
Perlahan mata Dewi mulai terbuka, ingatan nya kembali dengan kejadian beberapa saat yang lalu.
"Mas Afnan" gumam Dewi lirih.
"Sayang kamu sudah sadar" ucap Mama Mira.
Dewi memandang wajah sang Mama dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak, Mas Afnan tidak mungkin meninggalkan aku, Mas Afnan sudah janji untuk kembali kepadaku ! Mas Afnan janji akan pergi hanya seminggu" batin Dewi.
Ting--Ting--Ting.
Ponsel milik Dewi berbunyi. Papa Edi langsung menjawab panggilan yang ternyata dari Ayah mertua Dewi.
"Ada apa Pa ?" tanya Mama Mira.
"Ustadz Rahman mau kelokasi jatuh nya pesawat. Dia nanya apa Dewi hendak ikut" jawab Papa Edi.
Mendengar itu Dewi langsung bangkit. "Aku mau ikut Pa, aku ingin memastikan kalau itu bukan suamiku. Mas Afnan tidak mungkin meninggalkan aku"
"Tapi Nak, kamu kan sedang hamil besar" Mama Mira tampak khawatir jika Dewi akan ikut ke tempat lokasi jatuhnya pesawat, yang letaknya sedikit jauh dari rumah.
"Aku mau ikut Mama, aku mau ikut. Hiks--Hiks" Dewi kembali terisak.
"Baiklah, Papa dan Mama akan menemani kamu" akhirnya Papa Edi mengizinkan.
"Hubungi Rian Pa, supaya menjemput Alwi" pinta Mama Mira.
"Baik Ma"
-
-
Sementara itu, Papa Bayu juga sedang menonton acara dimana setiap berita memberitakan tentang jatuhnya pesawat.
"Astaghfirullah" gumam Papa Bayu.
"Kenapa Pa ?" tanya Alya yang barusan meletakkan secangkir teh kepada Papa mertuanya.
"Pesawat jatuh Nak, yang mau ke Turki" jawab Papa Bayu.
"Dimana Pa jatuhnya ?"
"Di perairan ****"
"Ya Allah kasian sekali yang di tinggalkan" ucap Alya, yang belum mengetahui jika salah satu penumpang disana adalah suami dari sahabatnya Dewi.
Beda dengan Rian dan Maudy yang saat ini sedang asik bercanda di dalam kamar, menceritakan tentang bagaimana persiapan lahiran nanti, atau memberi nama kepada calon anaknya.
Hingga ponsel milik Rian berbunyi.
"Sebentar ya Sayang" ucap Rian kepada Maudy.
"Iya Mas" jawab Maudy.
Kening Rian mengkerut saat melihat nama mantan mertuanya yang menelpon, tanpa pikir panjang Rian langsung menggeser menu hijau dan meletakkan ponselnya di daun telinga.
"Assalamualaikum Pa" ucap Rian sopan..
"Waalaikumsalam. Maaf mengganggu nak Rian"
"Tidak sama sekali Pa, ada apa ya Pa ?"
"Bisa tolong jemput Alwi Nak, soalnya kami mau ke lokasi tempat pesawat jatuh. Karena salah satu penumpangnya adalah suami Dewi yaitu menantu kami Afnan"
"Apa ?"
Maudy langsung berdiri dan mendekati sang suami.
"Mas Afnan kecelakaan ?"
"Iya, bisa minta tolong jagain Alwi ?"
"Baik Pa, saya akan segera kesana"
Setelah panggilan terputus, Rian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ada apa.Mas ?" tanya Maudy.
"Mas Afnan kecelakaan pesawat, dia korban jatuhnya pesawat itu dek. Mas harus kerumah Dewi untuk menjemput Alwi kamu tidak apa-apakan ?" tanya Rian.
"Tidak Mas, pergila ! kasian Alwi kalau harus di tinggal sendiri"
Rian tersenyum karena istrinya begitu memahami keadaannnya sekarang.
Sebelum pergi Rian mencium kening sang istri sebentar, lalu meraih kunci mobil dan langsung melesat pergi.
"Mau kemana ?" tanya Papa Bayu saat Rian melintasi ruang keluarga.
"Mau jemput Alwi Pa. Papa tau gak kalau suami Dewi adalah korban kecelakaan pesawat"
"Sana jemput Alwi, dan kalau ada yang bisa kamu bantu, bantulah mereka ! karena pasti Dewi sedang menderita sekarang" pinta Papa Bayu lagi.
Rian mengangguk.
