
"kamu ngapain?" Suara Zain mengejutkanku yang masih terpaku dengan tangan menggantung
"Nabok nyamuk." Kutepuk-tepuk udara di sekitar.
Setelah melipat dengan rapi sajadah yang telah Zain gunakan sendiri dan menaruhnya di atas nakas. Perlahan Zain mendekati koper dan membukanya. Mengeluarkan selembar kertas dari dalam koper. Kurasa Zain telah menyiapkan kertas tersebut jauh sebelum hari ini.
"Baca. Kemudian tanda tangani kontrak perjanjian ini." Zain menyerahkan selembar kertas yang telah diberikan materai.
Dahiku berkerut, setelah membaca isi dari kertas yang Zain berikan padaku. Hanya karena beberapa poin yang tertulis di dalam kertas tersebut, hampir saja membuatku mendekam di balik jeruji besi selama sembilan tahun.
Pria ini memang suka membesar-besarkan masalah. Akting, no skinship, don't fall in love, adalah inti dalam surat pejanjian ini. Mungkin Zain kurang kerjaan sehingga cari perkara dengan melibatkan pers dan hukum.
"Kamu menjebakku dalam pernikahan, dan kertas ini akan menjadi bukti kuat untuk melaporkanmu!" Aku menegaskan pada Zain. Dia salah memilih lawan untuk ditindas.
Mungkin Zain tidak pernah menduga aku juga bisa membalikkan keadaan sesuai yang aku inginkan. Pengalaman yang kudapat dari menonton banyak drama akhirnya bermanfaat juga. Kini dapat kunikmati raut wajah Zain yang terlihat sangat terkejut dengan ucapanku.
"Sudah kukatakan, kamu tidak akan bisa melawan pengacaraku." Setelah beberapa saat terdiam akhirnya Zain bersuara. Raut wajahnya kembali tenang.
"Aku tau, tapi aku tidak akan menandatangani ini, jika aku tidak mendapatkan keuntungan di dalamnya," ucapku dengan ekspresi wajah setenang mungkin.
Kali ini aku tidak ingin mengalah, kesempatan inilah yang sedang aku nantikan. Pada akhirnya aku bisa merayakan kemenangan, setelah berjam-jam di bawah kendali Zain Habibi.
"Berikan aku uang, maka perjanjian ini akan terjadi," imbuhku selanjutnya.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan niat awal aku menikahi lelaki di depanku. Kini yang ada dalam otakku hanya bagaimana caranya bisa memiliki uang. Jika dikemudian hari Zain melakukan hal ini lagi, aku bisa menyewa pengacara untuk melawannya.
Zain mendecih mendengar permintaanku." Akhirnya kamu menunjukan jati dirimu yang sebenarnya. Oke. Sebutkan nominal yang kamu inginkan."
"Revisi perjanjian ini, aku juga menginginkan hal lain. Masing-masing di antara kita harus menyimpan salinannya. Aku ragu jika kamu akan melanggar perjanjian ini." Kembali aku menantang.
"Tidak mungkin," ucapnya singkat padat tidak tepat.
"Seperti yang kamu lihat, aku sangat cantik. Aku juga harus memastikan kamu tidak jatuh cinta padaku." Aku membanggakan keindahan yang Allah titipkan pada diri ini.
"Over pede." Zain kembali mendecih lalu membuang muka. Aku tidak peduli meskipun Zain memuntahkan semua isi perutnya.
"Bodo amat!"
Perjanjian ditandatangani sesuai kesepakatan bersama. Kedepannya kami adalah orang asing yang tinggal satu atap. Dengan sedikit peran sebagai suami istri yang baik di depan mata umum. No skinship. Don't fall in love. Oke, tidak takut.
Aku baru bisa memejamkan mata setelah sholat subuh. Sebelum itu kulihat Zain keluar dari kamar pada pagi-pagi buta. Setelah aku terbangun, tidak kutemui Zain di dalam kamar.
Baru sehari yang kulalui bersama Zain, tapi ada sesuatu yang terasa hilang saat mataku tidak menemukan sosoknya. Disaat inilah aku menyadari suatu hal yang begitu besar. Hidupku terasa aman, nyaman, tenteram, damai dan sentosa tanpa adanya Zain. Yess!
