
"Aku tidak bohong!"
Zain menunjukan dua nomor dengan profil dua orang berbeda pada nama Rendi di kontaknya. Zain bagaikan kepingan puzle bagiku.
"Mau berteman denganku?"
Zain memicingkan mata, mungkin dia memfokuskan pandangan dengan niatku berteman. Aku harus dekat dengannya, agar tau seberapa dalam luka itu. Untuk memastikan apakah aku bisa merangkai kembali setiap kepingan puzle.
"Ya sudah, kalo gak mau!" Aku menarik kembali tangan yang kugantung tanpa sambutan Zain.
"Statusku, di sini apa ya? Cuma orang bayaran kah? Bahkan untuk berteman pun, sepertinya tidak mungkin. Kamu seperti bulan di langit, sulit untukku gapai. Padahal, aku hanya ingin menjadi bintang di langit yang sama, agar kamu tahu, kamu tak sendiri."
Zain meraih tanganku, setelah aku bangkit dari duduk, kembali menyuruhku duduk di sampingnya, menatap tunas pohon yang kini menjadi rutinitasnya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, kemarin," ucapnya setelah aku pada posisi sebelumnya.
"Yang mana?" Aku menoleh padanya yang tengah duduk memeluk kedua lututnya. Zain yang begitu berwibawa di kantornya berbanding terbalik dengan saat ini. Rasanya, ingin kurengkuh tubuh itu agar bersandar di bahuku.
"Kenapa menerima lamaranku!"
Aku menghela napas, mengingat kembali pertemuan pertama dengan pria di sampingku. Manik matanya membuatku jatuh cinta, aku melihat keteduhan di sana. Aku hanya tidak menduga, jauh di dalamnya ternyata mata itu menyimpan luka.
"Jawaban jujur, apa bohong?!" godaku menghangatkan udara yang terasa beku.
Zain hanya mendecih, disertai lengkungan tipis di bibirnya. Tipis, sangat tipis, mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya.
"Mas Zain, tidak menganggapku sebagai istri. Teman juga bukan. Sepertinya jawaban jujur atau bohong pun tidak berbeda." Aku menghela napas kembali.
"Aku menyukaimu dari pertemuan pertama kita."
Setidaknya aku bisa mengungkapkan perasaanku, entah bagaimana Zain akan menerimanya, aku sendiri tidak yakin akan bersambut dengan baik.
Ternyata seberat ini mengakui perasaan pada orang yang kita sukai. Aku tak sanggup menatap matanya setelah itu, hingga bintang yang bertebaran di langit, menjadi pelarianku.
"Sepertinya kata maaf, tidak akan mampu menebus kesalahanku padamu, apa yang harus kulakukan?"
Aku tersentak mendengar ucapannya, kata maaf bisa terdengar semanis ini di telingaku. Aku tidak akan melambungkan hatiku hingga menyentuh bintang, setelah ini pasti akan dihempaskannya hingga ke jurang.
"Apa kamu mau, aku ... mentransfer sejumlah uang lagi ke rekeningmu?"
Sudah kuduga, itulah yang ada di pikirannya. Selalu menilai ketulusanku dengan uang, uang dan uang.
"Berikan semua aset perusahaanmu padaku!" sanggahku penuh amarah. Di luar dugaan, Zain malah terkekeh memperlihatkan barisan giginya. Aku tidak lagi ngebadut.
"Apa Tasya wanita itu?" ucapanku menghentikan tawanya. Dari ekspresi wajahnya, aku tau, tebakanku benar.
Rumah kami yang bersebelahan bukan suatu kebetulan, dan perjanjian itu? Aku tidak mau menduga lebih dalam, terlalu sakit mengetahui alasan Zain menikahiku. Please, air mata ... tetap stay di tempat.
"Kamu berbohong padaku?" Tuduhnya setelah hening beberapa saat.
"Kamu menuduhku bohong tentang foto itu, kan? Aku tidak melihat wajahnya, hanya inisial di pergelangan tangan!"
"Kamu marah?!" tanyanya setelah menempelkan sebagian wajahnya pada lututnya yang ditekuk untuk melihat ekspresiku.
"Kenapa harus marah? Aku bukan siapa-siapa di sini." Aku meniup puncak hijab yang lepek, masih dengan tekad yang sama, menghalau air mata yang membumi.
