Pengantin Kecilku

Pengantin Kecilku
Season 2-Chapter 43


Setelah Alwi berpamitan, Rian langsung pulang. Tak ingin berlama-lama. Karena hari sudah sore di tambah ia tak izin dengan sang istri.


"Alwi mau mampir dulu gak ?" tanya Rian


"Tidak Pa,langsung pulang saja"


"Baiklah kalau begitu"


Sementara itu, di rumah. Setelah kepergian Alwi air mata Dewi terus menetes. Afnan terus membujuk sang istri agar tak terlalu memikirkan Alwi.


"Sayang udah dong ! jangan nangis terus !" ucap Afnan dengan lembut.


"Alwi kan sama Papanya, dia akan baik-baik saja disana"


"Mas gak ngerti di posisi aku" balas Dewi dengan menatap tajam sang suami.


Afnan mengusap wajahnya gusar "Astaghfirullah sayang, Mas bukan gak ngerti posisi kamu, justru Mas ngerti banget" Afnan berdiri dari duduknya.


"Mas tau ini berat buat kamu, apalagi ini kali pertamanya kamu jauh dengan Alwi. Jujur Mas juga sedih karena Alwi pergi. Tapi kita tidak boleh egois keluarga Rian juga berhak atas Alwi" jelas Afnan dengan lembut.


"Tapi aku ibu kandungnya Mas. Aku yang mengandung dan melahirkan dia. Itulah sebabnya selama ini aku tidak ingin Mas Rian tau tentang Alwi aku takut seperti ini. Mas Rian mengambil Alwi dariku" balas Dewi.


"Ya Allah Sayang, Rian itu tidak mengambil Alwi. Dia hanya membawa Alwi menginap. Sempit sekali pikiran mu" kata Afnan.


Dewi tertunduk ia tak berani menatap wajah Afnan.


"Istighfar Sayang ! ngucap ! Alwi akan kembali sama kamu, dia hanya seminggu di rumah Rian" Afnan memegang pundak Dewi dan berucap dengan lembut.


"Tapi rumah ini sepi Mas"


"Iya Mas juga ngerasa gitu. Bagaimana kalau malam ini kita jalan. Kan gak pernah kita jalan berdua" usul Afnan.


"Kemana Mas ?" tanya Dewi.


"Kemana saja bidadari Mas mau. Kita pacaran dulu malam ini. Pacaran yang halal" bisik Afnan di telinga Dewi hingga menimbulkan sensasi yang aneh.


"Aku mau Mas !"


-


-


Rian dan Alwi sudah sampai di rumah. Maudy langsung menyambut kedatangan sang suami dan juga Alwi.


"Salim dulu sama Mama Nak !" titah Rian


"Iya Pa"


Alwi mencium punggung tangan Maudy, dan di balas dengan senyuman oleh Maudy.


Tidak berapa lama Papa Bayu, Kenan, Alya serta keyla dan Zio datang. Alwi langsung mengumpet di belakang Rian.


"Loh kok ngumpet Nak ?" tanya Rian


"Alwi malu Pa" jawab Alwi.


Papa Bayu mendekat "Hai jagoan ini kakek, sini salim sama Kakek !" pinta Papa Bayu.


Alwi melirik ke arah Rian dan di balas angguka kepala oleh Rian.


"Assalamualaikum Kek" ucap Alwi.


"Waalaikumsalam" jawab Papa Bayu.


Papa Bayu mencium kening Alwi, dan kedua pipinya.


"Mirip sekali denganmu Rian" kata Papa Bayu.


"Masa sih Pa ?" Tanya Rian tak percaya.


"Gak percaya ya sudah"


Kenan mendekat "Sini sama paman !" ucap Kenan.


"Itu Kakaknya Papa" Rian memperkenalkan Kenan kepada Alwi.


"Dan yang ini Aunty Alya istrinya Paman. Ini anaknya Key sama Zio" Ucap Rian lagi.


"Halo aku Zio" tanpa malu-malu Zio langsung memperkenalkan dirinya.


"Aku Keyla"


"Alwi"


Rian dan yang lainnya tersenyum melihat Keyla dan Zio menyambut Alwi dengan baik.


"Ajak main Nak, tapi jangan berantem ya !"pinta Kenan.


"Baik Dad" balas Zio.


Keyla dan Zio mengajak Alwi kedalam kamar khusus untuk bermain.


"Rumah ini akan semakin ramai setelah anak keduamu lahir Nak" ucap Papa Bayu.