Setelah selesai membersihkan diri, aku keluar dari kamar untuk mencari makan. Aku bisa saja menggunakan jasa room servis dari hotel, namun urung kulakukan. Aku juga ingin menghirup udara segar, setelah kepenatan yang bertubi-tubi datang karena seseorang bernama Zain.
Setelah sampe di restoran yang terletak di rooftop hotel, aku dikejutkan oleh sosok yang beberapa jam terakhir ngontrak di pelupuk mata. Zain sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita, tidak jauh dari tempatku kini berdiri.
Zain terlihat begitu akrab dengan sang wanita. Senyuman selalu menghiasi bibirnya saat saling bertatap dengan wanita yang hanya bisa kulihat punggungnya. Dasar mafia, sudah punya istri masih menggoda wanita lain.
Astaga ... sorot mata Zain begitu mematikan, hampir saja jantung ini menggelinding ke lantai. Bagaimana dia tau kalo aku sedang memperhatikannya. Semoga Zain tidak menyadarinya, tiba-tiba amnesia gitu. Ah, tidak aamiin, kasihan juga.
Kuraih segelas juz di atas meja, kutenggak hingga tandas untuk menghilangkan rasa gugup. Zain yang selingkuh kenapa aku yang bersembunyi, ini tidak benar.
Saat seseorang menarik ujung bajuku, aku segera menoleh ke arahnya. Seorang gadis kecil mengerucutkan bibir sambil menatapku dengan marah. Aku balik menatapnya dengan perasaan heran.
"Kamu meminum juznya." Suara bariton pria terdengar dari arah depan sang gadis kecil.
Tanpa berlama-lama aku menurunkan katalog. Seperti sedang mendapat sebuah kejutan besar, ternyata aku duduk di balik meja yang sudah ada penghuninya. Seorang gadis kecil berusia sekitar tujuh tahun dan seorang pria tampan yang kemungkin adalah ayahnya.
"Maaf. Nanti aku ganti," ucapku sambil menunduk malu, karena kedua pasang mata yang duduk di meja tersebut menatap ke arahku.
"Tidak perlu, aku akan memesan lagi untuk keponakanku." Pria bersuara bariton itu kembali berucap, sambil tersenyum ramah. kupikir dia ayahnya.
"Mau makan juga?" Kembali sang pria bertanya.
"Tidak, terimaksih." Aku langsung berdiri dan pamit undur diri.
Aku mempercepat langkahku kembali ke kamar, membuka pintu lalu mendekati ranjang dan berakhir dengan menelungkupkan diri di atasnya. Untung tidak dapat diraih dan lapar tidak bisa dihindari. Aku tidak jadi makan.
"Lagi jadi mata-mata?" Suara Zain memenuhi indra pendengaran setelah beberapa saat kudengar pintu dibuka.
Aku berlindung pada selimut yang menutupi tubuhku dari ujung kaki hingga kepala, enggan menampakan diri pada Zain, ia pasti mengetahui kejadian di restoran.
"Bangunlah, aku membawakan sandwich untukmu."
"Aku tidak lapar." Aku menjawab dari bawah naungan selimut.
"Aku akan keluar."
Terdengar suara pintu terbuka lalu tertutup kembali. Aku menurunkan selimut dari kepalaku, memindai seluruh ruangan kamar yang kini hanya tinggal aku seorang.
Aku bergegas menuruni ranjang, menghampiri sebuah kotak dalam plastik yang Zain letakan di atas meja dan menyantap makanan di dalamnya. Makanan pertama yang masuk keperutku hari ini.
Jika diingat kembali Zain memperhatikan pola makanku dari kemarin. Kulkas dua pintu itu memang tak seburuk yang kukira. Aku juga akan sedikit lembut padanya untuk membalas sandwich ini.
"Gak lapar, kok dimakan?"
"Uhuk."
Mataku membulat sempurna mendengar suara Zain. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menoleh kearah Zain berdiri. Bukannya tadi keluar? Terus suara pintu tadi? Aish ... kurang kerjaan memang ini orang. Bisa-bisanya istri di prank.
"Tolong mata dikondisikan," ucap Zain saat melangkah mendekatiku.
"Aku bisa sawan ditatap kaya gitu."
Diih.