Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
perfect


"Rend, nanti kita bicara lagi," ucap Zain pada seseorang yang berada di ujung telepon lalu memutuskan telepon secara sepihak.


Tanpa membuang waktu agar Zain tidak menanyakan apapun, segera kuangkat handpone dan ku dekatkan ke telinga.


"Ngga mungkin dong, aku suka sama makhluk astral? Ganteng doang buat apa? Pria sejati itu bukan good looking doang, tapi juga harus good attitude!" Aku berbicara pada handphone yang tidak pernah menghubungi siapapun.


Ada perih yang menggores hati, entahlah. Zain adalah semua hal pertama bagiku. Pertama kali aku menyukai makhluk ciptaan Allah dari golongan Adam. Pertama kali pula aku merasakan hancur sebelum mengungkapkannya.


"Apa lihat-lihat?" balasku pada Zain yang terus menatap intens pada wajahku dengan ekspresi datarnya.


"Kepalamu menghalangi pandanganku pada kaca spion. Bisa mundur sedikit?" Zain nampak serius dengan ucapannya seraya memutar setir dan sesekali melirik ke kaca spion agar mudah untuk memarkirkan mobil. Ya elah ... kalo mau lihat spion kenapa matanya mengarah ke wajahku?


Entah ada apa dengan diri ini, hingga berkali-kali aku selalu salah paham dengan Zain. Bahkan mungkin Zain memang tak pernah mengganggapku sebagai apapun. Aish ... kenapa aku harus menjalani cinta sepihak.


Mobil berhenti di halaman sebuah masjid. Saat kulihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sebentar lagi akan memasuki waktu shalat Dzuhur. Mungkin karena itulah Zain terburu-buru memutus sambungan teleponnya. Setidaknya aku sedikit lega Zain ternyata tidak mendengar ucapanku sebelumnya, atau pura-pura tidak mendengar. Entah.


Setelah menyandang status sebagai seorang istri, aku kerap menyaksikan Zain memenuhi kewajiban sebagai hamba tepat pada waktunya. Hal itulah yang membuatku semakin terpesona pada pria yang memang good looking, good rekening dan good attitude. Perfect.


Setelah mendirikan shalat Dzuhur, aku segera masuk ke dalam mobil sambil menunggu Zain yang tengah khusyu meruntut do'a. Hingga menunggu lima belas menit di dalam mobil, Zain belum menampakan lubang hidungnya lagi. Entah apa yang ia minta pada Tuhan setelah menjadi pria yang menurutku nyaris sempurna.


TOK ... TOK ... TOK ...


Aku menoleh kearah kaca mobil yang diketuk dari luar, Zain telah berdiri di sana. Akhir-akhir ini ia memang selalu muncul tanpa notifikasi, mungkin sedang menguji seberapa sehat jantungku.


"Kita makan dulu, sebelum melanjutkan perjalanan kembali," ucap Zain setelah aku turun dari mobil dan berdiri di hadapannya.


Zain meraih tanganku, menuntunku menyebrangi jalan layaknya anak kecil. Sesekali ia menghentikan laju kendaraan yang akan melintas agar aku dan Zain bisa melewati jalan hingga ke seberang.


Setelah sampai di sebuah rumah makan, Zain menyuruhku memesan apapun yang kumau. Aku memesan semua menu yang kurasa enak.


Pria dengan label good rekening mengerutkan dahi, setelah menerima bill dari makanan yang telah habis kulahap. Matanya menyorot tajam ke arahku, lalu menyerahkan beberapa lembar uang merah pada kasir. Aku hanya menggendikan bahu tanpa merasa bersalah sedikitpun. dia yang suruh membeli apa pun yang aku mau.


"Makanmu banyak juga," tukas Zain saat menggenggam kembali tanganku untuk menyebrangi jalan menuju mobil kami di parkiran.


"Masa pertumbuhan," jawabku enteng tanpa melihat ekspresi lawan bicara, aku pun sibuk menatap laju kendaraan yang makin lama makin mendekat.


