
"Kalian bisa pulang besok pagi." Usulan om Rahman di tanggapi oleh Zain dengan mengangguk.
"Iya. Di luar juga hujan." Tante Aira ikut menimpali. Bahkan alam pun seperti menginginkan kami menginap malam ini.
Jelas aku begitu resah. Jika Zain menginap di rumah ini artinya aku harus berbagi ranjang kecil itu dengan Zain.
Mungkin tadi sore aku bisa membujuk Zain tidur di ranjang, tapi untuk malam ini sepertinya aku ....
"Kak?"
"Iya?" Aku reflek menjawab, saat Saffa memanggilku. Saffa tersenyum menatapku lalu menatap Zain bergantian.
"Kak Zain gak akan pergi kemana-mana kok, Kak! Gak perlu dilihatin seperti itu." Saffa dan Zain saling pandang kemudian saling senyum dan diakhiri dengan high five. Ada apa dengan mereka?
Aku tak mengerti apa yang diucapakan Saffa, benarkah aku menatap Zain dari tadi? Sepertinya tidak, jika benar sudah pasti Zain akan mengolok diriku.
"Gea juga," celoteh Gea, lalu menaiki meja dan mengangkat tangannya kearah Zain, adegan pun berakhir dengan saling menempelkan telapak tangan antara Zain dan Gea. Udah kaya kakak sama adek kandung aja.
"Gea, turun nak. Gak boleh gitu, kakak Zain jadi gak bisa makan." Tante Aira bermonolog sambil menurunkan balitanya dari meja.
"Nggak papa tante, sini Gea duduk sama kak Zain." Zain mengambil alih Gea dari pelukan ibunya. Lalu membiarkan gadis berumur lima tahun itu duduk di pangkuannya.
Aku dan om Rahman hanya jadi penonton adegan drama keluarga di balik meja makan. Begitulah Tante Aira setiap hari, dia harus terus mengawasi anak bungsunya yang sangat aktif.
"Tante bisa makan dulu, biar Zain yang menjaga Gea." Zain berhasil meyakinkan tante Aira. Tante Aira pun kembali duduk dan menyantap makanannya.
Pria di depanku memang sangat pandai mengambil hati orang. Hatiku juga, eh.
"Kak Rayya cinta banget sama kak Za_"
"Uhuk."
"Kakak!" Saffa berteriak keras saat wajahnya dipenuhi dengan air. Dengan sigap kuseka wajah Saffa dengan lap yang asal kutarik dari atas meja.
"Itukan lap yang tadi buat ngangkat panci!"
Aku mengedip-ngedipkan mata lalu menoleh ke arah tante Aira yang sedang memberi klarifikasi.
"Kakak!"
"Mianhe."
Setelah makan malam yang penuh drama usai, aku kembali ke kamarku. Sedangkan Zain tengah asik mengobrol dengan om Rahman. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi suara tawanya terdengar dari ruang tengah.
Aku mensecrol layar benda pipih kesayangan, mencari berita terkini mengenai bias yang selama ini kuidolakan.
Sebetulnya tante Aira sudah pernah melarang, namun aku masih saja mencuri waktu saat sedang sendirian.
"Kak!" Suara Saffa mengagetkanku.
Aku tidak menyadari kedatangan Saffa yang secara tiba-tiba telah berdiri di ambang pintu. Kupikir ia masih marah karena air yang kumuncratkan ke wajahnya, tapi kini ia menemuiku dengan penuh senyuman.
"Kemana foto bias Kaka?" tanyanya saat melangkah mendekati meja yang kini kosong tanpa foto bias idola.
"Kaka simpan," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar handphone.
"Karena sudah ada kak Zain, ya?"
Pertanyaan Saffa membuatku menghentikan aktifitas. Kutatap wajah bocah yang kini duduk di hadapanku, "Gak ada hubungannya, dengan kak Zain." Kemudian melanjutkan aktifitas yang sebelumnya terhenti, kembali stalking akun bias.
"Kaka! Gimana rasanya punya suami yang mirip bias idola?"
Aku menghela napas mendengar pertanyaan Saffa, "Rasanya?" Aku kembali menatap Saffa. "Kok rasanya? kaya makanan aja!"
"Maksud Saffa, perasaan kaka gimana, punya suami yang mirip Yoongi oppa?" Saffa menaik turunkan alisnya dan aku hanya mendecih lalu menggelengkan kepala.
