Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Bercocok tanam


"Zain meneleponku?" Suara Rendi kembali mengingatkanku dengan ucapan yang terpotong karena ulah Zain.


"Iyah waktu_"


"Gimana dengan klien yang harus kita temui? Kapan beliau akan sampai di Jakarta?"


Ish ... aku yakin Zain memotong ucapanku hanya untuk mengalihkan pembicaraan. oke, aku akan menanyakan pada Rendi lain kali.


Entah sudah berapa kali aku menguap, aku sama sekali tak berselera mendengarkan pembicaraan Zain dan Rendi. Mereka hanya membahas tentang pekerjaan yang tidak kupahami sedikit pun.


**********


"Zain?"


Pria yang tengah duduk di teras belakang seketika menoleh ke arahku saat namanya kulafazdkan.


Perlahan menggulung koran yang sebelumnya ia baca. Ternyata di jaman seperti ini masih ada juga yang menggunakan media cetak untuk mendapatkan informasi.


Aku sengaja memilih duduk di sampingnya, sambil menikmati suasana malam yang begitu romantis, dengan ribuan bintang yang bertaburan di angkasa.


PUKK


Aku meringis saat gulungan koran mendarat mulus di atas ubun-ubunku. Terkejut, bukan sakit.


"Tidak sopan," ucapnya mengambil dialog yang harusnya aku katakan.


"Kamu yang tidak sopan. Main getok aja!" Aku protes dibarengi cemberut.


"Menyebut nama suami, menurutmu sopan?"


"Ooh." Aku mencoba memahami ucapan Zain, tapi ternyata tidak bisa. Dia yang tidak ingin disebut suami sekarang ingin aku hormati sebagai suami.


"Oh!" Zain mengulangi ucapanku sambil menaikan satu alis. Aku menoleh ke arahnya sambil nyengir kuda.


"Bertemu Rendi, langsung kamu sebut kak. Suami sendiri seenaknya manggil Zain."


Aku ingin tertawa mendengar komplenan-nya. Tapi aku harus bersikap datar seolah tidak ada rasa.


"Cemburu?" Ekspresi kubuat setenang mungkin, sembari menggoda Zain.


"Gak lah. Ngapain," ujarnya lalu menyruput kopi buatan sendiri.


"Cemburu itu tanda cinta, hati-hati jatuh cinta beneran?" Aku terkikik dalam hati.


"Ingat perjanjian," ucapku selanjutnya.


Mencoba mengingatkan Zain beberapa waktu lalu, yang sebenarnya aku kegirangan bukan main. Pingin koprol kayang, sambil nari ulet.


"Ish." Zain mencebik.


Aku langsung beringsut mundur saat melihat gerakan tangan Zain yang kembali melayangkan gulungan koran.


"Besok aku akan kembali kekantor."


Ucapan Zain membuatku sedikit terkejut, saat ia mengutarakan niatnya. Apa artinya sekarang aku ada dalam daftar orang yang akan Zain mintai pendapat?


"Kalo begitu aku juga ingin meminta izin. Aku akan mengunjungi Imelda besok." Aku bicara dari jarak satu meter.


"Kamu bisa kemanapun sesukamu, tidak perlu ijin dariku."


Eh, busyet. Pria ini gak ngerti konsep istri Solehah. Pantang keluar rumah tanpa mengantongi izin suami.


"Gak gitu juga Bambang! Istri itu harus dapet izin suami baru bisa keluar rumah, kalo tidak, disebut membangkang."


Zain terlihat menghela napas perlahan, entah apa yang salah dari ucapanku, aku hanya memberi tahu apa yang aku pahami. Tanpa berniat ingin menggurui.


Diam-diam ternyata gulungan koran kembali berubah bentuk. Membulat seperti bola yang sudah siap dioper kapan saja.


"Kenapa kamu seenaknya, mengganti nama pemberian orang tuaku!"


Aku lari sebelum bola koran benar-benar dioper padaku. Sudah menjadi kewajibanku menyelamatkan diri sendiri, saat merasa jiwa dan raga ini dalam ancaman bahaya.


"Aku akan memanggilmu sayang." Aku berteriak sambil berlari menuju kamar.


Aku merebahkan diri di ranjang, saling bertatap dengan langit-langit kamar. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama dengan Zain, namun tidak memungkinkan untuk saat ini, karena situasi dan kondisi emosi Zain yang tidak stabil.


Suara dering handphone memenuhi Indra pendengaran. Aku segera beranjak mencari benda pipih yang sebelumnya kuletakkan di atas nakas.