"Kamu aneh! Selalu melewati batas yang telah aku tetapkan," ucapannya membuatku menoleh, hingga manik mata kami saling beradu.
Aku hanya membatu melihat senyum di wajahnya yang seolah begitu bebas tanpa ada beban. Mengapa Zain sebahagia itu? Ketika aku tahu tentang rahasianya.
"Mau minum kopi?"
Aku beringsut mundur, menyadari keanehan yang terjadi pada Zain. Tentu saja aku menggelengkan kepala, menolak tawarannya, bagaimana kalo ia mencampur sianida.
"Kita perlu kopi, untuk menemani cerita yang panjang," ujarnya masih mempertahankan senyum di wajahnya sambil berlalu.
Aish ... Zain membuatku dilema antara kopi dan cerita panjangnya.
"Aku akan membuat kopi." Aku bergegas berdiri kemudian berlari mendahului Zain menuju dapur.
Aku menyiapkan satu cangkir kopi untuk Zain, insyaallah aman tanpa sianida, bahkan dibuat dengan sepenuh cinta. Setelah kopi tersaji aku fokus menatapnya, yang duduk di hadapanku dengan meja sebagai pembatas. Penasaran dengan kalimat yang pertama kali akan keluar dari mulutnya.
"Enak!"
Kata yang pertama terucap tidak sesuai ekspetasi, tapi cukup membuatku berbangga diri, Zain memuji kopi buatanku. Kamsahamnida.
"Kenapa menatapku seperti itu?!"
"Aku menghitung jumlah bulu matamu!" ucapku geram. "Aku menunggumu memulai cerita, lah." Lama-lama tak gigit pipinya.
Setelah beberapa saat, Zain memulai kisahnya sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. Aku menyimak dengan seksama, setiap kata yang lolos dari mulutnya seperti mata pisau yang mengoyak hatiku.
Aku dapat merasakan penderitaan hanya dengan menatap netranya. Luka itu, telah merubah pria di hadapanku menjadi sosok dingin dan pendendam. Aku akan terus berada di sisinya hingga ia menemukan jati diri dan kebahagiaannya kembali.
"Aku akan melakukannya!" Aku meyakinkan Zain, bahwa aku akan membantunya meski kini aku tahu tujuannya menikah denganku. Dengan konsep yang berbeda.
"Aku akan mentransfer uang ke rekeningmu segera!"
Astaga ... aku membantunya bukan karna uang, aku tulus ingin merubah cara pandangnya tentang kebahagiaan.
Segera aku beranjak mendekati Zain dan duduk di kursi yang paling dekat dengannya. Mencoba bicara dari hati ke hati, bahwa aku hanya menginginkan hal baik ada dalam kehidupannya.
"Jangan bahas tentang uang lagi. Setelah akad terucap, aku sudah mengatakan aku tidak butuh uangmu. Aku akan melakukan kewajibanku sebagai seorang istri, bukan karena perjanjian yang kamu inginkan. Tolong, berikan aku kesempatan."
Wajahnya tak menampakan ekspresi karena ucapanku, aku mengerti. Luka itu membuat kepercayaannya pada cinta menghilang.
"Kamu pernah mengatakan, tidak ada kesepakatan jika tidak menguntungkan keduanya?"
Aku menggelengkan kepala, bukan untuk menyangkal ucapanku dulu. Tapi untuk meyakinkan Zain, aku sudah melupakan tentang keuntungan kesepakatan.
"Aku membutuhkan kepercayaanmu, itu lebih berharga bagiku, dari pada uangmu."
"Aku akan memberikan setengah saham yang kumiliki di perusahaan padamu."
Aku tak sanggup lagi menahan air mata yang terus mencoba meruntuhkan benteng pertahanan. Mereka lolos begitu saja membasahi kedua pipiku.
Luka itu membuat sebagian hati Zain mengeras, hingga meyakini semua wanita hanya menginginkan harta dari prianya. Ia tak percaya bahwa aku benar-benar ingin hadir dalam hatinya meskipun ia tak berada di posisinya sebagai pemimpin perusahaan.
"Bisa berikan aku pelukan saja?" ucapku yang melihatnya mulai mengiba saat aku menangis.
"Maukah memelukku seperti ini, meski aku tak menangis?"