Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 54


Setelah satu minggu di rawat di rumah sakit Afnan sudah di perbolehkan pulang, namun ia masih terus rutin periksa karena keadaan tubuhnya belum betul-betul stabil.


Sedangkan sang istri sudah pulang semenjak 3 hari yang lalu. Awalnya Dewi ingin menemani sang suami sampai di perbolehkan pulang tapi Afnan melarang karena kasihan dengan kedua anak kembarnya. Lagian Alwi juga sudah sangat merindukan Dewi.


Saat kedua orang tua Dewi meminta kepada Rian untuk mengantarkan Alwi. Namun Rian menolak hampir saja membuat Dewi marah. Tapi Afnan bersikap santai karena ia mengerti posisi Rian.


"Wajar dek kalau Rian tidak setuju Alwi di antar kesini. Ini rumah sakit Sayang, banyak orang sakit disini. Sebagai seorang Ayah Rian pasti khawatir. Lagian Rian juga mengatakan akan mengantar Alwi saat kamu sudah pulang" begitu kata Afnan waktu itu.


Akhirnya Dewi menurut dan membiarkan kembali anaknya bersama Rian.


Dan hari ini Dewi sedang duduk bersama kedua anaknya yang di letakkan di dalam kereta bayi. Menunggu sang suami pulang yang masih di jemput oleh Papa Edi.


"Abi mana Bun ? kok belum sampai juga ?" tanya Alwi yang baru pulang kemaren di antar Rian.


Dewi tersenyum "Sebentar lagi ya Nak ! sabar" jawab Dewi dengan lembut.


"Ok deh, kalau gitu Aku main sama dedek kembar dulu"


Dewi menganggukan kepalanya. Membiarkan Alwi bermain bersama kedua anak kembarnya walaupun mereka belum ngerti apa-apa.


Din--Din--Din.


Tidak lama terdengar suara mobil masuk kehalaman rumah Dewi. Itu mobil Papa Edi.


Dewi langsung berdiri dari duduknya untuk menyambut kepulangan sang suami.


"Abi" teriak Alwi saat melihat Afnan turun dari mobil.


Afnan tersenyum lalu merentangkan kedua tangan nya untuk menyambut Alwi kedalam pelukan. "Assalamualaikum jagoan Abi" balas Afnan.


"Waalaikumsalam Abi. Aku rindu Abi"


Afnan mencium kedua pipi Alwi.


Sementara Dewi menyambut tangan sang suami lalu di ciumnya.


"Selamat datang kembali Mas" ujar Dewi.


"Makasih sayang"


Papa Edi membantu mengeluarkan barang Afnan, lalu ikut masuk bersama Dewi dan Afnan.


Afnan mendorong kereta bayi dimana anak pertamanya berada sementara Dewi mendorong yang satunya. Sedangkan Alwi berjalan duluan.


"Rewel gak mereka Dek " tanya Afnan sambil mendudukan diri di ruang keluarga dimana Mama Mira sudah ada disana.


"Alhamdulillah tidak Mas, paling nangis saat laper atau ngompol saja" jawab Dewi.


"Masya Allah. Anak-anak Abi pintar semua" puji Afnan.


Lalu tiba-tiba baby Arin menangis. Segera Dewi mengambil nya karena mungkin Baby Arin hendak menyusu.


"Kenapa dek ? basah ya ?" tanya Afnan.


"Tidak Mas, dia laper biasa itu"


"Oh"


"Aku kekamar dulu ya Mas, Arin mau menyusu soalnya" pamit Dewi


"Iya Sayang, nanti Mas menyusul"


Dewi beranjak dari duduknya dan langsung pergi kekamar. Sementara Afnan masih berada di ruang keluarga.


"Bagaimana cara kamu bisa selamat Nak Afnan ?" tanya Mama Mira yang selama ini begitu penasaran


Sebelum menjawab Afnan menghela nafas panjang. Bayangan tentang saat dirinya berada di dalam pesawat kembali melintas. Jujur saja Afnan masih trauma saat mengingat itu.


Melihat wajah sang menantu menjadi pucat Mama Mira merasa bersalah.


"Maafkan Mama Nak, kalau Nak Afnan belum sanggup bercerita tidak apa-apa" ucap Mama Mira.


"Tidak apa-apa Ma. Tapi maafkan Afnan karena saat ini Afnan belum bisa bercerita" jawab Afnan.


