Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Jangan Melewati Batas


"Cengeng! Liat kucing melahirkan aja nangis," ucapnya sesaat sebelum menyerahkan benda pipih di tangannya padaku.


Untung saja, Zain tidak membuka aplikasi chat yang buru-buru kupindah pada platform yang menampilkan banyak vidio, Tok Tok. Apa iya, aku membuka vidio kucing melahirkan?


Zain mengambil tempat duduk di sebelahku, mendekatkan tubuhnya padaku yang tengah melihat si induk kucing sedang merawat bayinya yang baru lahir.


"Satu, dua, tiga, empat." Zain menghitung tepat di belakang telingaku, memaksaku menoleh ke arahnya yang tengah serius dengan layar handphone di tanganku.


"Kamu ingin berapa anak?" Pertanyaannya membuatku menaikan satu alis. Ditambah senyum yang kini menghiasi wajahnya. Kenapa aku malah takut menghadapi Zain yang seperti ini?


"Sepertinya Mas Zain, perlu kembali ke Rumah Sakit, deh. Aku khawatir otak Mas Zain, geser saat jatuh. Kita harus melakukan CT scan pada kepalamu."


"Ish ...." Zain mencebik, ia mengangkat tangannya. Ibu jari dan jari tengah membentuk huruf O, aku tau kemana tujuan jari itu akan mendarat.


Segara kututupi jidat lebarku dengan kedua tangan, bahkan salah satunya masih menggenggam handpone. Tak akan kubiarkan Zain, melakukan kekerasan di sana.


Sayangnya, Zain memilih tempat lain yang membuatku melebarkan mata dengan sempurna. Antara terkejut dan bingung. Seluruh tubuhku membeku beberapa detik, saat merespon tindakan Zain yang kembali mencuri ciuman dari bibirku.


"Hukuman buatmu. Karena beberapa hari ini menghindariku."


Dengan seenaknya ia memutuskan hukuman untukku. Oke! Mari bangun benteng yang lebih tinggi dari sebelumnya. Tak perlu menanggapi pake hati, ini hanya bagian dari acting.


"Pekerjaanku sudah selesai, kita ke rumah mama, sekarang," ucapnya cukup mendayu di depanku.


Diraihnya satu tangan yang masih menempel di jidat, mengajakku bangkit dari duduk, hingga ia kembali melepaskan tangan ini karena deringan hp yang membuatnya meraba saku celana.


"Tunggu sebentar. Aku angkat telepon dari Rendi."


Entah apa yang mereka bahas di telepon, aku tidak berminat mendengarkan percakapan keduanya. Yang jelas, mood Zain, begitu baik. Terlihat dari senyumnya yang terus mengembang.



Untuk mengusir kejenuhan menunggu Zain, aku kembali membuka handpone, kubuka galeri foto dimana akhir-akhir ini selalu menjadi tujuanku setelah Zain sengaja meninggalkan satu fotonya di sana. Foto senyum gummy dengan mata mengecil dalam balutan seragam pasien dan satu tangan di gips.


"Baru ditinggal sebentar, dah kangen kan?"


Aku berjingkat, menoleh ke arah sumber suara di belakangku. Zain tengah berjongkok, menopang dagunya pada siku yang ia letakkan di tangan sofa, dengan garis tipis di bibir dan matanya yang berkedip beberapa kali.


"Mana ada, mau aku hapus," kelitku, menyembunyikan handpone di balik saku.


"Terserah," ucapnya terlihat pasrah.


"Jika rindu, ngomong aja, aku akan segera datang ke hadapanmu."


Lagi, Zain mengucapkan hal yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari kebiasaannya, sebelum kecelakaan terjadi.


***


"Mama, udah nunggu kalian lama."


Setelah melepaskan pelukan aku dituntunnya menuju sofa. Sedangkan Zain segera menuju ke lantai atas setelah menyalami mama.


Ini pertama kali aku menginjakan kaki di rumah wanita yang telah melahirkan suamiku. Rumah yang cukup besar untuk ditinggali dua orang saja, bahkan jika Zain mengajakku tinggal di rumah ini.


"Papa, kemana, Ma?" tanyaku yang masih mengedarkan pandangan mencari sosok pria bijaksana yang biasanya tak pernah jauh dari istrinya.


"Lagi ada urusan sama teman-temannya. Tadi ngajakin, tapi mama gak mau. Mama mau menyambut menantu mama yang akan datang pertama kali ke rumah ini," ucapnya sendu, membuatku merasa tak enak hati.


