Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Awas, jika bernostalgia


"Mas, sebelum kita mengulang akad, sebaiknya kita tidur terpisah lagi, ya. Takut khilaf," ucapku sambil merapikan baju-bajuku ke dalam tas.


Sebelumnya aku sudah memberikan pilihan pada mas Zain untuk menginap semalam di rumah tante Aira. Pasti mas Zain sangat lelah setelah penerbangan selama dua puluh jam dari negeri Paman Sam.


Sayangnya ide itu ditolak, selain rindu dengan mama dan papa, mas Zain juga harus berada di kantor pada hari berikutnya.


"Kenapa, Mas?" Aku bertanya karena mas Zain tak sedikitpun mengalihkan tatapannya dariku.


"Sedih dan kecewa."


"Karena kita tidak tidur satu kamar?"


"Karena aku tidak mendampingi istriku disaat masalah berat menghampirinya." Nampak kesenduan dari sorot matanya yang terlihat lelah.


Itulah alasan yang membuatku memutuskan untuk tidak memberitahunya lebih awal, karena mas Zain pasti akan merasa terbebani.


"Dek. Tante Aira orang yang paham dengan agama, kenapa tidak memberitahu bahwa kamu tidak bisa dinasabkan pada ayah."


Ucapan mas Zain ada benarnya juga, kenapa tante Aira menutupi hal yang demikian penting.


"Entah, Mas. Bahkan sampai hari ini tante Aira juga tidak membahas tentang akad yang harus diulang," ujarku tanpa menoleh padanya.


"Kenapa tidak ditanyakan, Dek?"


Tepat setelah semua yang hendak kubawa, masuk ke dalam tas. Aku baru menoleh pada mas Zain yang tengah bersandarkan punggung ranjang.


"Tanya apa, Mas?"


"Kenapa tante Aira melakukan itu."


Aku berpikir sejenak. Karena kertas itu saja tante Aira begitu khawatir aku akan meninggalkannya untuk orang yang baru aku tahu setatusnya.


"Haruskah? Tapi aku takut menyakiti perasaannya."


"Biar aku saja!" Mas Zain lalu beranjak dari ranjang. Kuraih lengan bajunya saat lewat di depanku, agar tak meneruskan apa yang dipikirkannya.


"Gak papa. Aku akan menanyakan dengan hati-hati. Kamu di sini aja." Tangannya terulur hendak menyentuh kepalaku, namun akhirnya ia tarik lagi.


Aku hanya diam saja. Lengan bajunya juga masih kupegangi hingga beberapa detik.


"Mau ikut, apa mau di peluk dulu?" ucapnya sambil menaik-turunkan alis.


Mau opsi yang kedua, sih. Tapi ....


"Fighting!" ucapku memberi dukungan.


Yang bisa aku dan mas Zain lakukan hanya saling melempar senyum. Padahal sudah merasa gemas sekali ingin meluapkan rindu setelah beberapa pekan baru bertemu.


Baru beberapa menit mas Zain keluar dari kamar, aku tidak sabar untuk melihatnya lagi. Eh, tidak sabar mengetahui tanggapan tante Aira. Jadi kuputuskan untuk menyusul mereka yang tengah mengobrol di ruang tamu.


"Itu Rayya, Tante. Tante bisa tanyakan sendiri."


Aku yang baru mendekat berujung dengan menggaruk tengkuk. Memang apa yang mereka perbincangkan.


Bukankah, seharusnya mas Zain yang menanyai tante Aira, kok malah berbalik padaku.


"Kenapa, Mas?" Akhirnya aku balik bertanya.


"Apa yang kamu dengar tentang bayi mbak Wanda yang hilang?"


Aku mengerutkan kening mendengar pertanyaan tante Aira.


Nampaknya sangat serius, jika dilihat dari ketegangan di wajahnya.


"Yang bagian mana, Tan?"


Terdengar helaan napasnya berat. Oke. Ini pasti hal yang benar-benar serius.


"Bayi itu hasil perselingkuhan, bukan benih kakakku!"


Deg!


Lalu, apa yang harus kujelaskan, aku sendiri tidak tahu kebenarannya.


Apalagi menatap mata tante Aira yang mulai berkaca-kaca. Rasanya ingin sekali kuteriakkan aku tidak ingin tahu cerita masa lalu, jika akan menyakiti semua orang seperti ini.


"Tan, bayi yang dimaksud ... aku 'kan?" Mata ini ikut berkaca melihat sedikit kebencian di matanya.


