
"Kenapa harus bohong segala. Kalau aku tahu kita dikejar, aku tidak akan melambatkan lariku."
"Aku khawatir Kaka menjadi panik!"
"Tapi tetap saja, seharusnya dari awal kamu harus ngomong apa adanya. Apalagi orang itu pasti menargetkanku, bukan kamu, Rayya. Aku tidak tahu harus meminta maaf atau berterimakasih padamu."
"Gak usah dipikirkan, Kak. Yang penting kita semua selamat. Alhamdulillah, Allah mengirim Mas Zain tepat waktu."
"Zain?" Tasya menghentikan langkah, diikuti pula olehku yang berjalan di sisinya. Pandangan kami kini tertuju pada pria yang berjalan di belakang. Mas Zain.
"Terimakasih," ungkap Tasya pada pria yang masih mengenakan jas hitam lengkap.
"Tidak perlu sungkan. Aku di sini untuk istriku!"
Astaghfirullah, kenapa dalam situasi seperti ini mas Zain tidak bisa sedikit saja berbasa-basi.
Kami melanjutkan perjalanan hingga jalan besar untuk mencari taksi dengan saling berdiam diri. Setelah jawaban itu keluar dari mulut suamiku, Tasya kembali menjadi sosok yang pendiam.
Belum lama kami sampai pada tempat tujuan, dering handphone diperdengarkan. Zain berbicara dengan seseorang di balik telepon tersebut dengan mimik wajah yang panik.
Kudekati mas Zain untuk mencari tahu apa yang membuatnya seperti itu.
Saat menyadari aku berada di sisinya, mas Zain segera merengkuhku. Kurasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Mama, masuk Rumah Sakit," bisiknya disela pelukannya yang makin erat. Tubuhnya bergetar, isakan juga tak bisa disembunyikannya. Aku tahu bagaimana cemasnya mas Zain saat ini.
"Kita ke Rumah Sakit, sekarang!"
Aku mengangguk menuruti ajakan suamiku.
"Mas, ajak Kak Tasya sekalian, ya. Kita tidak mungkin membiarkannya pulang sendirian, apalagi setelah kejadian tadi."
Kali ini mas Zain yang menganggukan kepalanya.
*****
"Kenapa Mama gak pernah cerita apa pun sama, Zain!" Baru saja melepas pelukan dari sang mama, mas Zain sudah mulai dengan gerutuannya. Sepertinya ia lebih marah pada mama ketimbang khawatir.
"Apa sih kamu, Zain. Awas minggir, mama pingin ketemu menantu mama."
Disingkirkannya sang putra untuk memberiku akses memeluknya yang tengah duduk bersandar pada bantal yang di tumpuk.
Dari matanya, terlihat jika ia tak suka pada Tasya yang berdiri di belakangku. Namun, mama masih mau memeluk Tasya ketika ia mendekat. Berbeda dengan Zain yang selalu menunjukan sikapnya yang ketus pada Tasya.
"Tasya, apa kabar?" Mama masih menyapa Tasya dengan penuh kelembutan. Sepertinya mereka memiliki kedekatan spesial sebelumnya.
"Alhamdulillah, Ma. Baik."
"Kenapa kamu ada di sini?"
"Aku ...."
"Kak Tasya, tetangga sebelah rumah kami, Mah! Saat Papa menelpon tadi, kami tengah jalan-jalan bersama." Aku mewakili Tasya menjawab pertanyaan mama, karena Tasya sepertinya ragu untuk menjawab. Toh jawabanku tidak sepenuhnya bohong.
Ekspresi terkejut yang mama tampilkan. Mungkin beliau tidak menyangka jika putranya memilih rumah di samping rumah wanita yang pernah mengisi hari-harinya dulu.
"Di mana suamimu?"
"Suamiku ...." Tasya menjeda ucapannya karena terisak, oleh karena itu mama kembali merengkuh Tasya ke dalam pelukannya.
Mas Zain yang menyaksikan kejadian ini, segera mendekatiku. Dipeluknya istri tercintanya ini. Mungkin mas Zain berusaha menjaga perasaanku karena melihat mama memeluk Tasya. Padahal dalam hati ini tidak ada rasa iri sama sekali.
*****
"Mama kenapa sih?" tanyaku setelah duduk di sebelah brankar yang di tempati mama, bersebrangan dengan keberadaan mas Zain.
