
Hari itu Rian mencari ikan Mas yang sudah di makan sang istri, untuk mengganti ikan kesayangan sang Papa. Begitu sulit karena setelah bertanya kepada para penjual ikan hasil nya Nihil.
"Ikan itu langka Bang, udah jarang banget orang punya ikan hias yang begitu, Abang pesan di luar negeri saja" begitu kata penjual ikan terakhir yang Rian tanya.
Harganya pun tak kalah fantastis, namun Rian tak memusingkan soal Harga, yang jadi pikiran nya sekarang hanya bagaimana caranya mendapatkan ikan itu lagi.
"Aaaaiiisss. Susa amat sih nyari ikan itu" ucap Rian prustasi.
"Semoga saja kali ini saja Maudy minta di gorengkan ikan mahal itu" batin Rian penuh harap.
Sementara sang pemilik ikan sedang bersantai di depan rumah sambil membaca koran, sesekali Papa Bayu mengucek mata di balik kaca matanya. Kemudian kembali fokus membaca koran.
Alya datang lalu meletakkan satu gelas kopi di atas meja samping Papa Bayu, sejenak Papa Bayu mengangkat kepalanya dan menoleh ka arah Alya.
"Terima kasih Nak" ucap Papa Bayu sambil tersenyum.
"Sama-sama Pa" balas Alya, kemudian berlalu pergi meninggalkan Papa Bayu yang masih duduk nyaman di depan rumah.
Alya kembali ke dapur untuk meletakkan nampan yang ia bawa tadi. Kemudian duduk di depan sang suami yang saat ini sedang menyuapi Zio makan.
"Kamu gak bantuin Rian nyari ikan ?" tanya Alya, ia tahu Rian mencari ikan karena tak sengaja mendengar obrolan Rian dan Kenan tadi.
Kenan menggelengkan kepalanya "Males amat" jawab Kenan enteng.
"Kok gitu sih ? Rian kan adek kamu, harusnya di bantu" ujar Alya lagi.
Kenan membersihkan mulut Zio menggunakan tisu lalu menurun kan Zio setelah menghabiskan makanan nya.
"Sayang nyari ikan itu susah, yakin deh gak akan dapat di Jakarta, paling di luar negeri adanya" balas Kenan.
"Tau gitu aku gak akan masak ikan nya" gumam Alya.
Kenan terkekeh "gak usah pusing Sayang, biarin aja si Rian kalang kabut nyari ikan nya."
"Ya tapikan kasian sama Rian sayang" Alya masih bersih keras untuk meminta sang suami membantu Rian.
"Entar aku tanya sama teman-teman deh, siapa tau mereka tau dimana jualan ikan itu"
"Na gitu dong"
-
-
Kenan memasuki ruang kerjanya, bukan untuk bekerja melainkan membuka aplikasi WhatsApp nya. Kemudian mengklik grup yang berjudul "Kumpulan para Suamiπ€ͺ" grup itu di buat oleh Zaki yang saat ini menjadi Adminnya, yang berisikan Kenan, Aska, Pras dan juga Kenan. Heran padahal isinya hanya 4 orang tapi hebonya bisa ngalahin orang sekampung.
Kenan : Cek--Cek..
Ia mulai mengirim pesan, lalu menunggu ketiga teman-teman nya membalas.
Kenan : Woy pada kemana sih ?
Kenan : Sepi amat. Kek kuburan.
Ia kembali menunggu hingga. 'Ting' ponselnya kembali berbunyi.
Aska : Apaan ? berisik tau gak, gue mau tidur.
Kenan : Nah nongol juga nih anak. Mana yang lain ?
Aska : Mana ku tahu π
Zaki : Pada nyariin gue ya ? π
Aska : Iiiih najis gue nyariin Lo
Zaki : Eh Lo jangan najis-najis kek gitu, gini-gini Lo bedua sering meluk gue kalau tidur.
Benar memang dulu mereka sering tidur berpelukan tapi saat masih bujangan, karena setelah punya istri ya mereka punya pelukan lain.
Aska : Njiiir. Di bahas sama dia π‘
Kenan : emang si Zaki minta di pitas kepalanya.
