
Undangan sudah di bagikan, gedung tempat resepsi sudah ada, hanya tinggal ijab kabul yang belum, sudah 2 hari Rian dan Maudy tidak pernah bertemu, entah apa alasan nya mereka berdua pun tidak tahu.
Dengan kesal, Maudy menuruni anak tangga, ia melihat semua orang sibuk di rumahnya, ada yang memasak, mendekorasi ruangan, dan para anak kecil yang berlari kesana-kemari.
Sebenarnya Maudy ingin menonton televisi walau dikamar nya ada sendiri namun entah kenapa menonton seorang diri di saat situasi di landa rindu seperti ini bukanlah hal yang baik, saat mata tertuju pada layar televisi namun pikiran nya bukan kesana, jelas bukan hal yang baik bukan ?
Namun lagi-lagi Maudy harus menelan kekecawaan karena Televisi di ruang keluarga dimana tempat berkumpul keluarga sudah pindah entah kemana, dan sekarang di ganti dengan bagroond yang begitu indah. Bahkan sofa yang ada disana pun lenyap seketika.
“Mau kemana ?” suara Mama tiba-tiba datang, membuat Maudy yang sedang memandang ruangan rumahnya yang sudah berbeda menjadi terkejut.
“Mama ih, ngagetin aja” jawab Maudy.
“Iya kamu mau kemana ?” ulang Melda.
“Iya enggak kemana-mana Ma, Maudy bosan tau gak kalau dikamar terus, boleh keluar gak Ma ya nongkrong gitu atau belan--” Ucapan Maudy langsung terpotong begitu saja oleh Melda.
“Tidak boleh !” ucap Melda dengan tegas.
Dengan terus menggerutu di dalam hati, Maudy hanya duduk dengan beberapa keponakan nya di atas lantai yang sudah di pasang tikar, sesekali Maudy menanggapi candaan dari keponakan nya itu.
-------
Tok--tok--tok.
Suara ketokan pintu membuat Rian mengecilkan volume TV yang sedang ia tonton.
“Ada apa Pa” tanya Rian demi melihat sang Papa sudah berdiri di ambang pintu dengan menanatap Rian.
“Boleh Papa Masuk” ucap Papa Bayu.
Rian mengangguk, ia mempersilahkan sang Papa masuk kedalam kamarnya, Papa Bayu duduk di sofa dan Rian mengikuti.
“Besok adalah hari pernikahan mu bukan” Papa Bayu memulai pembicaraan.
Rian mengangguk mengiyakan.
“Dan Papa sangat berharap ini pernikahan kamu yang terakhir, Papa tidak mau mendengar lagi masalah perceraian”
Mendadak Rian menelan ludah nya dengan gugup, mendengar Papa Bayu berbicara begitu serius jantung Rian berdetak kencang.
“Papa ingin kamu sama seperti Kenan, rukun sama istri dan mempunyai anak, Papa tidak bisa selalu ada buat kamu Rian, Papa sudah tua, jadi tolong jangan buat kesalahan lagi”
“Inysa Allah Pa”
“Harus berjanji, Papa ingin kamu dan Maudy bahagia selamanya, dan kamu harus bisa mengendalikan emosi kamu, jangan sampai seperti dengan Dewi dulu”
Rian mengangguk, memang ia akan berjanji untuk tidak akan melakukan kesalahan seperti dulu lagi, ia tidak ingin kehilangan istri untuk yang kedua kalinya.
Harapan Rian bersama dengan Maudy begitu besar, ia ingin menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab, yang bisa membahagiakan Maudy kelak dan memenuhi semua kebutuhan Maudy hasil kerja kerasnya sendiri.
“Maafkan masalalu Rian Pa”
“Tidak ada yang perlu di maafkan, kamu memang salah dan Dewi juga ada kesalahan juga, mungkin memang ini jalan nya, kamu berjodoh dengan Maudy dan Dewi bersama laki-laki lain”
“Hanya itu pesan Papa ,jaga pernikahan kamu Yang sekarang dan Papa ingin ini adalah yang terakhir”
“Akan Rian jaga Pa, Rian tidak ingin mengecewakan Papa dan Kak Kenan lagi”
------------
Keesokan harinya, Rian sudah berpakaian dengan rapih, setelah jas yang di pilihkan oleh Maudy tampak begitu pas di tubuhnya, tidak lupa sebuah peci yang senada dengan warna jas sehingga membuat penampilan Rian terlihat sangat ferfek.
