Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 46


Sementara itu, di rumah Rian dan Maudy.


Pagi itu mereka sedang jalan-jalan, untuk memperlancar kelahiran Maudy nanti.


Rian menggandeng tangan Maudy, berjalan dengan sangat pelan. Perut besar Maudy sering kali membuat pernafasan nya naik turun.


"Pelan-pelan saja Sayang !" bisik Rian.


Maudy mengangguk "Berhenti dulu Mas, aku capek" pinta Maudy.


Rian menunjuk sebuah bangku panjang yang berada di pinggir jalan. Lalu menuntun sang istri untuk duduk disana.


"Istirahat disini aja ya !" ajak Rian.


"Iya Mas"


"Capek banget ya dek ?" tanya Rian. Tangan nya mengelap keringat yang bercucuran membasahi kening Maudy.


"Lumayan Mas" jawab Maudy sambil terkekeh.


"Kamu sih, kan Mas bilang pakai mobil saja tapi kamunya gak mau"


Maudy hanya membalas dengan senyuman. Setelah rasa lelah sudah menghilang Maudy dan Rian kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah.


Masih lumayan jauh sih jaraknya. Bukan hanya Maudy yang capek melainkan Rian juga.


-


Setelah sampai di rumah Rian meluruskan kaki istrinya, lalu memberikan pijitan pelan supaya kaki Maudy tak terasa sakit. Apalagi mereka berjalan lumayan jauh.


"Ini minumnya Den" ucap Bi Mina sembari meletakkan segelas air putih di atas meja.


"Makasih Bi" balas Maudy dengan tersenyum.


"Sama-sama Non, jangan sungkan" seloroh Bi Mina. Kemudian berlalu pergi dari hadapan Rian dan Maudy.


Rian mengambil segelas air putih lalu meminumkan ke sang istri. Maudy meneguk minuman nya sampai habis tak tersisa.


"Mau mandi ?" tanya Rian.


"Iya Mas, gerah banget soalnya"


"Ya sudah ayok" Kembali Rian membantu sang istri berjalan.


Melihat kehamilan Maudy membuat Rian memikirkan tentang Dewi saat mengandung Alwi dulu, pasti begitu menderita karena di tenga kehamilan besarnya Dewi tak di temani sang suami.


"Aku bisa sendiri Mas" ucap Maudy setelah mereka sampai di kamar


"Baiklah, hati-hati di dalam"


Maudy memasuki kamar mandi, sementara Rian berdiri di dekat kaca besar yang memperlihatkan bangunan rumah yang menjulang tinggi.


"Semoga lahiran Maudy nanti lancar. Selamatkan istri dan anak hamba ya Allah" batin Rian penuh harap.


Lama Rian berdiri di sana, sehingga saat sang istri keluar dari kamar mandi dirinya tidak tau.


"Mikirin apa Mas ?" tanya Maudy.


Rian terkesiap, ia menoleh ke arah Maudy dimana saat ini istrinya hanya memakai handuk saja, membuat gelora didiri Rian bangkit seketika.


Rian mendekat, ia lingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.


Cup.


Ia mencium kening Maudy dengan sangat dalam. Menghirup aroma sabun yang masih menempel di badan sang istri.


"Hari ini cek kandungan ya ?" tanya Rian.


"Iya Mas, semoga saja tekanan darahku sudah stabil"


"Aamiin..Mas juga berharap begitu"


-


-


Pesawat yang di naiki Afnan sudah lepas landas, Afnan duduk di kursi dekat dengan jendela, matanya terus menatap keluar dimana memperlihatkan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Yang semula terlihat besar kini terlihat sangat kecil atau bahkan ada yang tak terlihat lagi.


Telinga nya mendengarkan sebuah lagu melalui Headset nya. Lagu yang berjudul "Aisyah istri Rasulullah'.


...*M**ulia, indah, cantik berseri**...


Kulit putih, bersih, merah di pipimu


Dia Aisyah, putri Abu bakar


Istri Rasulullah***


Afnan mengikuti lirik lagunya. Hingga jari nya mengklik aplikasi galeri hingga menampakkan foto kebersamaannya bersama sang istri.


Ia tersenyum manis.


Sungguh sweet Nabi mencintamu


Hingga Nabi minum di bekas bibirmu


Bila marah, Nabi 'kan bermanja


Mencubit hidungnya


Lagu yang Afnan dengar terus berputar. Menjadi baground dalam suasana seperti ini.