"Iya Mama mengerti"


-


-


-


Malam harinya usai menjalankan sholat isya, Afnan mengaji di samping box kedua putrinya 'Arin dan Kia'. Suara Afnan yang merdu selalu membuat kedua putri kembarnya tambah lelap tertidur.


Habis mengaji Afnan menghampiri istrinya yang sedang melipat baju Baby Arin dan Kia sehabis di cuci.


"Rindu gak sama Mas ?" tanya Afnan.


"Iya rindu lah Mas, masa iya enggak" jawab Dewi


Dewi langsung beringsut memeluk tubuh suaminya. Malam ini malam pertama mereka kembali tidur bersama habis di pisahkan.


Malam ini juga menyadarkan Dewi bahwa suaminya masih ada di pelukan nya. Ketakutan nya selama ini hilang lah sudah hanya tersisa kebahagiaan.


"Makasih ya sayang udah mendoakan Mas selama ini" kata Afnan


Dewi menganggukan kepalanya di dada sang suami. Berulang kali Afnan menciumi puncak kepala istrinya. Menghirup aroma sampo yang begitu lama ia rindukan.


"Mas"


"Hmmm"


"Besok brewok Mas di cukur ya !"


Afnan langsung tergelak "Kenapa memangnya ?" tanya Afnan


"Sakit Mas. Jadiin bersih lagi kaya dulu. ! Lagian mas brewokan kaya udah tua" jawab Dewi.


Afnan kembali tergelak "Memang Mas sudah tua sayang, udah punya 3 anak lagi"


"Belum lah, masih gagak gini kok" puni Dewi.


"Bisa aja kamu !"


Setelah itu mereka melepaskan pelukan nya. Dewi kembali melanjutkan pekerjaan nya. Menyusun pakaian si kembar kedalam lemari kecil berwarna pink khusus untuk si kembar.


Seluruh gerak-gerik Dewi tak pernah luput dari pandangan Afnan hingga membuat Dewi menjadi salah tingka.


"Mas" panggil Dewi


"Apa sayang" jawab Afnan dengan lembut.


"Jangan di liatin terus dong !"


"Kenapa memangnya ?"


"Aku grogi"


"Hahaha" tawa Afnan kembali menggelegar, namun dengan cepat Afnan menutup mulutnya karena takut membangunkan si kembar.


"Udah nikah bertahun-tahun masih aja grogi dek" seloroh Afnan


"Iyalah" jawab Dewi ketus.


Setelah selesai menyusun pakaian si kecil. Afnan dan Dewi berbaring di atas ranjang tapi sebelum itu Dewi memasangkan kelambu di tempat kedua anak nya tertidur sementara Alwi tidur di kamarnya sendiri.


"Kapan Alwi pulang kerumah dek ?" tanya Afnan


"Kamaren Mas"


"Siapa yang anter ?"


"Mas Rian sama Maudy"


"Oh"


Tiba-tiba suasana menjadi hening, namu keduanya belum tertidur mereka sama-sama menatap langit-langit kamar. Terkadang suara denting jam membuat Dewi mengerling.


Hingga Dewi baru ingat kalau ia harus membahas masalah KB bersama sang suami. Dulu ia tidak membahas ini karena dulu Dewi belum mencintai Afnan namun sekarang beda.


"Mas"


"Hmmm"


"Aku pakai KB apa ya ?"


Afnan sedikit mengangkat kepalanya lalu memandang wajah sang istri.


"Apa KB itu penting ?".tanya Afnan


"Iyalah Mas. Kalau gak pakai KB aku bisa hamil terus" jawab Dewi


"Syukur dong kalau hamil terus jadi bisa punya anak banyak" ujar Afnan kembali terkekeh.


"Iih" Dewi mencubit dada Afnan "Aku serius Mas"


"Hehehe" Afnan justru terkekeh "Kalau Mas sih gak ingin kamu pakai KB, iya gak papa kalau punya anak banyak. Tapi itu terserah Adek mana baiknya"


"Aku juga ingin sih Mas punya banyak anak, biar kalau udah tua nanti banyak yang ngurusin kita. Tapi hamil dan melahirkan itu bukan muda Mas" jelas Dewi.


"Iya sayang, mas paham akan hal itu. Ya sudah kita KB alami aja yuk"


Dewi mengernyitkan keningnya "KB alami apa Mas ?" tanya Dewi


Lalu Afnan berbisik di telinga sang istri "Jangan di keluarin didalam" bisik Afnan