"Iya Pa"


-


-


Malam harinya setelah melaksanakan sholat isya Afnan dan Dewi jalan-jalan. Pertama Rian mengajak Dewi keliling Mall.


"Mau nonton gak ?" tanya Afnan


"Ya sudah terus mau kemana ?" tanya Afnan lagi.


"Hmmm" Dewi tampak berpikir "Ke Tempat lain saja Mas" ucap Dewi.


"Taman ?" tanya Afnan


Dewi menggeleng.


"Monas ?"


Dewi kembali menggeleng


"Kota tua ?"


Lagi-lagi Dewi menggeleng.


"Pasar malam ?"


Dewi langsung mengangguk mantap, akhirnya Afnan mengajak Dewi kepasar malam.


Suara riuh anak-anak di tambah dengan suara berisik permainan di pasar malam itu menjadi pemecah kesunyian.


Afnan menggenggam tangan Dewi dengan erat saat mengelilingi pasar malam. .


"Mau naik sesuatu gak dek ?" tanya Afnan


"Ngeri Mas, Aku takut"


Afnan menarik hidung Dewi gemas "Terua mau nya apa sayang ku ?" Tanya Afnan.


"Gini aja deh, pegangan tangan terus cerita-cerita sambil beli jajan"


Afnan tersenyum "Baiklah"


Dewi membeli jajanan yang di jual disana, Afnan tak melarang yang penting istrinya bahagia lagian Afnan yakin makanan yang di jual pedagang kaki lima sehat.


"Bismillah" gumam Afnan saat melihat sang istri memakan sate ayam yang barusan Dewi beli.


"Mas mau ?" tanya Dewi.


"Boleh" Afnan langsung memakan sate yang sudab sebagian Dewi gigit.


"Loh kok makan bekas ku sih Mas ? kan ini ada" gerutu Dewi.


"Lebih enak bekas adek malahan"


"Gombal"


Afnan jutru tergelak, merasa lucu dengan tingka sang istri.


"Pacar nya romantis amat ya Neng ?" puji ibu-ibu penjual sate.


"Hehe iya dong bu" bukan Dewi yang menjawab tapi Afnan.


"Sudah lama pacaran nya Neng ?" ibu itu kembali bertanya.


"Iya Bu sudah lama, udah nikah juga" jawab Dewi.


"Owalah kalian udah nikah toh..Kirain Ibu masih pacaran"


"Pacaran halal Bu" sahut Afnan.


"Betul tu, lebih baik pacaran halal seperti ini menghindari Zina"


Afnan menganggukan kepalanya.


Habis makan sate, Afnan dan Dewi kembali berkeliling.


"Udah jam berapa Mas ?" tanya Dewi.


"Hamir jam 10 dek" jawab Afnan.


"Loh kok cepat amat Mas, ya udah pulang aja Mas"


"Udah puas jalan-jalan nya ?" tanya Afnan memastikan.


"Belum sih Mas, tapi inikan udah malam nanti masuk angin"


"Ya sudah kalau begitu" Afnan menyetujui.


"Nginap di hotel saja mau gak dek ?" tawar Afnan.


"Boleh" Dewi langsung menyetujui.


Afnan langsung tersenyum, setelah itu mereka langsung menuju hotel bintang lima.


Afnan memesan satu kamar, setelah mendapatkan kartu kamarnya Afnan langsung membawa istrinya ke kamar.


Sekarang Dewi baru terasa bahwa waktunya dengan sang suami terbuang entah kemana. Selama ini ia terlalu sibuk memikirkan perasaan nya yang terus memikirkan Rian. Tak pernah ada waktu bersama sang suami.


Namun Afnan begitu sabar menunggu dirinya, hingga akhirnya Dewi luluh walau terkadang saat bertemu dengan Rian bayangan masa lalunya selalu terbayang.


"Itu wajar Nak, kamu dan Rian kan pernah bersama apalagi ada anak di antara kalian" begitu kata Mama saat Dewi bertanya.


"*Tidak akan muda melupakan semuanya, walaupun kamu berusaha tetap saja kenangan bersama Rian akan kembali terbayang"


"Apalagi Rian adalah cinta pertama kamu"


"Tapi satu yang mama minta, jaga perasaan Afnan karena saat ini suami sah kamu bukan Rian tapi Afnan*"


Sederetan kalimat Mama kembalia terngiang. Benar memang sejauh apapun Dewi melupakan kenangan Rian itu tidak akan bisa hanya saja Dewi harus menyikapi nya denga Dewasa.