
"Bercandanya perlu putar balik, Bang!"
"Kenapa?"
"KE-LE-WA-TAN!" Sengaja kutekankan setiap katanya. Mana ada orang bercanda seperti ini, sampai sedetail ini. Jika orang bod*h yang melihatnya pasti akan percaya.
Aku adalah putri ayahku. Ibuku tidak ada karena bertaruh nyawa mengantarkanku ke dunia. Aku tumbuh dengan kasih sayang dari tante Aira, adik kandung ayahku. Tidak ada hal yang membuatku ragu jika mereka satu-satunya keluargaku.
Ingin sekali aku percaya bahwa ini hanyalah prank yang sering orang lakukan.
"Pulang, yuk, Bang. Sudah sore. Mungkin tante Aira akan mengkhawatirkanku, jika aku terlambat pulang!"
"Kamu ... baik-baik saja?" Bang Adam menatapku dengan begitu sendu. Ada kekhawatiran yang menyelimuti manik matanya.
"Aku baik-baik saja, bang. Aku tidak semudah itu untuk dibohongi."
Kembali kujejakkan kaki di tanah yang menyimpan banyak kenangan bersama ayah. Menyusuri pematang sawah seperti yang pernah kulakukan bersamanya. Pria yang akan bekerja keras untuk mewujudkan apa pun yang kuinginkan.
Langkah ini tidak benar-benar tertuju pada kediaman tante Aira. Melainkan pada pusara, ayah. Aku rindu bahu kokohnya. Bergelayut manja mengadukan kejahilan teman-temanku.
"Ayah lihat? Ada orang yang mencoba menjahiliku lagi. Lihat kertas ini, ayah! Mereka mencoba membohongiku."
Pandangan mataku mulai mengabur saat melihat tak ada pembelaan untukku dari pusara ayah. Bahkan bulir bening itu mulai lancang mengalir dari sudut mata saat tanganku yang memperlihatkan selembar kertas sial tak mendapat sambutan dari ayah.
"Apa mereka kira hanya dengan kertas ini aku bisa berpaling darimu? Katakan ayah, aku adalah putrimu! Kamu satu-satunya ayahku. Katakan ayah, katakan pada mereka!"
Isakan tangis ini bahkan sampai tergugu, lebih dari mampu untuk menggetarkan bahuku.
"Rayya! Kita pulang. Sebentar lagi hari gelap!"
Tepukan bang Adam pada bahuku, sama sekali tak bisa membendung air mata yang meringsak karena rasa kecewaku.
Mengapa aku terlahir sebagi orang bodoh yang percaya pada selembar kertas yang bisa dimanipulasi. Dari pada meyakini kebersamaanku selama ini dengan ayah dan tante Aira yang tak pernah mengecewakanku sama sekali.
*****
"Nak Adam. Menginaplah di sini. Hari sudah terlalu malam untuk kembali ke Jakarta."
"Iya Tante, terimaksih tawarannya. Tapi aku sudah meminta asistenku menjemput malam ini juga."
"Oh. Apa tawaran untuk makan malam sebelum Nak Adam kembali, juga akan ditolak?"
"Tidak Tante. Aku bisa makan malam di sini!"
Masih bisa kudengar percakapan tante Aira dan bang Adam dari ruang makan.
Sedangkan aku, aku masih belum beranjak dari kamarku setelah sholat magrib hingga bada isya. Sengaja berlama-lama dalam balutan mukena mengadu pada sang pencipta, meminta bimbingan dalam menghadapi kenyataan.
"Kak Rayya!" Suara Saffa datang bersamaan dengan pintu yang diketuk. "Mama nyuruh Kaka cepat keluar. Kita makan malam bareng bang Adam."
"Iya," jawabku pelan. Setelahnya tidak ada lagi suara Saffa. Mungkin dia mendengarnya dan langsung kembali ke ruang makan.
Aku belum memberitahu apa pun pada tante Aira. Sepertinya bang Adam pun masih bungkam.
Lebih tepatnya, masih belum tahu cara mengatakannya pada tante Aira. Hati ini masih belum rela mengakui orang yang telah membesarkanku selama ini, ternyata tidak memiliki ikatan darah sama sekali.
Dering ponsel memanggil, persis ketika tanganku memegang kenop pintu. Kuurungkan langkah yang sebelumnya akan tertuju ke ruang makan. Lebih memilih menggapai benda di atas meja.
Zauji video calling ....
