
Setelah mengobrol dengan Alwi sebentar, Afnan kembali keruang tamu dimana Rian berada.
“Maafkan Saya karena tidak berhasil membujuk Alwi” ucap Afnan merasa bersalah.
Rian menundukan kepalanya, ada rasa sakit yang sulit dijelaskan. “Tidak apa-apa aku bisa mengerti, Alwi masih anak kecil yang belum memahami semua ini” balas Rian.
Dewi tau pasti saat ini Rian begitu menderita karena di tolak oleh Alwi, ia juga tak tau harus berbuat apa selain bersabar dan terus memperkenalkan Rian kepada Alwi.
“Kalau begitu kami pamit pulang dulu” ucap Maudy “Oh iya ini, tolong berikan ke Alwi semoga dia suka”kata Maudy lagi, lalu memberikan sebuah paper bag Kepada Dewi.
Dewi menerima paper bag tersebut “Makasih, akan aku berikan kepada Alwi, dia pasti suka”
Rian dan Maudy pamit pulang, tentunya dengan perasaan berkecamuk. Entah harus bagaimana lagi Rian harus bersabar.
“Sabar ya Sayang, suatu hari nanti Alwi akan mengerti” ujar Maudy.
Rian menganggukan kepalanya, walau itu akan sangat lama ia tunggu tapi Rian akan terus berusaha mendekati Alwi.
Apalagi Papa Bayu begitu ingin bermain dengan Alwi, mungkin Papa Bayu juga ingin mengenal cucu ketiga nya itu.
-
-
Dewi menemui Alwi di dalam kamar, tidak lupa dengan paper bag yang di berikan Maudy tadi.
Perlahan Dewi membuka pintu kamarnya, ia melihat Alwi sedang bermain di atas lantai yang sudah di pasang karpet.
“Mereka sudah pulang Bun ?” tanya Alwi tanpa melihat kearah Dewi.
Dewi menghela nafas sebentar, lalu ikut duduk di samping putranya, paper bag di tangan nya ia letakkan di hadapan Alwi.
“Apa ini Bun ?” tanya Alwi antusias.
“Buka aja !” titah Dewi.
Dengan semangat Alwi membuka paper bag tersebut, seketika Alwi langsung tersenyum senang karena di dalam nya beruba robot mainan yang sedang trend sekarang.
“Wah inikan robot yang sedang trend itu Bun”
Dewi tersenyum “Suka gak ?” tanya Dewi.
“Suka banget Bun, makasih ya udah beliin aku mainan ini” Alwi langsung berhambur memeluk tubuh Dewi
“Itu bukan Bunda yang membelikan nak, melainkan Papa Rian. Ini semua sebagai tanda sayangnya kepada Alwi”
Dalam sekejap Alwi melepaskan pelukannya, lalu menatap Dewi dengan tajam, kemudian beralih kepada robot yang ada di hadapan nya.
Alwi mengambil robot itu dan melemparnya kearah dinding sehingga robot itu pecah dan berserakan.
“Astaghfirullah Alwi” pekik Dewi kaget.
“Kenapa di rusak ? bukan nya Alwi suka sama robotnya”
Nafas Alwi naik turun “Aku gak suka robot itu kalau di kasih sama om Dokter itu, dia bukan Papaku, Papa Alwi cuman Abi bukan dia” sergah Alwi yang terlihat emosi.
“Alwi cukup !” bentak Dewi.
Alwi langsung terdiam,.namun tetap menatap tajam kearah Dewi.
“Mau kamu semarah apapun sama Papa Rian, dia tetap Papa kandung kamu. Papa Rian sayang sama Alwi” jelas Dewi sedikit meredahkan emosinya, berulang kali ia menarik nafas panjang kemudian di hembuskan dengan pelan.
“Bunda jahat, karena Om itu Bunda jadi bentak Alwi”
Braakk.
Alwi menutup pintu dengan kencang hingga membuat Dewi terlonjak kaget.