Pertama kali mendengar dari Detective oppa tentang cerita itu, bagiku biasa saja. Kisah itu seperti cerita-cerita lainnya, anak yang lahir dari kesalahan orang tuanya bukan baru pertama kali kudengar.


Saat bang Adam membawa bukti selembar kertas, aku hanya mencoba menguatkan diri jika aku ternyata bukan anak kandung ayah dari cerita yang kudengar sebelumnya.


Akan tetapi, melihat kebencian di mata tante Aira sangat menghancurkanku. Apa tante Aira tidak tahu kebenarannya, atau aku yang sudah salah dengar.


"Kenapa kalian harus mengulang akad?" tanya tante Aira dengan marah.


"Karena aku seharusnya tidak dinasabkan pada ayah." Lirih kujawab. Juga dengan menunduk. Ragu.


"Itu juga yang tante tanyakan. Kenapa kamu mengira harus berganti nasab. Apa saja yang mereka ceritakan sama kamu, hingga kamu menelan mentah-mentah ucapan mereka?!"


Aku justru semakin bingung. Informasi Detective oppa waktu itu ... bayi itu bukan benih suaminya melainkan benih ... sebenarnya siapa aku?


Ya Allah, ini terlalu berat. Aku tidak sanggup mengetahui semua ini.


"Mungkin kita harus tanya Dokter Wanda."


"Untuk apa!" Kembali suara tante Aira meninggi.


Membuatku semakin menunduk. Semakin tak mampu menahan laju air yang menghangat dari pelupuk mata.


"Bertanya siapa aku sebenarnya."


"Dek, kita bisa bicarakan baik-baik. Jangan menggunakan emosi. Ini pasti juga berat untuk Rayya. Lebih baik memang bertanya sama mbak Wanda, karena hanya dia satu-satunya yang tahu siapa ayah biologis Rayya sebenarnya."


Suara om Rahman terdengar menginterupsi, mencoba menenangkan istrinya. Seiring pergerakan seseorang yang mendekat ke arahku.


Mas Zain merengkuhku, menenggelamkan kepalaku ke dalam pelukannya.


*****


Rencana yang awalnya hanya aku dan mas Zain yang akan kembali ke ibukota, akhirnya membawa serta tante Aira dan suaminya. Anak-anak kembali dititipkan pada omanya, ibu dari om Rahman.


Mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah dengan gaya klasik eropa yang dicat serba putih. Rumah yang menurut mas Zain adalah kediaman Tasya dan kedua orangtuanya.


Ada taman bunga yang masih cukup terawat di sisi kanan dan kiri sepanjang pintu gerbang hingga ke pelataran rumah. Mungkin di taman inilah kak Tasya dan ibunya menghabiskan waktu merawat bunga seperti yang ia ceritakan padaku.


"Kenapa, Dek?" Mas Zain nampak khawatir melihatku tiba-tiba mematung.


Hatiku serasa teriris melihat rumpun bunga lavender, bunga yang kata kak Tasya sebagai simbolik kesetiaan.


Jika benar aku ada karena kesalahan ibuku yang masuk ke dalam keluarga ini sebagai orang ketiga. Wajar sih, jika kak Tasya membenci bayi yang hadir merusak keharmonisan ayah dan ibunya.


Aku juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi kak Tasya.


Ya Allah, gini amat asal-usulku.


"Mas Zain, sering ke rumah ini?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari rumpun lavender yang menjadi bunga kesukaan mas Zain juga.


Tante Aira dan om Rahman sudah berjalan mendahului, sehingga aku berani mengerucutkan bibir karena mas Zain begitu mudah menemukan rumah ini bahkan tanpa bantuan google maps.


"Apa itu penting ditanyakan sekarang, Dek?" Pertanyaanku di jawab dengan pertanyaan lainnya. Menyebalkan.


"Seberapa sulit sih, menjawab sering ke rumah ini apa tidak?"


"Dek." Mas Zain menghentikan ucapannya untuk menarik napas lebih dulu. "Beberapa kali," ucapnya dengan mimik sedih


"Papanya Tasya tidak menyukai anaknya didekati anak Guru SD."


"Tidak disukai, tapi pacaran sepuluh tahun, kayak kredit rumah," gerutuku sambil berlalu meninggalkan mas Zain yang masih dengan gelengan kepalanya.


Awas saja jika mas Zain kembali bernostalgia dengan rumah ini atau pemiliknya.