
Aku duduk mendengarkan omelan Zain di tepi ranjang dengan menunduk. Untung saja Zain tidak meluapkan amarahnya ketika masih ada Adam.
"Oh, jadi aku dari tadi telpon gak diangkat, chat tetap burik, karena lagi asik sama pria lain? Suami sendiri diabaikan, perintahnya gak dipatuhi. Kamu tahu gak sih, De, sikap seorang istri yang baik itu gak seperti ini. Apa kamu mau dicap sebagai istri yang dur ...."
"Sst." Aku segera beranjak, jari telunjuk ini mengunci mulut Zain yang berbicara seenak jidat tanpa memberiku waktu untuk membela diri.
"Mas, aku minta maaf. Aku salah, aku janji ini yang pertama dan terakhir kali." Aku serius berjanji, hatiku juga merasa tidak tenang setelah tahu ada begitu banyak panggilan dan chat dari Zain yang tak aku respon karena handpone dalam mode silent.
Permintaan maafku ternyata tidak membuat Zain membaik. Jari yang menempel pada bibir dijauhkannya, kemudian kembali bernarasi.
"Kenapa pulang diantar pria lain? Kamu sebagai seorang istri, harus bisa menjaga marwah-mu di hadapan pria yang bukan mahrom. Kemana perginya Rayya yang membuatku kagum karena tidak bersentuhan dengan pria lain selain suami dan mahrom-nya? Setelah aku mengakui perasaanku, kenapa kamu seenaknya berduaan dengan pria lain. Apa kamu mau aku mengibarkan bendera perang lagi?"
Secepatnya aku menghambur ke dalam pelukan pria yang tengah terbakar cemburu. Aku memang tahu kesabaran Zain setipis tisue, tapi aku baru tahu Zain juga begitu pencemburu.
Menjelaskan bahwa aku tidak hanya berdua dengan Adam, kurasa hanya akan membuatnya semakin marah. Lebih baik menjauhkan topik yang kini tengah membuatnya terbakar emosi.
"Maaf. Aku minta maaf, Mas. Aku siap menerima hukuman, jika itu membuat Mas Zain merasa lebih baik."
Zain membalas pelukanku, dikecupnya puncak kepala ini dengan lembut. Disaat bersamaan, semakin kutenggelamkan kepalaku pada dada bidangnya, sembari mendengarkan ritme jantungnya yang berpacu begitu cepat.
"Aku tidak bisa menghukummu, yang ada, aku yang merasa tengah dihukum olehmu. Kenapa sepekan terasa lama sekali?"
Mendengar ucapannya, mendadak tubuhku menegang. Rasanya aku tak sanggup mengangkat wajahku dari tempatku kini bersembunyi karena malu. Begitu gemasnya, aku sengaja mencubit dadanya.
"Jangan membangunkan singa yang tengah kelaparan, De. Bisa-bisa kamu diterkam tanpa aba-aba." Terdengar tawanya yang renyah. Aku tak bisa membalas ucapannya, yang kulakukan hanya semakin mempererat pelukan.
"Jangan ulangi lagi, ya? Kamu membuatku khawatir."
"Ini tentang apa, Mas? Cubitan yang membangunkan singa?"
"Semuanya. Aku tidak suka kamu diantar pria lain. Aku tidak ridho ada yang menatap wajah istriku selain aku. Kamu tidak diapa-apain 'kan?"
"Tidak Mas. Rayya hanya bisa disentuh oleh Mas Zain."
"Hm, sepertinya mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu keluar rumah sendirian. Aku akan mengantar kemana pun kamu pergi. Aku tidak mau kejadian hari ini terulang lagi." Zain masih membahas hal yang entah kapan akan ia akhiri. Aku hanya bisa menghela napas. Ternyata begini rasanya diposesifin.
"Hp-mu rusak? Kenapa tak membalas pesanku?"
"Dari semalam aku silent, Mas. Aku tidak mau suara notifikasi yang masuk ke hp-ku membangunkan tidurmu. Ternyata aku lupa untuk mengaturnya kembali, jadi aku tidak tahu, Mas Zain terus menghubungiku. Maaf, Mas, lain kali tidak akan aku ulangi."
"Aku juga minta maaf. Tidak seharusnya aku marah sebelum mendengarkan penjelasanmu. Aku begitu khawatir saat panggilanku tak pernah diangkat. Aku takut terjadi hal yang buruk padamu. Aku takut kehilangan kamu, De."
