
Soreh harinya Maudy langsung pergi ka Apotek untuk membeli tespack, ia ingin memastikan rasa penasaran nya selama beberapa hari ini.
Namun sebelum membeli Maudy sudah menyiapkan hatinya untuk tidak kecewa, jika kemungkinan dirinya belum hamil seperti yang ia harapkan selama ini.
"Mbak bali tespack" ucap Maudy kepada seorang wanita yang berjaga di apotek tersebut
"Sebentar saya ambilkan dulu"
Tidak berapa lama karyawan apotek kembali dengan membawa beberapa buah tespack.
"Silahkan mau yang mana" ucap sang karyawan.
"Yang ini saja mbak, beli dua ya"
"Baik, tunggu sebentar saya bungkus dulu".
"Iya mbak" jawab Maudy.
Ia mengeluarkan uang senilai 100 ribu, untuk membayar tespack yang ia beli.
"Totalnya 25 ribu" ucap pelayan toko itu.
Maudy langsung memberikan uangnya, setelah menerima kembalian Maudy langsung pulang kerumah.
Selama perjalanan pulang Maudy melihat pedagang rujak yang masih mangkal, Maudy langsung menghentikan mobilnya dan menurunkan kaca mobil.
"Masih ada gak rujaknya Bu ?" tanya Maudy.
"Masih neng, mau berapa porsi" tanya ibu penjual Rujak.
Maudy turun dari mobil tak lupa membawa dompetnya, lalu menghampiri ibu penjual buah.
"Beli 3 bungkus ya Bu, tapi yang satunya jangan pakai nanas sama timun ya bu !" titah Maudy.
"Baik Neng, mohon di tunggu. ! Oh ya sambalnya pedas atau sedang saja ?"
"Sedang aja Bu"
Maudy duduk di kursi plastik yang telah di sediakan, wangi bumbu kacang yang di ulek membuat Maudy menelan ludanya berkali-kali, rasanya sudah tidak sabar untuk melahap rujak yang ia pesan.
"Ini Neng rujaknya" Ibu paruh baya itu memberikan pesanan Maudy.
Setelah membayar pesanannya Maudy kembali ke mobil untuk segera pulang.
Triing-Triing.
Bunyi ponsel milik Maudy membuatnya sedikit memelan mobilnya, lalu meraih ponsel itu yang ia letakkan di jok sampingnya.
"Mas Rian" gumam Maudy.
"Ya ampun pasti Mas Rian udah pulang kerja" Maudy menepuk jidatnya, rencana awalnya hanya ingin membeli tespack mala mampir membeli rujak.
Maudy langsung menggeser menu hijau di layar ponselnya untuk menjawab panggilan dari sang suami.
"Halo Mas" ucap Maudy.
"Halo sayang, kamu dimana ? kok gak ada di rumah ?" Suara Rian di seberang sana.
"Maaf Mas, aku keluar sebentar. Ini sudah jalan pulang Mas"
"Sama siapa ?" tanya Rian lagi.
"Sendiri"
"What ? Sendiri?" pekik Rian di seberang sana, membuat Maudy menjauhkan ponselnya.
"Kenapa sih Mas ? udah dulu ya Mas ini aku udah di persimpangan jalan mau kerumah kita"
"Mas tunggu di rumah !"
Tuutt.
Panggilan langsung di putuskan oleh Rian, terlihat sekali kalau Rian khawatir karena Maudy menyetir sendiri.
Tidak berapa lama Maudy sudah sampai di rumah dengan selamat, Mendengar suara mobil Rian langsung berlari keluar menemui istrinya.
"Astaga Sayang, kenapa gak nungguin Mas sih, kan bisa Mas anterin" ucap Rian yang langsung memeluk istrinya.
"Buktinya aku baik-baik saja kan Mas" seloroh Maudy tanpa melihat kekhawatiran sang suami.
"Dasar" Rian menyentil hidung Maudy gemas.
"Auuuww"Maudy meringis sakit "Sakit tau" ucap Maudy sambil memanyunkan bibirnya.
Rian terkekeh, lalu matanya menangkap bawaan Sang istri.
"Apa ini dek?" tanya Rian
"Rujak, Mas mau ? aku udah beli 3 bungkus" jawab Maudy
"Rujak ? kamu mau makan Rujak soreh-soreh begini dek ?"
Maudy mengangguk.