“Ini salah ku, ini semua salah ku !” Dewi memukul dadanya sendiri, menghilangkan rasa sesak yang semakin menyeruak
“Jika aku tak merahasiakan tentang Alwi dulu, mungkin Mas Rian tidak akan terluka lalu Alwi juga tidak akan marah seperti ini”
“Aaahhhhh”
-
-
Terkadang ada rasa lelah di diri Rian ,ia seakan enggan untuk berusaha lagi dan membiarkan Alwi terus menganggap Afnan adalah Ayah kandungnya.
Namun bujukan dari Maudy selalu berhasil membuat Rian mengunjungi rumah Dewi.
“Jangan patah semangat Mas, baru aja bertempur masa udah nyerah aja, aku yakin kok Alwi akan menerima kamu sebagai Papanya" begitu yang di katakan Maudy.
Hari ini ia datang seorang diri, karena Maudy sedang tidak enak badan, dengan membawa sebuah mainan yang begitu besar Rian memasuki rumah Dewi.
Afnan akan selalu menyambut kedatangan Rian dengan baik, menceritakan keseharian Alwi, atau bahkan Afnan dengan sengaja memvideokan aktivitas Alwi.
“Masih belum mau menemui juga ?” tanya Afnan saat Dewi turun sendiri.
Dewi menggeleng “Maaf Mas”
Lagi dan Lagi Rian tersenyum kecut “Tidak apa-apa !” balas Rian walau di hatinya begitu sakit.
Dan seperti biasa Rian akan menonton Aktivitas Alwi di ponsel milik Afnan.
“Kami akan selalu berusaha” ujar Afnan
“Terima kasih sebelumnya !” balas Rian.
-
-
Sementara itu di dalam kamar, Alwi mengintip melalui cela pintu yang ia buka sedikit, hanya cukup satu mata saja yang bisa melihat keluar.
Ia dengan jelas melihat Rian masih duduk sambil berbincang di ruang keluarga, sehingga membangkitkan kembali amarahnya.
Alwi sebenarnya tidak membenci Rian, hanya saja karena paksaan Dewi untuk terus memanggil Rian sebagai Papa membuat Alwi selalu ingin marah terhadap laki-laki itu.
Ia bahkan dengan sengaja untuk tak menemui Rian saaat berkunjung kerumah, Alwi kira Rian akan bosan namun nyatanya tidak. Sudah seminggu tapi Rian masih selalu datang.
“Dia bukan Papaku" gumam Alwi.
Lalu kembali menutup pintu dengan pelan supaya tak menimbulkan suara.
Di ruang keluarga, Papa dan Mama Dewi bergabung, berulang kali Papa meminta maaf kepada Rian karena dia yang sudah memaksa Dewi merahasiakan tentang Alwi.
“Tidak usah meminta Maaf terus Pa ! mungkin memang ini hukuman buat Rian" balas Rian tak enak hati.
“Tapi tetap saja ini salah kami, kamu memang bersalah dulu karena menyakiti putri kami, tapi tetap saja kamu adalah Ayah kandung Alwi” sahut Mama
Mereka semua di penuhi rasa bersalah baik Rian maupun Dewi, dulu Rian yang terlalu mudah emosi hingga mengatakan kata Kramat pada malam itu dimana mengakibatkan dirinya dan Dewi berpisah.
Cukup lama mereka berbincang, akhirnya Rian pamit pulang, sesekali matanya menatap ke lantai atas tapi tak pernah melihat sosok Alwi.
“Saya pamit dulu Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Alwi yang mendengar suara orang berpamitan, kembali mengintip dia dengan jelas melihat Rian hendak keluar rumah, di tangannya sudah ada satu kardus mainan yang di berikan oleh Rian.
Alwi keluar kamar dengan hati-hati menuruni anak tangga dengan pelan, lalu keluar melalui pintu samping.
Ia berlari mengejar langkah kaki Rian.
“Om tunggu !” ucap Alwi.
Rian menghentikan langka nya lalu menoleh kebelakang dimana Alwi sedang berlari sambil membawa satu kardus yang entah isinya apa.
Dengan senyum mengembang Rian berjalan menghampiri Alwi, lalu berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badan nya dengan Alwi.
“Ada apa ?” tanya Rian dengan nada lembut
“Ini ” Alwi memberikan kardus Yang ada di tangan nya “Tolong jangan datang kesini lagi, Om bukan Papaku”