'waalaikumussalam,' jawaban sang mama menggema di telinga.


'Kalian keterlaluan ya! Pulang ke Jakarta tidak memberitahu mama sama papa. Kan mama sudah bilang kalian harus berbulan madu dulu sebelum kembali. Tantemu juga! Dia baru ngabarin mama barusan, bilangnya lupa. Kalian udah janjian ya, ngga ngabarin mama!'


Astaghfirullah ... apa kabar telinganya Zain, punya mama yang ngomongnya cepet banget kaya KRL.


"Iyah mah maaf, ini Rayya sama Zain juga itung-itung lagi bulan madu mah. Kan cuman tinggal berdua."


Obrolan dilanjutkan dengan panjang lebar dari persoalan tak memberi kabar hingga persoalan cetak mencetak cucu. Semoga dengan sedikit kata yang terdapat kalimat bulan madu, bisa menenangkan ambisi mama yang terus mengajak otakku traveling.


Sabar mah, menantu kesayanganmu ini juga sedang mencari cara, agar cepat mempraktekan ilmu yang sudah diwariskan. Tunggu tanggal mainnya aja.


"Zain, eh sayang. Mama ingin bicara."


Aku memberikan handphone dalam tanganku pada Zain setelah aku kembali menghampirinya yang masih merenung di teras belakang.


Setelah serah terima telepon, aku kembali kedalam kamar. Alasan di balik sikapku, karena tidak ingin di sangkut pautkan lagi dengan perdebatan anak dan ibu, tentang pelajaran biologi yang membahas reproduksi.


Tidak sampe sepuluh menit Zain sudah menggedor pintu kamar dengan beringas. Mungkin semua ilmu tentang bercocok tanam sudah dicernanya dengan sangat baik.


"Rayya, buka pintunya cepat."


Aish ... Gak sabaran banget, masih terlalu dini untuk mempraktekan ilmu yang baru didapat, nunggu agak maleman dikit ndak bisakah?


"Sabar," celotehku sesaat setelah pintu terbuka.


Akan tetapi ekspresi wajah yang ditampakkan Zain berbeda dari yang kuharap kan. Zain terlihat begitu murka. Untung saja aku tidak membuka pintu lebar-lebar, sehingga tubuh mungilku masih bisa berlindung dibalik pintu.


"Handphone." Aku terlalu sadar diri untuk meminta lebih, selain untuk mengembalikan alat komunikasi yang ada di tangannya.


"Kamu ngadu ke mama!"


Mata Zain membulat begitu sempurna, membuat nyaliku menciut untuk menatapnya. Aku hanya bisa menjawab dengan gelengan kepala.


"Balikin handphone-ku." Kembali aku merengek dengan tangan menengadah dan pandangan jatuh ke arah kaki Zain yang hanya memakai alas kaki sebelah. Kemana yang sebelah lagi coba?


"Bagaimana mama bisa tahu kalo kita tidur beda kamar?" sarkas nya lagi yang membuatku mendongakkan kepala. kupikir masalah tanaman yang sebelumnya kubahas dengan mama. Ternyata ....


"Kamu kan yang ngadu!" Zain terus menuduhku tanpa bukti konkret.


"Emang mama bilang? aku yang ngadu, gitu!"


Zain terlihat berpikir sejenak sebelum Akhirnya menyerahkan handphone padaku.


"Go ... go ...." ujarku sambil mengibaskan tangan kearah Zain.


Zain mencebik, lalu membuat gerakan sarkasme dengan menendang udara di sekitar. Langsung kututup pintu sebelum sebelah sandalnya lancang memasuki kamarku.


"Zain!" Kembali kumunculkan sedikit kepalaku di ambang pintu. Yang punya nama pun, mau tidak mau kembali menoleh ke arahku.


"Kemana sandalmu yang sebelah lagi?"


"Rayya!"


"Ya!"


"Gak lucu!"


"Bodo."


Zain kembali melangkahkan kakinya ke kamar, namun sebelum sempat memegang handle pintu aku melafazdkan namanya. Zain pun menoleh ke arahku.


"Aku ingat, kenapa mama tahu kita tidur terpisah."


"Sudah gak mood."


"Yakin nih, gak mau tahu?"


Pria yang ngakunya sudah gak mood itu ternyata menunggu jawabanku, seraya membuat kedua tangannya bertengger di pinggang.


"Mau tahu aja, tahu banget, apa tahu bulat digoreng dadakan?"


"Rayya!"


Bye ...