Segera kutekan tombol yang menghubungkanku dengan suami yang masih sah secara hukum, namun tidak dalam agama. Karena akad harus diulang setelah tahu aku adalah gadis tanpa nasab.
"Assalamualaikum, Dek!" Sapa pria yang telah rapih dengan kemaja putihnya.
Dari tempatnya melakukan panggilan denganku, sepertinya mas Zain baru selesai sarapan. Masih ada piring dan cangkir yang ia gunakan dalam meja yang ia duduki.
"Waallaikumussalam, Mas. Apa tidurmu nyenyak?" Iseng kutanyakan karena melihat wajahnya yang begitu ceria.
Mas Zain menggelengkan kepalanya.
Terpatri senyum di wajah ini setalah hilang beberapa saat lalu, karena tutur dan caranya membuatku tersipu.
"Apa kamu sedang bersiap untuk tidur?" tanya mas Zain.
"Aku baru mau makan!" jawabku tanpa mengalihkan perhatianku pada layar handphone.
Masih betah menatap jidatnya yang terekspos tanpa ada rambut di sana karena ditata dengan belah tengah.
"Ya udah, makan dulu, gih! Nanti kita sam--"
"Jangan, Mas!" Potongku sebelum mas Zain selesai bicara.
"Aku bilang tante Aira. Biar mereka makan lebih dulu tanpa aku."
"Nanti kamu lapar, Dek!"
"Aku punya camilan di kamar!" ujarku sambil melangkahkan kaki menuju tante Aira dan yang lainnya di meja makan.
Tepat setelah meminta izin, kutunjukan serta alasanku tidak bergabung di meja makan. Tante Aira dan yang lainnya juga sempat bicara dengan mas Zain melalui vidio call. Sebelum akhirnya aku kembali ke kamar.
"Kenapa ada Adam, di rumah tante Aira, Dek?" sungutnya menampakkan wajah yang kesal.
"Karena ini, Mas!" Kutunjukkan secarik kertas yang masih kucoba untuk mamahami dari tadi.
"Apa itu, Dek?" Mas Zain terlihat begitu penasaran.
Mengingat tentangku yang ternyata bukan anak kandung ayahku, bulir bening kembali mencoba meringsak keluar. Hingga akhirnya aku mendongak untuk menahan lajunya. Tak ingin membuat konsentrasi mas Zain terganggu karena melihatku manangis.
"Nanti aku foto dan kirim lewat pesan ya, Mas. Sekarang jangan bahas itu dulu, bahas yang lain aja!" ucapku mengalihkan fokusnya pada kertas itu.
"Bahas apa, dong?" tanyanya sengaja menggoda.
"Aku kangen Mas Zain." Kini benar-benar air mataku tak terbendung. Setidaknya yang mas Zain tahu tangisanku karena merindukannya.
Memang karena aku merindukannya.
Waktu bicara dengan mas Zain cukup terbatas karena ia harus presentasi dengan investor. Disisi lain, juga dikarenakan aku ingin membicarakan beberapa hal sebelum bang Adam pulang.
"Kapan kamu akan menemui, mama?" Bang Adam bertanya saat kami tengah berdua saja. Tante Aira dan suaminya lebih dulu masuk setelah bang Adam berpamitan.
"Aku nunggu suamiku pulang dulu, mungkin dua pekan lagi."
"Apa kak Tasya juga tahu, tentang ini?" Kutanyakan sesuatu yang cukup mengganggu. Teringat ucapan bang Adam sebelumnya yang mengatakan jika kak Tasya yang paling tidak suka dengan bayi Dokter Wanda saat itu. Yang artinya bayi itu adalah aku.
"Kami belum memberi tahu. Apalagi dengan situasi yang sedang Tasya alami saat ini!"
Aku menghela napas sesaat. Sepertinya tengah melepaskan beban, namun juga ada yang terasa sesak di dada.
Entah bagaimana sambutan kak Tasya nanti jika tahu aku adalah adiknya. Aku ragu, kedekatan kami sebelumnya akan tetap seperti itu.
"Kamu sudah memberi tahu tante Aira jika kamu putri mama yang hilang?"
Aku menggeleng. Rasanya tak sanggup mengatakan hal itu pada tante kesayanganku.
"Tantemu juga berhak tahu, jika kamu adalah putri kandung mama Wanda."
"Apa yang sedang kalian perbincangkan?!"
Tante Aira?
"Maksudmu apa, Adam! Mengapa memprovokasi Rayya dengan ucapan seperti itu?"
Kenalan sama bang Adam deh.