yang sedang di Landa kebahagiaan kini sedang bersiap untuk pulang kerumah.


Di perjalanan pulang Rian menceritakan semua kondisi rumahnya kepada Maudy, bagaimana tingka kedua ponakan nya yang terkadang memang jahil.


“Tidak apa-apa Mas, lagian aku suka sama anak kecil” jawab Maudy.


“Oh ya kalau kak Alya pekerjaan nya apa ?” tanya Maudy karena memang dia belum mengenal sosok Alya.


“Kak Alya itu lulusan kedokteran spesialis bedah tau gak, dulu dia kuliah di Singapura dan melanjutkan spesialis di Jakarta” jelas Rian membuat Maudy menganga, ia tidak menyangka kalau Alya yang terlihat biasa saja penampilannya adalah seorang dokter spesialis.


“Tapi dia gak kerja, dulu perna sempat tapi setelah Zip lahir Kak Alya fokus menjalankan perannya sebagai istri dan ibu” Rian kembali berkata.


“Oh” hanya itu jawaban Maudy.


Tidak berapa lama mereka berdua sudah sampai di rumah keluarga Abraham, Rian turun lebih dulu baru berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu mobil sang istri.


“Makasih Mas” ujar Maudy dengan senyuman.


“Wah sudah sampai ternyata” seloroh Alya yang berdiri di depan rumah untuk menyambut kedatangan pengantin baru.


“Apa kabar Kak ?” tanya Maudy saat sudah di dekat Alya.


“Alhamdulillah baik” jawab Alya


“Ayo masuk” Ujar Alya lagi.


Maudy masuk kedalam rumah yang sangat mewah itu, saat menginjakkan kaki nya kedalam rumah Maudy langsung di sambut dengan penampakan rumah yang sangat megah. Di beberapa dinding ada beberapa foto Rian saat wisuda dan bersama Papa Bayu. Ada juga foto Alya sekeluarga dan foto kedua anak Alya yaitu Keyla dan Zio.


Hingga mata Maudy tertuju pada foto cewek bertiga mungkin itulah yang Rian ceritakan waktu itu.


“Papa sama Kak Kenan mana Kak ?” tanya Rian.


“Tadi katanya joging, tapi gak tau kenapa sampai jam segini belum pulang, nanti coba Kakak telepon” balas Alya.


“Sini duduk dek” ajak Rian kepada Maudy.


Maudy mengikuti suaminya dan duduk di sofa, sementara Alya menuju dapur untuk membuatkan minuman.


“Minum dulu Maudy !” ujar Alya sembari meletakkan segelas teh di depan Maudy dan segelas teh untuk Rian.


“Gak usah repot-repot Kak, nanti kalau haus Maudy bisa bikin sendiri” ucap Maudy tidak enak hati.


“Tidak apa-apa sekali-kali, besok-besok kamu yang bikinin Kakak minum” balas Alya bercanda, ia terkekeh.


“Haha, baiklah kalau begitu Kak”


Tidak berapa lama terdengar suara Keyla dan Zio, itu berarti mereka sudah pulang.


Zio yang melihat kehadiran Rian langsung berlari dan duduk di pangkuan Rian.


“Om kapan datang ?” tanya Zio.


“Baru aja, kenapa memangnya ?”


“Om kesingan, harusnya pagi tadi Om datang supaya ikut joging sama kita, seru loh Om, iya kan Kak” Zio melirik kearah Keyla.


“Iya seru banget Om, besok Key mau joging lagi” balas Keyla.