Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Episode 126


Zaki terus melihat kepergian Cela, entahlah dia rasanya bingung sendiri harus bagaimana, apa dia harus mengejar dan menanyakan tentang perkataan gadis itu, atau hanya berpura-pura seakan dia tak pernah mendengar kata itu.


Tapi bagaimana kalau itu terus mengganggu pikiran nya ??


“Aaaahhh, kenapa gue jadi gini sih ??” teriak nya kesal. Bukan karena kesal dengan Cela akan tetapi dia kesal dengan dirinya sendiri karena tak tahu harus berbuat apa.


“Lebih baik gue susulin dia aja, gue harus cari kebenaran, mungkin saja dia jodoh gue selama ini”


Akhirnya dengan mengambil langka seribu Zaki berlalu dari sana, mengejar gadis yang beberapa saat lalu ingin menjadi istrinya.


Zaki pun heran dengan sikap Cela, kenapa dia bisa bicara begitu ?? apa itu hanya mainanan saja atau memang Cela serius.


Setelah sampai di parkiran ternyata Cela sudah tidak ada, Zaki mencari dimana motor Cela namun dia tak menemukan nya.


“Gue yakin dia masih di sini, tapi kemana dia ??” tanya nya pada diri sendiri.


Zaki berkeliling di taman itu berharap dia bisa menemukan Cela, namun sayang gadis itu sudah tidak ada, dan itu membuat Zaki kesal, dia mengusap wajahnya dengan kasar.


“Sial”


“Gue kehilangan jejak !!”


“Aaahhhh”


Sederetan kekesalan nya dia lampias kan dengan menendang batu-batu kecil, tak peduli itu akan mengenai orang.


Akhirnya Zaki memutuskan pulang dan akan mencari Cela di kafe tempatnya bekerja.


Zaki kembali mengendarai mobilnya, pikiran nya jauh melayang, kata-kata Cela membuat dirinya tak bisa berpikir jernih. Sungguh kata menikah yang di ucapkan gadis itu membuatnya hilang kendali.


Rasa bahagia bercampur takut membuat Zaki bingung. Bahagia karena mungkin dia akan segera menikah seperti kedua sahabatnya Kenan dan Aska, tapi dia juga takut kalau ternyata Cela hanya main-main saja.


“Pokoknya gue harus nemuin dia lagi, gue butuh kepastian.


 


Jam makan siang telah datang, Zaki buru-buru keluar dari bengkelnya, seperti yang dia katakan tadi bahwa dia akan menemui Cela siang ini, meminta kepastian pada gadis itu.


Saat sampai di kafe tempat Cela bekerja Zaki langsung masuk kedalam, bukan untuk makan melainkan hanya untuk bertemu sang karyawan yang sudah membuatnya galau setengah hari ini.


“Mau pesan apa mas ??” tanya salah-satu karyawan kafe itu.


“Enggak, saya mau nanya”


“Nanya apa Mas ??”


“Kamu kenal cewek itu gak, dia juga kerja di sini”


Ucapan Zaki membuatnya bingung, cewek siapa yang dia maksud ??


“Siapa namanya ya Mas ??”


“Aduh gue lupa lagi namanya” gumam Zaki pelan, bagaimana mungkin dia bisa lupa dengan nama gadis yang bebera jam lalu ingin menjadi istirnya.


“Ce--Ce-- Aduh apa ya ??” ucap Zaki bingung.


Karyawan itu menautkan kedua alisnya, namun dia juga berpikir siapa gadis yang di cari Zaki.


“Cela maksudnya Mas ??”


“Ah iya benar, dimana dia sekarang ??”


“Cela belum kerja, hari ini dia sif malam, kalau Mas ada kepentingan datang aja kerumah nya”


“Boleh saya minta alamatnya ??”


Perempuan itu langsung menulis alamat rumah Cela, setelah mendapatkan nya Zaki langsung pergi tanpa mengucapkan apapun, dan itu membuat nya kesal.


Udah di tolong bukan nya ngucapin makasih malah langsung pergi...


Zaki kembali melajukan mobilnya untuk segera sampai di alamat yang barusan dia dapat.


“Kenapa jantung gue bunyi nya kencang sekali ya ??”


Zaki memegangi dadanya, jantung nya berdegup kencang, bagaimana bisa dia seperti itu, Zaki merasa sedang jatuh cinta saja.


Tidak lama kemudian, Zaki berhenti di pinggir jalan, meneliti setiap rumah dan jalan yang sama dengan yang tertulis di kertas itu.


Dia turun dan menemukan jalan kecil, mungkin hanya sepeda motor saja yang muat disana, seorang anak kecil lewat membuat Zaki menghentikan nya.


“Dek mau nanya, tau rumah nya Cela gak ??”


Anak kecil berjenis kelamin laki-laki itu menatap wajah Zaki serta pakaiannnya.


“Tau” jawab nya cuek.


Zaki tersenyum walaupun di balas dengan muka judes nan sombong anak itu.


“Bisa anterin Kakak kesana ??”


“Tapi rumahnya jauh, kalau jalan kaki aku bisa capek”


“Kita pakai mobil Kakak”


“Gak bisa pakai mobil, ini jalan nya cuman bisa pakai motor saja”


Zaki memandang jalan setapak itu, jadi ini jalan menuju rumahnya Cela.


“Ya sudah kakaka minta tolong anterin ya !! nanti Kakak kasih uang” bujuk Zaki.


“500 ribu kalau Kakak mau, akan aku antarkan sampai depan rumahnya kak Cela”


“Ok deh”


Tidak apa-apa bagi Zaki hilang uang 500 ribu yang penting dirinya bisa bertemu dengan Cela.


Mereka berdua berjalan menyusuri jalan kecil itu,hanya beberapa langka saja anak kecil itu berhenti.


“Kenapa ??” tanya Zaki heran.


“Mana dulu uang nya Kak”


“Anterin dulu baru kakak kasih uangnya !”


“Uang dulu baru aku anterin”


Zaki mendengus kesal akhirnya dia mengalah, Zaki mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang sebanyak 500 ribu kepada anak kecil yang tengah menengadahak telapak tangan nya.


“Hehe makasih ya Kak”


“Hemm, ya udah cepetan jalan lagi”


“Kakak lihat sana” tunjuknya pada sebuah rumah kontrakan, Zaki menurut dia mengikuti arah kemana anak itu menunjuk. “Itu rumahnya kak Cela, aku anter sampai sini aja ya, dah”


Anak laki-laki itu langsung berlari meninggalkan Zaki dengan kebingungan nyaz dan tidak lama dia sadar bahwa dia telah di kerjai ternyata rumah Cela tidak lah jauh hanya berjalan beberapa langkah maka dia sudah sampai.


“Hei kau menipuku” teriak Zaki menoleh kebelakang, akan tetapi anak itu sudah tidak ada.


Zaki akhirnya berjalan sendirian, ternyata benar di depan rumah ada Cela yang sedang menyapu, membuat Zaki tersenyum senang.


“Hai” sapa Zaki setelah tiba disana membaut gagang sapu yang di pegang Cela jatuh.


“Abang ngapain kesini ??” tanya Cela heran namun dia juga merasa malu karena teringat kata-katanya tadi pagi.


“Mau minta kepastian lah, sama yang udah melamar aku tadi”