
"Hai, Sayang!"
Sang wanita memeluk dan mencium kedua pipi pria yang barusan menyebutnya, mama. Kemudian, tangan itu mengusap rambut Detective oppa. Seperti telah terjalin sebuah hubungan yang manis antara pria yang telah aku mintai informasi dengan targetnya.
"Mil, apa kabar? Kamu, kemana saja. Sibuk apa sekarang?" Rentetan pertanyaan keluar dari bibirnya yang dipoles dengan lipstik tipis. Sebelum Detective oppa menjawabnya, mata sang Dokter tertuju padaku.
"Rayya, kita bertemu lagi. Bagaimana kabar Zain?"
Semua mata tertuju padaku yang duduk dengan canggung. Kecanggungan kini bertambah berlipat-lipat karena ekpresi Adam dan Detective oppa seakan menanyakan kenapa sang Dokter mengenalku.
"Alhamdulillah, Sudah mulai membaik. Sesuai jadwal, mungkin pekan depan sudah bisa dilepas, gips-nya."
"Sukurlah," ucap sang Dokter, kemudian duduk di kursi yang ada di sebelahku. Satu-satunya kursi yang tersisa di meja kami.
"Mama, kenal Rayya juga?" Ekpresi heran masih Adam tampakkan. Wanita yang dipanggil mama mengulas senyum saat menatap sang putra.
"Kami pernah bertemu sekali, di Rumah Sakit." Dokter Wanda menjelaskan.
"Sepertinya, masuk Rumah Sakit adalah hoby-mu?"
"Kapan aku diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaanku?" Detective oppa menginterupsi tepat sebelum aku menjawab dugaan Adam.
"Bagaimana kabarmu, Mil?" Dokter Wanda kembali mengulang pertanyaannya.
"Alhamdulillah, Tante. Tante makin cantik aja."
Dipuji demikian, sang Dokter kembali mengulas senyum. Ditepuknya bahu kokoh sang pria hingga terguncang. "Kamu bisa aja, Mil. Bisa membuat tante berasa umur dua lima. Dikali dua."
Entah apa yang lucu, tapi mereka semua tertawa. Aku pun menghormatinya dengan memamerkan deretan gigi, agar sedikit lebih rileks.
Dokter Wanda hanya mampir sebentar. Namun, percakapan di antara kami berempat seperti keluarga yang telah lama saling mengenal.
"Jika Dokter Wanda, ibumu. Kamu dan Tasya, kakak beradik?" tanyaku pada Adam setelah kepergian Dokter Wanda yang kembali ke Rumah Sakit diantar oleh Detective oppa.
"Bukan!" jawabnya singkat dan tegas.
"Kenapa bertanya demikian?"
"Ah, tidak." Aku melambaikan kedua tangan.
"Mama hanya menceritakan tentang Tasya, sepertinya mama tidak berniat mengenalkanku pada putri sambungnya."
Aku mengerutkan kening, tak paham arah pembicaraan pria di depanku.
"Kamu sendiri, mengenal Tasya?"
"Rumah kami bersebelahan."
"Oh, ya? Mungkin aku harus main ke rumahmu. Aku penasaran dengan gadis yang selalu membuat mama tertekan."
"Jika kalian menyebut Dokter Wanda sebagai mama, kenapa kalian tidak saling mengenal? Harusnya kalian kaka beradik bukan?"
Sebuah pertanyaan terlontar, sebetulnya aku ingin tahu tentang tekanan apa yang di maksudkan. Namun, tak kuasa untuk menanyakan hal yang terasa begitu pribadi.
"Aku hanya anak angkat, dan itu juga tidak secara resmi. Mama membiayai seluruh pendidikan anak yatim piatu yang ditemuinya di pantai asuhan hingga menjadi seperti sekarang ini. Jadi, meskipun aku memanggilnya mama, bukan berarti aku dan Tasya menjadi kaka, adik." Adam menjelaskan, aku yang sedikit paham menganggukan kepala.
"Bukankah Dokter Wanda memiliki anak yang hilang?" Meskipun terdengar lancang, aku memberanikan diri bertanya. Tujuan spesifiknya entah apa, aku hanya merasa ada ketertarikan pada hal itu. Adam mengerutkan kening, sepertinya ia terkejut dengan pertanyaanku.
"Dari mana kamu mendengar cerita itu? Hanya aku mama dan Emil yang tau kisah tersebut!" Rahangnya mengeras, sepertinya Adam marah.
"Maaf, a-aku hanya ...."