"I Love You Sayang" gumam Afnan.


Hingga cairan bening itu lolos seketika membasahi pipinya, namun dengan cepat Afnan menghapusnya.


"Sangat merindukan dirimu"


"Sehat selalu, ibu dari anak-anak ku, istri ku selamanya"


Hingga tiba-tiba terdengar suara riuh para penumpang dan kepanikan para Pramugari. Afnan dengan cepat mencopot Headset nya.


"Ada apa.?".tanya Afnan pada penumpang yang terus berteriak.


Tapi sayang tak ada satupun yang menjawab pertanyaan nya, suasana mendadak mencekam. Tangisan para wanita dan anak kecil terus menggema. Kepanikan para Pramugari dan pengumuman terus di laksanakan.


Afnan memperhatikan sekitarnya. Hingga tiba-tiba bayangan sang istri yang sedang tersenyum manis kearahnya seperti dapat ia lihat dengan jelas. Lalu berubah menjadi tangisan yang keras membuat Afnan kembali meneteskan air matanya.


"*Kami belum mau mati !"


"Selamatkan kami !!"


"Tolong !!"


"Allah hu Akbar* !"


Goncangan demi goncangan makin terasa. Afnan berpegangan pada kursi yang ia duduki dengan kuat, lalu tiba-tiba ia merasakan pesawat yang ia tumpangi terjun dengan cepat. Afnan bahkan memejamkan matanya.


"Maafkan Mas sayang, maaf Mas tidak bisa pulang lagi. Jaga anak-anak Sayang"


"Allah hu Akbar"


"Allah hu Akbar"


"Ampuni dosa hamba mu ini ya Allah !"


"I Love you Dewi Mustika"


"Mas mencintaimu selamanya"


Dan duaaar.


Ledakan pesawat itu begitu besar, memercikan api yang begitu besar menewaskan semua orang termasuk Afnan seseorang yang akan selalu di tunggu kepulangan nya.


-


Praangg.


"Astaghfirullah" pekik Dewi kaget.


"Ya Allah Mas Afnan" ucap Dewi saat melihat foto suaminya jatuh kelantai .


"Apa yang terjadi ?"


Saat Dewi hendak mengambil foto suaminya, suara sang Mama membuat dirinya kaget. Dewi langsung keluar kamar dengan tergopoh-gopoh dan menuruni anak tangga.


"Ada apa Ma ?" tanya Dewi.


"Lihat itu Nak !"


Dewi menatap layar televisi.


"Telah jatuh pesawat jurusan Indonesia-Turki siang ini pukul 11:05 Wib. Di perairan ***. Pesawat ** membawa 70 penumpang. Di antaranya 2 balita dan 1 orang bayi. 2 orang pilot dan 9 kru. Semuanya di nyatakan meninggal dunia dan tim masih mengevakuasi jasad korban"


"Tidaakkk".Teriak Dewi.


"Mas Afnan"


"Itu bukan kamu kan Mas"


Dewi teruduk di lantai, Mama Mira memeluk putrinya dengan erat.


"Berikut nama-nama korban"


Hingga layar televisi menampakkan sederetan nama para penumpang di dalam pesawat itu.


"Afnan Aditya pratama" ucap Sang Papa


Tangisan Dewi semakin pecah dadanya terasa sesak..


"Sabar sayang. Ikhlaskan Afnan !" ucap Mama Mira.


"Tidak Ma, itu bukan Mas Afnan" bantah Dewi.


Papa Edi juga tak kalah sedih.


Alwi yang baru datang heran melihat semua orang menangis histeris. Apalagi sang Bunda.


"Kakek kenapa Bunda menangis ?" tanya Alwi


Papa Edi tak bisa menjawab ia langsung memeluk tubuh Alwi dengan erat.


"Ya Allah Dewi" pekik Mama Mira.


"Kenapa Ma ?" tanya sang suami.


"Dewi pingsan Pa, tolong bantu !"


Papa Edi langsung membantu mengangkat tubuh Dewi menuju Sofa, Mama Mira mengoleskan minyak angin di hidung Dewi supaya Dewi segera sadar.


"Kasian anak kita Pa. Baru saja bahagia sekarang harus kehilangan lagi"


"Ini ujian untuk anak kita Ma. Semoga Dewi bisa melewati semua ini dengan ikhlas"


-


-


Kita menangis berjamaah yuk 😭😭