"Mau tumbuh seberapa besar?" tanyanya lagi sambil terus menarik tanganku di belakang langkahnya.


"Bukan besar, tapi tinggi." Kini mataku terarah pada punggung pria yang menggenggam tanganku dengan erat. Setiap kata yang dilontarkan Zain memang kasar tapi sikapnya padaku begitu lembut.


"Halu!" ucapan Zain berhasil menghentikan langkahku tiba-tiba. Genggaman tangannya pun kuputus sepihak, aku tidak bisa terus terlena dengan perlakuan Zain tapi terus tersakiti oleh ucapannya. apa susahnya meng-Amini harapanku.


Dengan senang hati aku menikmati kehangatan tubuh pria yang memelukku. Tanpa malu dengan orang yang mulai berkerumun, makin kueratkan pelukan dan menempelkan telingaku pada dada yang mulai berdebar kencang.


"Apa kamu tidak waras!" Zain berteriak setelah melepas pelukan dan menjauhkan tubuhku darinya. Raut wajahnya begitu khawatir, matanya memindai seluruh tubuhku dari ujung kepala hingga kaki.


Rasa bahagia pun tidak bisa aku sembunyikan atas perlakuan Zain padaku, sebuah senyuman muncul tanpa konfirmasi dari bibirku sebagai apresiasi tindakan Zain. Punggung tangannya berkali-kali ditempelkan pada keningku.


"Tanganmu yang terluka, kenapa kepalamu yang gegar otak?" Kini raut wajah khawatir itu menghilang dan digantikan dengan raut wajah geram. Senyumku pun mulai berganti jadi meringis saat rasa perih mendera siku tangan kananku.


"Darah?" pekikku saat Zain menunjukan siku pada tanganku yang terluka.


"Itu luka kecil, lihat kesana!"


Mataku mengikuti arah jari telunjuk Zain, ada pesepeda motor yang jatuh tak jauh dari tempatku kini berdiri. Kakinya penuh dengan darah segar yang mengalir.


"Darah!" Setelah melihat pria itu kepalaku terasa sangat berat, napasku begitu sesak dan pandanganku gelap.


Aku mengerjapkan mata beberapa kali, cahaya lampu yang masuk ke dalam retina mataku terasa begitu menyilaukan. Saat mataku benar-benar siap menerima semua cahaya itu, set sudah berganti di dalam sebuah ruangan dengan aroma karbol yang menyengat.


Bukan hanya Zain yang berdiri di samping ranjang tempatku kini terkulai lemas, ada satu pria tampan lagi di samping Zain. Pria yang menawariku makan di restoran kemarin, ya ... aku mengingatnya sekarang. Apa! Sedang apa pria itu berdiri di sini?


"Di mana aku?" tanyaku pada dua pria yang menatapku dengan ekspresi berbeda.


"Di rumah sakit." Sang pria yang tak kuketahui namanya itu menjawab dengan lembut, sedangkan Zain hanya menarik napasnya dengan berat seolah baru menemukan oksigen.


"Ngapain aku di rumah sakit?"


"Nyari makan malam." Kini Zain yang menjawab, tapi tak selembut pria tampan di sampingnya.


Dengan sisa energi yang ada dalam tubuhku, aku mencoba bangkit untuk duduk. Zain selalu sigap untuk membantu bila dalam keadaan seperti ini, jadi makin sayang, eh.


"Kamu penyebab kecelakaan sepeda motor yang tadi, dia adalah bos dari si pengendara." Zain mengklarifikasi di telingaku setengah berbisik.


Aku langsung membolakan mata karena terlalu kaget dengan berita tersebut. Kutatap wajah sang pria yang berekspresi datar padaku. Apa dia akan menuntut ganti rugi atas nama karyawannya?


Meskipun masih di atas ranjang, aku memaksakan diri bersimpuh di depan sang pria dengan menempelkan kedua telapak tangan di depan dada. Memohon pengampunan pada pria tersebut, lebih penting dari pada harga diriku.


Aku tidak memiliki uang untuk biaya ganti rugi.