"Aku tidak akan pergi jauh dari suamiku. Kemanapun suamiku tinggal, aku akan menyertainya. Susah atau pun senang, insyaallah aku akan tetap disamping Mas Zain. Hingga ke Jannah." Aku dan Zain mengamini bersamaan.
"Kamu tahu, De?"
"Gak!"
"Dengerin dulu!"
"Kakimu diserang semut lagi?" Kini kuberanikan mengangkat wajah setelah kurasa jantungku kembali normal.
"Mas Zain, ngomongnya kelamaan."
"Ish." Zain mendecih, kutanggapi dengan senyum. Sebelum kesabarannya menghilang aku menutup mulut. Mencoba mendengarkan apa yang akan dia katakan.
"Selama aku membangun usaha, bagiku kamu adalah keuntungan terbesar yang aku terima dari kerja kerasku."
Aku mengernyitkan dahi. Zain tersenyum puas, melihatku kebingungan.
"Kamu adalah anugerah Tuhan yang paling indah, yang pernah aku miliki. Jika aku bukan Zain seperti sekarang ini, apa kamu mau menerima lamaranku?"
"Mas, aku akan menerimamu, bagaimana pun kondisimu saat datang padaku. Karena memang Allah telah menyandingkan nama kita di lauful madfuz, lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan bumi itu sendiri."
"Aku menyukai istriku yang selalu berpikir dengan dewasa." Ditangkupkannya dua tangan pada wajahku, kemudian menarik kepala ini ke arahnya. Sebuah kecupan mendarat sempurna pada kening. Aku juga menyukai suamiku yang begitu lembut, meski kadang temperamental.
"Sepertinya aku yang tidak akan percaya diri untuk melamar gadis sebaik kamu, jika aku bukan Zain yang sekarang."
"Aku menyukaimu apa adanya, bukan karena gelar CEO yang kamu sandang, Mas."
"Karena aku mirip idola yang fotonya segera kamu umpetin, saat aku melihatnya?"
Aku segera menggeleng, "Aku mendapatkan fotocard itu setelah berbulan-bulan menyisihkan uang jajan yang diberikan tante Aira. Tentu saja aku khawatir jika Mas Zain tiba-tiba membuangnya."
"Oh." Aura wajah Zain seketika berubah. Hanya perihal foto yang tidak mungkin aku gapai kecuali dalam halusinasi pun membuat Zain cemburu.
"Aku tidak mau kamu memikirkan siapa pun selain suamimu yang tampan ini!"
Kata-katanya membuatku tertawa, ternyata orang yang tengah dilanda kecemburuan bisa melakukan apa saja, termasuk narsis, mengakui diri sendiri tampan.
Berbanding terbalik denganku yang tengah menikmati kecemburuan suamiku, Zain cemberut. Tangannya ia lipat di depan dada.
Sepertinya saat ini aku yang harus meredakan cemburu yang tengah memenuhi hatinya. Kedua tangan kutangkupkan pada wajah Zain. "Itu hanya foto, Mas. Tidak akan ada yang bisa menggeser posisi suamiku di hati dan pikiranku."
Ya Allah, suamiku tersipu. Kedua pipi chubby-nya memerah. Yang lebih menarik dari itu adalah matanya. Keceriaan nampak pada mata bermanik coklat tersebut.
"Karena mata ini," ucapku sembari menyapu bawah kelopak matanya dengan ujung jari-jariku.
"Aku melihat kehangatan di dalamnya. Mata ini yang memanjakanku, seakan menyuruhku untuk menyelam lebih dalam."
Tiba-tiba, gerakan jari ini terhenti karena Zain mencengkeram dengan begitu kuat. Tubuhku menjadi dingin seketika itu juga, seakan darah berhenti mengalir. Degup jantung tak perlu diragukan lagi, ia juga sempat berhenti beberapa detik sebelum akhirnya bergejolak hebat.
Diletakannya tangan yang ia cengkeram ke pundaknya, sedangkan tangannya sigap meraih pinggangku dan menariknya. Zain kembali memangkas jarak, menguasai seluruh oksigen tanpa sisa hingga aku kesulitan bernapas.
Beberapa kali memberontak ternyata tak membuat Zain menyudahi aktifitasnya, hingga aku sedikit menggigit bibirnya, barulah pagutan itu ia lepaskan.
"Mas, mau ke mana?" Aku setengah berteriak ketika Zain beranjak keluar dari kamar.
Apa Zain marah?