"Kata Dokter, hb mama terlalu rendah. Akhir-akhir ini mama sering begadang."
Yang menjawab malah papa. Lagh terus ... kak Tasya sendirian dong?
"Hb nya cuma di angka lima, yang seharusnya dua belas sampai enam belas pada wanita dewasa. Makanya Mamamu pingsan tadi." Papa kembali menjelaskan.
"Gak papa, Sayang. Nanti bisa pulih, kok. Mama hanya kangen sama kalian."
Dielusnya wajah sang putra dengan kelembutan. Melihat kehangatan ibu dan putranya membuat mataku menghangat seketika.
"Ini bukan modus jenis baru agar Zain balik ke rumah, kan?"
Tepat setelah mas Zain mengucapkan hal itu, usapan lembut di wajahnya berpindah ke telinga dan menariknya. Namun setelah itu kecupan mendarat lembut di kening putranya juga menantunya.
"Kalian baik-baik saja kan?"
"Kami baik, Mah. Sangat baik," jawabku sambil meletakkan kepala ini di bahunya.
Entah mengapa mereka yang sakit selalu mengkhawatirkan yang lebih sehat.
"Mama senang lihat kalian seperti ini."
Mama menggengam tanganku dan tangan mas Zain, kemudian menumpukkan tangan itu menjadi satu. Mas Zain pun menautkan jemarinya dengan jariku tanpa ragu meski di depan mama.
"Kami akan pindah ke rumah mama secepatnya. Jika mama keluar dari Rumah Sakit secepatnya juga!"
"Kenapa membuat keputusan tanpa diskusi dulu dengan suamimu?" Mulutnya memang menolak, tapi pancaran matanya seperti menyetujui usulanku. Dasar suami.
Setelah bercanda yang merubah wajah mama dari pucat menjadi merona, aku pamit untuk menemani Tasya yang masih berada di luar. Kasihan jika harus ditinggal sendirian begitu lama.
Kusodorkan sebotol air mineral pada Tasya yang duduk termangu. Aku mengambilnya dari dalam kulkas yang ada di kamar rawatnya mama.
Setelah lari-larian, kami bahkan belum berkesempatan membasahi tenggorokan karena kejadian yang berentettan tanpa jeda.
"Terimakasih." Kak Tasya selalu ramah seperti sebelumnya.
"Kak, mau ke kantin? Kaka belum makan apa pun!"
"Aku tidak lapar, Rayya."
"Tapi aku lapar, Kak. Bisa temani aku makan?"
Kak Tasya terdiam sejenak, lalu menganggukan kepalanya. "Oke. Baiklah!"
"Aku izin dulu pada mas Zain."
Aku kembali memasuki ruangan untuk meminta izin pada Zain. Langkahku terhenti seketika ....
"Tujuanmu menikahi Rayya dalam waktu sesingkat itu untuk menunjukan hidupmu lebih baik dari orang lain? Apa kamu sekarang merasa bangga, kamu mendapatkan kebahagiaan itu setelah mengorbankan perasaan gadis yang tak bersalah? Kamu tega Zain, kamu tega dengan sengaja memilih rumah itu untuk kalian tinggali, sedangkan kamu tahu, wanita dari masa lalumu berada di sana."
"Kenapa Zain? Kenapa kamu melakukan hal itu, apa mama dan papa mengajarimu seperti ini? Apa kamu tidak memikirkan perasaan Rayya? Gadis itu meninggalkan keluarganya demi mengikutimu ke tempat yang baru, tanpa sanak saudara tanpa kerabat. Dan kamu tega menjadikan gadis itu hanya sebagai alat untuk memenuhi ke'egoisanmu! Mama kecewa padamu, Zain!"
"Maaf, Ma. Zain waktu itu tidak berpikir dengan jernih. Sekarang Zain--"
PRAK....
Tak sengaja tangan gemetar ini menyentuh vas bunga yang tergeletak di jendela hingga jatuh dan pecah.
Aku memang telah menduga alasan Zain memilih rumah di samping rumah Tasya dengan alasan itu. Tapi tidak kusangka, mendengar langsung dari mulut mas Zain akan terasa seperih ini.
Apa hingga kini mas Zain masih pura-pura bahagia demi Tasya?