Awalnya kukira Zain adalah sebuah hadiah dari Allah atas setiap do'a yang kupanjatkan. Akan tetapi, setelah melihat perangai Zain yang sesungguhnya aku menjadi ragu. Bukan ragu atas skenario Allah dalam hidupku, tapi ragu pada diriku sendiri, apakah aku bisa mempertahankan rumah tanggaku bersama Zain.
"Bukankah sekarang sudah larut? Kenapa belum tidur?" Zain mengacak rambut Saffa dengan lembut.
"Baru mau balik ke kamar." Saffa mengerucutkan bibirnya. Aku hanya melirik sekilas melihat Saffa mengacungkan ibu jarinya lalu keluar kamar dengan berlari.
Setelah Saffa keluar dari kamar, suasana di antara kami menjadi begitu hening. Tanpa sepatah katapun Zain mengambil bantal dan meletakannya di lantai. Perasaan iba kembali hadir menyapa, saat melihat sang pria meringkuk kedinginan di lantai.
"Tidurlah di ranjang, biar aku yang tidur di bawah." Perintahku pada Zain Setelah aku duduk di dekatnya seraya menggoncang lengan Zain dengan jari telunjuk.
"Kamu aja, itukan ranjang mu." Zain menolak tanpa perlawanan. Matanya terpejam padahal sore tadi juga sudah tidur.
"Aku tidak ingin kamu sakit."
Zain membuka mata dan menatapku dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Karena harus menyetir besok." Aku melanjutkan ucapanku yang terpotong karena ekspresi wajah Zain sebelumnya.
"Kamu ajalah yang di atas, kamu juga lagi sakit." Tolaknya. Terlihat ada kecewa di wajahnya, Setelah memberi perhatian.
"Mabuk kendaraan itu bukan sakit, kamu aja yang di atas aku akan tidur di bawah." Aku memberi penjelasan.
"Kamu aja yang di atas."
Aku menggelengkan kepala, "Aku yang di bawah, kamu di atas."
"Aku tidak mau di atas!" ucap Zain mulai kehilangan kendali atas kesabarannya.
"Kamu di atas!" Aku juga tak ingin mengalah demi kesehatannya.
TOK... TOK... TOK...
Suara pintu diketuk memenuhi indra pendengaran, aku dan Zain menghentikan perdebatan dan saling memandang.
"Cepat kalian putuskan, siapa yang di bawah, siapa yang di atas. Cuma kalian pengantin baru yang meributkan posisi."
"Itu suara om Rahman kan?" tanyaku yang dijawab Zain dengan anggukan.
"Ngapain ada di depan kamar?" Aku keheranan. Om Rahman bukanlah tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Meski kadang jahil.
"Gea jadi terbangun gara-gara kalian," ucap orang yang kini sedang menjadi topik ghibah.
Setelah pagi menjelang aku dan Zain berpamitan pada keluarga tante Aira dan om Rahman. Sudah tidak ada lagi air mata untuk melepas kepergian kami, sepertinya mereka sudah begitu percaya pada pria yang kini duduk di sebelahku sambil memegang setir.
"Apa lihat-lihat?"
Pria yang kukira sedang fokus menatap jalanan, ternyata tau kalo aku sedang menatapnya intens. Sikap pria ini memang tidak bisa ditebak, kadang dingin kadang hangat, kaya dispenser saja.
"Ingat perjanjian!" Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.
Aku enggan menjawabnya, meladeni setiap ucapan Zain sama artinya aku sedang uji nyali. Setiap saat ingin melambaikan tangan dan berteriak aku menyerah.
Kualihkan pandangan keluar lewat kaca samping mobil, lama-lama menatap wajah Zain membuatku semakin resah. Sebagai wanita normal tak bisa kupungkiri wajah Zain begitu menawan, apalagi mirip dengan bias idaman. Bagaimana kalo aku benar-benar jatuh cinta?
"Jangan!"
Suara Zain menyadarkanku dari lamunan. Sudah tertulis dengan sangat jelas dalam perjanjian, jika aku melanggar .... Apakah masih ada kesempatan?
"Tidak."
"Kenapa? Kenapa kamu melarangku menyukaimu?" Aku setengah menjerit. Sedetik kemudian menoleh ke arah Zain.
Kudapati Zain menatapku penuh keheranan, tangannya memegang handpone yang di dekatkan ke telinganya. Bukankah sudah jelas? Zain tidak menjawab kata hatiku melainkan menjawab seseorang di balik telepon.
Mati aku ....