"Enggak akan Mas"
-
-
Maudy memakan Rujak itu dengan sangat lahap, sementara Rian hanya diam saja sambil memperhatikan cara makan sang istri.
Istrinya yang makan malah Rian yang merasa giginya ngilu semua.
"Tante makan apa ?" tanya Zio.
"Rujak, Zio mau ?"
Zio mengangguk, Maudy memberikan potongan buah mangga kepada Zio.
"Iih Asem Tante, gak mau ah, gak enak" Zio kembali meletakkan sisa mangga yang telah ia gigit kedalam plastik sampah.
"Hahahaha" Maudy justru tergelak karena merasa lucu melihat ekspresi wajah Zio.
"Udah dek, kamu makan udah banyak banget Loh entar sakit perut" titah Rian
Namun Maudy tak menghiraukan apa yang di ucapkan suaminya, ia terus memakan rujak itu dengan lahap. Membuat Rian kembali meringis ngilu.
-
-
Keesokan paginya sebelum sang suami bangun, Maudy sudah banyun dahulu, ia memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai karena pergaulan panasnya bersama sang suami semalam.
Sebelum masuk kekamar mandi, Maudy mengambil tespack yang ia beli kemaren, lalu segera masuk kekamar mandi.
Dengan tangan bergetar Maudy memasukan alat tes itu kedalam wadah yang telah berisi air kencing pertamanya.
Matanya terpejam karena begitu takut dengan hasil yang ia dapat, satu tangan nya masih memegangi handuk yang melilit tubuhnya.
"Semoga positif" gumam Maudy penuh harap.
Dengan sangat pelan Maudy mulai membuka matanya, dan dengan sangat jelas ia melihat dua garis merah melekat di tespack itu.
"Positif" Maudy menutup mulutnya tak percaya, akhirnya kesabaran nya selama ini membuahkan hasil.
Dengan secepat kilat Maudy menyelesaikan mandinya, lalu segera mengenakan kimono mandinya dan langsung keluar dari kamar mandi.
Rian masih tertidur dengan pulas di atas tempat tidur, mata Maudy berkaca-kaca. Langkahnya dengan pelan berjalan menuju tempat tidur.
"Selamat pagi Papa" gumam Maudy dengan bibir bergetar.
Ia letakkan tespack yang menampakkan garis dua berwarna merah. Reflek Rian menggenggam tespack itu, entah terkejut atau apa Rian langsung terbangun.
"Sayang" ucap Rian dengan suara serak has bangun tidur.
Saat Rian hendak mengucek matanya, ia merasa ada yang sedang ia genggam, Rian melihat telapak tangan nya dan mendapati sebuah tespack.
"Sayang ini ?"
Maudy menganguk dengan air mata berderai.
Rian langsung melihat tespecak itu dimana dua garis merah tertera disana, Rian mengangkat kepalanya untuk melihat wajah sang istri.
"Sayang kamu ham--il ?" tanya Rian dengan suara bergetar.
"Iya Mas, akhirnya kesabaran kita selama ini terbayar sudah"
Rian langsung memeluk istrinya dengan erat, air matanya menetes.
"Makasih Sayang, makasih atas hadianya" ucap Rian.
"Sama-sama Mas"
Pagi itu suasana rumah Rian menjadi ramai saat Rian mengumumkan kehamilan Maudy.
"Tuh kan apa yang Kakak bilang, Maudy itu lagi hamil makanya kemaren ngidam minta di gorengin ikan Mas" sahut Alya antusias.
"Oh iya ? kok aku gak tau Kak" tanya Rian.
"Lah kan kamu udah berangkat kerja Rian" jawab Alya lagi.
"Kamu dapat ikan Mas nya dimana sayang ?" sahut Kenan menatap sang istri.
"Di kolam belakang, Maudy nya minta ikan peliharaan Papa kok hehe" jawab Alya lagi sambil terkekeh "Enggak papa kan Pa ?" tanya Alya kepada Papa Bayu.
Serentak Rian, Kenan dan Papa Bayu langsung menepuk jidatnya.
"Dulu Alya saat ngandung Zio sekarang Maudy" ucap Kenan.
"Bersiaplah untuk mengganti ikan Papa" bisik Papa Bayu kepada Rian.
"Mati aku ! dulu aja kak Kenan sampai harus keluar negeri buat gantiin ikan Papa, dan sekarang giliran aku. Aduh Nak- Nak" batin Rian