"Maaf, Ma."


"Bagaimana dengan Zain? Apa kalian semakin dekat?" tanyanya lirih, penuh dengan kehati-hatian.


"Hm," jawabku seraya mengangguk, sebenanrnya aku ragu dengan kedekatanku dengan Zain. Lebih tepatnya, sikap Zain yang begitu drastis padaku. Aku tidak bisa menerka apa kami telah benar-benar menjadi dekat atau hanya sebuah drama.


Ditambah lagi, kini aku tengah membangun benteng untuk melindungi hatiku. Mungkin jika wanita di hadapanku tahu aku memutuskan hal demikian, ia akan begitu kecewa padaku.


"Alhamdulillah," ucapan sukur keluar dari mulutnya, wajahnya dipenuhi rona kebahagiaan, membuatku merasa semakin bersalah.


"Semoga kalian bisa selalu bersama hingga ke Surga."


"Aamiin."


Aku dan mama kompak menengok ke arah seseorang yang mengamini do'a mama. Zain tengah menuruni tangga, kemudian duduk di sebelahku dan mengacak puncak hijabku. Ok, akting.


"Kalian, menginap di rumah mama 'kan?" Mata mama terlihat memohon. Aku tidak bisa membuat keputusan, jadi aku mengalihkan pandangan pada Zain yang rupanya tengah menatapku.


"Rumah kami kosong, Ma!" tolakknya, aku masih tetap bungkam. Takut salah saat menjawab, entah hukuman apa lagi yang akan aku terima jika tidak sepaham dengan Zain, yang semakin menampakkan gejala tak normal.


"Aku dan Rayya, bisa sering-sering main kesini. Tak perlu nginep."


"Mama gak percaya sama kamu, Zain. Kalo Rayya tidak memberi tahu tentang kecelakaan yang menimpamu, kamu pasti tetap diam kan? Gak ngasih tahu mama. Kamu mau pulang, pulang saja sendiri, biar Rayya tinggal di sini sama mama." Mama merajuk, tangannya ia lipat di depan dada.


"Rayya kan istrinya Zain, Mah. Kalo Rayya di sini, trus siapa yang mau ngerawat aku di rumah." Mataku kini beralih menatap Zain, baru kali ini aku diperebutkan.


"Rayya! Malam ini kamu nginep di rumah mama 'kan?"


Aku kembali menatap mama. Aku yang duduk di antara keduanya bingung sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Setelah itu kembali mengarah pada Zain, mencari jawaban pada wajahnya.


"Rayya ... sepertinya tidak bisa, Mah," jawabku setelah mendapat isyarat gelengan dari Zain. Jelas mama menatapku dengan kekecewaan.


Namun, pada akhirnya Zain kalah dalam memenangkan perdebatan. Aku hanya mengikuti alur saja, tidak berani mengambil keputusan sendiri. Yang membuatku berakhir dengan satu ranjang bersama Zain.


"Ini buat apa?" tanya Zain yang baru masuk ke dalam kamar.


Aku yang tengah menata bantal membagi sisi kanan dan kiri ranjang menengadahkan dagu, menatap Zain yang berdiri di sisi ranjang sebelah kanan.


"Pembatas, biar Mas Zain tidak melewati garis yang sudah kubagi dengan adil."


Zain meletakan buku yang dibawanya dari luar ke atas nakas. Lalu membaringkan tubuhnya di sisi kanan. Lengan berototnya ia tempelkan pada kening.


"Jika aku melewati pembatas?" Zain bertanya setelah aku menarik selimut hendak menutup seluruh tubuhku. Aku berpikir sejenak, mencari konsekuensi yang pantas diterima Zain jika ia melewati batas.


Alhasil, tidak mendapat ide. Aku hanya membuat pembatas saja, awalnya. Tanpa berpikir Zain akan melewatinya, apalagi terakhir kali kami satu ruangan saat di rumah sakit, Zain terlihat begitu membenciku.


"Jangan mencoba melewati batas!" Aku memperingatkan.


"Kamu yang mengajariku, untuk melewati batas."


Untuk kedua kali aku mengurungkan niat menyembunyikan seluruh tubuhku di bawah selimut. Menoleh ke arah Zain yang lebih dulu memiringkan tubuhnya menghadapku.


"Ini cuma bantal. Yang bisa aku tendang dengan mudah!"


Bantal-bantal itu kini berhamburan di atas lantai, seiring Zain yang semakin dekat ke arahku.


Mau ngapain?