"Aku tidak tau persis tentang kejadian tersebut. Saat pertama kali kami bertemu di pantai asuhan, mama terlihat sangat putus asa. Setelah beberapa tahun berlalu, mama menceritakan hal itu hanya padaku dan Emil. Kamu mendengar dari siapa? Aku ragu jika Tasya yang telah menceritakannya, dia lah yang bersikeras menolak mengakui bayi itu sebagai adiknya."
Aku terdiam, tak mungkin menjawab informasi tersebut kudapat dari Detective oppa. Ini juga salah Detective oppa, aku hanya meminta informasi tentang hubungan Dokter Wanda dan Tasya, kenapa dia memberi informasi yang sama sekali tak berhubungan dengan permintaan klien.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mencampuri urusan keluarga kalian," ucapku benar-benar tulus dan menyesal. Dua tangan kukatupkan di depan dada.
"Bagiku tidak masalah, tapi jangan pernah bertanya hal itu di depan mama!"
Setelah mengangguk untuk menyanggupi, rasa keingintahuan kembali membuatku bertanya dengan lancang tentang keberadaan bayi itu.
"Rayya! Kamu baru berjanji untuk tidak bertanya lagi," ucapnya di sela tertawa. Adam tidak marah seperti sebelumnya.
"Itu jika di depan Dokter Wanda."
"Kami tidak tahu di mana bayi itu. Mama juga tidak pernah mencari tahu keberadaan bayinya, ia percaya suaminya akan merawat anaknya dengan baik."
"Jika Dokter Wanda tahu suaminya begitu mulia, kenapa dia harus selingkuh dengan ayahnya Tasya?"
"Sepertinya, kamu tahu banyak tentang masalah ini. Siapa yang telah membocorkan rahasia mamaku padamu? Mungkin aku harus membuat perhitungan dengannya!"
"Tidak ada! Aku hanya menebak saja." Kutunjukkan dua jari tengah dan telunjuk, semoga Adam percaya jika aku hanya menebak.
"Terlalu banyak yang kamu ketahui, aku tidak yakin jika kamu hanya menebak."
"Kurasa, kamu mirip dengan seseorang?" Adam menatapku dengan seksama, ia memicingkan mata, mungkin agar lebih fokus mengenaliku. Aku yang ditatap demikian hanya bisa mengarahkan bola mata ke atas.
Setelah Adam selesai mengutak-atik handponenya, kini ia mensejajarkan benda tersebut dengan wajahku.
"Aku memang baru beberapa kali melihat Tasya, dan itupun dari jauh. Kenapa kalian begitu mirip satu sama lain? Kurasa ini bukan suatu kebetulan?"
Aku terperangah, beberapa orang yang pernah melihat Tasya, pasti akan mengatakan hal yang serupa. Bahwa aku mirip dengan wanita cantik yang membuatku merasa cemburu, jika ingat Zain menikahiku karena kemiripan wajahku dengan sang mantan.
"Sepertinya aku harus pulang!" Aku segera berdiri dari duduk. Aku teringat Zain hanya memberiku waktu satu jam. Kenapa aku sampai lupa waktu.
"Aku akan mengantarmu!"
"Tidak perlu, aku bisa memesan taksi." Aku menolak tapi Adam menjelaskan akan membutuhkan waktu yang lama menunggu taksi. Ia juga mengatakan ingin tahu rumah Tasya, jadi aku tidak bisa lagi menolak bantuannya.
"Apa kamu bayi itu? Kenapa kalian begitu mirip?" Setelah keheningan beberapa saat dalam mobil, Adam kembali bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. Ia begitu fokus menyetir.
"Bukan, Bang. Aku punya ayah dan ibu, mereka hidup harmonis hingga melahirkanku."
"Pernah dengar bahwa kita punya tujuh kembaran di dunia ini meski tak sedarah? Mungkin aku dan Tasya termasuk dalam hal itu, Bang?"
Ketika aku menoleh ke arah Adam, ia terlihat mengangguk. Perjalanannya dipenuhi dengan pembahasan kemiripan Detective oppa dengan aktor Negri ginseng Ji Cang Wook. Tak terasa mobil pun berhenti tepat di pelataran rumah.
"Tak perlu repot-repot, Bang." Aku merasa sungkan saat Adam membukakan pintu. Ia hanya tersenyum menanggapi setelah mempersilahkanku turun.
"Apa aku berlebihan?"
"Hah?"
"Aku lupa jika suamimu posesif. Maafkan abang jika setelah ini kamu menghadapi situasi yang berat."
Melihat Adam yang menggaruk tengkuknya dengan salah tingkah, aku menjadi bingung. Namun tetap kuikuti arah jari telunjuknya. Zain tengah berdiri di depan pintu dengan tangan yang terlipat di dada, tatapannya begitu dingin mengarah padaku dan Adam yang berdiri bersisian.
Ya, salam ... aku harus bagaimana.