Di bawah sudah menunggu Papa Bayu, Kenan, Alya serta Kedua anaknya, lalu menyusul Aska dan Fina di tambah dengan Zaki dan juga Cella.
“Rian ganteng banget Ya Bang” puji Cella saat melihat Rian menuruni anak tangga.
“Gantengan suami kamu lah" jawab Zaki
Semua orang menjadi tertawa sambil geleng-geleng kepala, perbedaan umur antara Zaki dan Cella yang begitu jauh sehingga menyebabkan mereka jadi bahan olokan, apalagi Cella yang begitu polos walau sudah melahirkan anak satu.
“Mau gue bantuin gak Cel buat nyariin tongkat untuk laki Lo” seloroh Aska yang langsung mendapat cubitan dari sang istri.
“Boleh, kalau perlu cariin tanah juga sekalian buat jaga-jaga” balas Cella sehingga membuat semua orang kembali tergelak.
“Lah Tanah buat apa dek ?” tanya Zaki dengan heran.
“Ya adalah pokoknya Abang gak usah tau”
Dengan bodohnya Zaki mengangguk tanpa kembali bertanya.
“Mau berapa meter tanahnya Cel ?” Aska kembali bertanya rasanya menggoda istri teman nya yang satu ini begitu menyenangkan.
“Ukur aja sendiri Bang As, kan orang nya ada di depan Abang”
Dan detik itu juga Zaki baru sadar kalau istrinya ingin mencarikan tanah untuk dirinya nanti jika sudah tiada.
“Bojo laknat, kamu mendoakan Abang supaya cepat mati Dek ” teriak Zaki.
“Cella bukan mendoakan Bang hanya berjaga-jaga, Ih Abang makin tua makin baperan deh” jawab Cella dengan tenang.
“Sudah-sudah ayo berangkat, calon pengantin rasanya sudah tidak sabar untuk mengucapkan ijab kabul” ujar Papa Bayu dengan nada menggoda Rian.
“Apalah Papa nih”
Semuanya langsung menuju mobil masing-masing, untuk pasangan Aska dan Zaki mereka membawa satu mobil jadi mobil Zaki yang di tinggal, sementara Kenan dan Alya bergabung bersama Papa Bayu dan Rian.
Sepanjang perjalanan banyak sekali pertanyaan dari Zio membuat Rian bingung bagaimana caranya menjawab, berbeda dengan Keyla yang asik dengan mainan nya sendiri.
“Om kok tampan, memang Om mau kemana ?” tanya Zio.
“Om itu mau menikah Nak, jadi kita mau ketempat Tante yang waktu itu” jawab Alya yang duduk di kursi depan sambil Kenan yang lagi mengemudi.
“Yang Om cium dulu ya”
Rian langsung terdiam, tak tau harus menjawab apa karena setiap Zio membahas itu, Rian selalu mendapatkan tatapan tajam dari Papa Bayu dan Kenan.
Dan aneh nya Zio kenapa tidak bisa melupakan kejadian waktu itu, Rian saja yang mengalami terkadang sudah lupa, dia akan ingat jika Zio yang mengatakan.
Sementara di mobil Aska, keseruan disana selalu terjadi apalagi dengan kelucuan Cella yang selalu berhasil membuat semua orang tertawa.
“Nanti kalau sampai sana Abang bawa Adik ya, dan jangan dekat-dekat sama Cella” ucap Cella kepada Zaki.
“Memangnya kenapa ?” tanya Zaki heran
“Soalnya Cella mau cari cowok ganteng, nanti kalau dekat sama Abang mereka gak mau lagi kenalan” jawab Cella.
“Dan mereka pasti bilang gini, bapak nya galak” ujar Cella lagi.
Memang beberapa kali jalan berdua Zaki selalu di bilang Ayahnya Cella bukan suaminya.
“Berani kau begitu tas yang Adek idamkan gak jadi Abang pesenin” Ancam Zaki.
-
-
Satu episode lagi tapi nanti malam ya.. dan untuk bulan ini masih fokus sama novel Rian dan Maudy ya untuk Novel Raja dan Keyla akan sering Up bulan depan harap mengerti ya..
Tapi akan tetap author up juga kok hanya tidak setiap hari seperti novel yang ini.
Kenapa novel ini up tiap hari karena novel ini ikut lomba siapa tau bisa menang kan hehehe