Zaki : πππππ
Kenan : Eh tapi gue mau nanya serius ini ?
Aska : Ada apa memangnya ?
Kenan : Adik ipar gue makan ikan Mas **** Papa, dan Sih Rian di suruh ganti, kira-kira Lo pada tau gak dimana yang ada ikan itu ?
Aska : Pras ngumpet aja jangan nongol, sih bos lagi butuh sesuatu π€ͺ
Aska : Gue udah tau Lo bakal nyuruh Pras nyari ikan itu Kan ? gue aja tau ikan itu paling langka.
Zaki : Emang dasar mantu sultan.
Pras : dari awal ada notif dari grup saya gak berani buka tuan
Kenan melempar ponselnya di sofa, bukan nya mendapatkan info ia malah kesal dengan ketiga temannya.
Namun walau Kenan sudah tak aktif lagi, grup itu masih terus berbunyi entah bahas apa. Kenan pun sudah tak peduli.
-
-
"Bagaimana ?" tanya Kenan saat melihat Rian baru saja pulang.
Rian menggeleng lesu lalu mendudukan diri di samping Kenan.
"Susah amat ya Kak"
Kenan justru tergelak, apalagi melihat wajah Rian yang amat kusut hanya karena mencari seekor ikan untuk sang Papa.
"Aku sumpahin Kak Alya hamil lagi ya terus ngidamnya minta yang aneh-aneh" doa Rian.
"Enggak akan, kakak mu itu sudah KB jadi mau main kuda-kudaan seratus kalipun gak akan jebol" Kenan kembali tergelak.
Rian mendelik kesal.
"Oh ya mana Alwi katanya mau menginap disini ? Papa udah nanyain terus tuh" tanya Kenan
"Aduh" Rian menepuk jidatnya "Tuh kan gara-gara nyari ikan aku lupa jemput Alwi, padahal malam ini dan seminggu kedepan Alwi akan menginap disini" ucap Rian.
"Bo doh"
"Aku jemput Alwi dulu Ya Kak"
Rian langsung pergi lagi walau belum pamitan bersama istrinya.
-
-
Di rumah Dewi. Sejak satu jam yang lalu Alwi sudah siap untuk berangkat sebuah tas ukuran besar yang berisi baju Alwi sudah tersedia.
Dan entah kenapa ada rasa sedih di hati Dewi karena ini hari pertamanya ia akan berpisah dengan Alwi walau itu dekat, karena bisa saja ia berkunjung kerumah Papa Bayu untuk melihat Alwi.
"Nanti disana jangan nakal ya Nak !" untuk kesekian kalinya Dewi mengatakan hal serupa
Afnan tersenyum ia tahu apa yang di rasakan istrinya, karena Afnan pun merasakan hal yang sama. Sebentar lagi rumah akan sepi karena Alwi akan menginap di rumah Papa Bayu.
Jujur Afnan maupun Dewi keberatan tapi mereka tak ingin egois, walau bagaimanapun Alwi adalah anak kandung Rian dan keturunan keluarga Abraham.
"Zio itu naka gak Bun ?" tanya Alwi.
"Kakak nak, dia lebih tua dari Alwi"
"Iya Kak Zio, dia nakal gak Bun ?" tanya Alwi lagi.
"Tidak sayang, kan Kakak Zio di ajarin sama Aunty supaya tidak nakal"
Alwi mengangukan kepalanya, Lalu tidak berapa lama terdengar suara mobil Rian membuat perasaan Dewi kembali di selimuti kesedihan.
"Itu Papa Bun" Alwi bersorak senang.
"Iya sayang, itu Papa" balas Dewi.
"Assalamualaikum" suara Rian di ambang pintu.
"Waalaiukumsalam" jawab Afnan dan Dewi serempak.
"Papa aku sudah siap" ucap Alwi
Rian tersenyum "Maaf ya Papa telat jemputnya"
"Tidak apa-apa Pa, kata Abi kita harus sabar"
Rian mengusap kepala Alwi dengan lembut "Ya sudah salim dulu sama Abi dan Bunda" titah Rian.
"Mau langsung saja Mas ?" sahut Afnan sambil bertanya.
"Iya Mas, udah sore juga"