-
Setelah sampai di rumah Dewi. Rian begitu jelas melihat raut kesedihan di wajah mantan istrinya itu. Air mata yang selalu menetes serta tatapan mata yang kosong.
"Mas Afnan"
"Mas Afnan"
Hanya itu yang keluar di mulut Dewi.
Rian menjadi iba dengan keadaan Dewi, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena saat ini ia bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah Ayah dari Alwi.
"Titip Alwi dulu Nak, selama kami pergi" ucap Papa Edi.
"Baik Pa, nanti aku menyusul kesana. Alwi biar sama Maudy dan kak Alya di rumah"
Papa Edi mengangguk. Kemudian Rian pamit bersama Alwi. Membawa Alwi kerumah nya dan akan menitipkan Alwi ke istri dan juga Alya.
-
-
Setelah sampai di lokasi kejadian. Tangisan Dewi langsung pecah ia berlari menerobos kerumunan..Suara tangisan dari keluarga yang di tinggalkan menjadi pemecah di sebuah laut itu.
Para polisi dan juga Tim sar terus mencari sesuatu yang mungkin dapat di temukan.
"Mas Afnan" Dewi berteriak. Menghabiskan sisa suara yang masih ada.
"Kamu janji akan pulang setelah seminggu Mas, tapi kenapa kamu pergi. Lalu bagaimana dengan anak-anak kita Mas, bagaimana caranya aku mengurus mereka" Dewi terduduk di hamparan pasir. Memukul dadanya yang terus merasa sesak.
"Dewi" Mama Mira berlari mengejar putrinya, lalu ikut duduk dan mengelus punggung Dewi
"Sabar Sayang" Mama Mira pun ikut menangis.
Dewi menggeleng "Mas Afnan tidak mungkin meninggalkan aku Ma, dia udah janji akan kembali"
Hingga bayangan tentang Afnan kembali terlintas, bagaimana Afnan tersenyum, bagaimana Afnan memanggilnya dengan sebutan sayang atau Dek.
"Mas tidak akan meninggalkan kamu Sayang" itulah kata Afnan.
"Mas, kembali Mas !! hiks--hiks" Dewi kembali berteriak.
Lalu seorang polisi melintas, Dewi langsung mencegat dan bertanya kepada polisi muda itu.
"Suamiku Mana Pak ? suamiku masih hidup kan ?" Dewi mengguncang tubuh polisi itu.
"Maaf Bu, mohon bersabar. Seluruh penumpang belum ada yang di temukan. Tim Sar masih berusaha mencari" jawab polisi.
"Tolong temukan suamiku Pak ! dia begitu berharga dalam hidup saya !" Tubuh Dewi kembali merosot kebawa dengan lemah.
Mama Mira langsung membantu anaknya.
"Apa kemungkinan ada penumpang masih ada yang selamat Pak ?" tanya Papa Edi.
"Kemungkinan Tidak Pak karena pesawat itu jatuh pas di tengah lautan, dan sebelum jatuh pesawat itu meledak. Ada saksi yang melihat dengan jelas" jawab Pak Polisi.
Papa Edi mengelus dadanya, lalu kembali menatap putrinya yang kembali terduduk di hamparan pasir. Memukul pasir atau terkadang berteriak.
"Kamu udah janji Mas akan pergi selama seminggu, bukan selamanya seperti ini"
"Kenapa kamu jahat sekali Mas, kenapa ?"
"Bagaimana dengan anak di kandungan ku Mas, mereka bahkan belum pernah bertemu dengan mu"
"Ku mohon mas Afnan kembali !"
Sederatan kalimat yang memilukan terus terucap di bibir Dewi. Membuat air mata Mama Mira menetes dengan deras.
"Sayang, kamu kuat Nak, kamu pasti bisa ada Papa dan Mama yang menemani Dewi" ucap Mama Mira.
Dewi tak lagi menjawab. Hingga suara riuh mulai terdengar.
"Ada mayat yang sudah di temukan"
Dewi langsung berdiri dan ikut semua orang melihat siapa yang sudah di temukan.
Bukan Afnan melainkan orang lain, yang keadaan tubuhnya hampir tak di kenali, Dewi bahkan memejamkan matanya karena saking takut nya melihat jasad seorang pria di depan nya itu.
Jelas itu bukan Afnan karena kemejanya saja beda. Dewi dapat mengenali di sisa kemeja yang sedikit tersisa warna yang melekat di tubuh korban.
-
BERSAMBUNG..