
Tak terasa sepekan berlalu. Meski rindu tapi hidupku tidak terlalu ambigu. Aku menjalani hidupku lebih tenang, menurutku. Melepas semua keraguan seperti yang kumau.
Komunikasi-ku dengan mas Zain, bisa dibilang lancar bisa juga tidak. Aku lebih sering meninggalkan alat komunikasi tersebut di laci meja ketimbang sering memegangnya.
Alasannya, aku menghindari obrolan dengan suamiku. Persis seperti yang kuinginkan. Kadang aku beralasan susah jaringan kadang juga sudah ngantuk. Apa sajalah, yang penting bisa menghindari mas Zain.
"Rayya!"
"Iya, Tante!"
"Sini, Nak!"
Kutinggalkan kegiatanku yang tengah mencuci piring dan mengekori langkah tante Aira. Ternyata ia membawaku ke dalam kamarku sendiri.
"Duduk, sini!" Ditepuknya ranjang tepat di sebelahnya. Aku hanya menuruti tanpa memprotes apa pun.
"Kapan kamu akan pulang ke rumah suamimu?"
"Tante ngusir aku?" Kujawab pertanyaan dengan pertanyaan lainnya.
"Rayya!" Meski lembut, tapi cukup tegas. Begitulah tante Aira selama ini.
"Kamu ada masalah dengan Zain?"
Bukannya menjawab, aku malah menunduk sambil memainkan ujung hijabku.
"Rumah tangga itu wajar, Nak, jika ada masalah. Tapi bukan ditinggal lari seperti ini. Kalian harus siap menghadapi. Membicarakannya dari hati ke hati."
Tante Aira meletakkan tangannya di punggung tanganku kemudian menggengamnya erat.
Selama ini aku bersikap biasa saja agar tante Aira tidak menaruh curiga. Aku malas membuka luka yang ingin kukubur dalam-dalam.
Ada apa dengan tante Aira hari ini.
"Masalah itu harus dicabut dari akarnya, bukan hanya ditebas dari dahan. Biar gak tumbuh lagi. Kemana ponselmu?"
"Ada di laci!"
"Buat apa punya ponsel jika tidak digunakan untuk komunikasi. Kamu tahu apa yang terjadi dengan suamimu!"
Tidak biasanya tante Aira meninggikan suara, jika tidak benar-benar terkejut atau marah.
Dia menyebutkan suamiku, apa ada hal mendesak yang terjadi padanya?
"Kenapa, mas Zain, Tan?" Aku bertanya dengan nada datar.
"Seharusnya kamu yang paling tahu keadaan suamimu!"
Apa keadaannya gawat?
Akhirnya kuambil benda yang tengah jadi perbincangan itu dari laci. Menekan tombol power, membuat layar benda tersebut menjadi terang.
"Zain, tidak akan menjawab teleponmu!"
Aish ... dari tadi marah-marah mulu, yang keponakannya aku apa mas Zain sebenanrnya.
Padahal juga tidak mau menelepon siapa pun, cuma mencet tombol power aja.
"Kenapa, Tan?" tanyaku tak kalah datar dari sebelumnya.
"Mungkin sekarang, Zain, ada di pesawat. Dia menitipkanmu pada tante untuk dua pekan ke depan!"
"Memang mas Zain mau ke mana?"
Tante Aira terdengar menghela napas dengan berat. Tangannya mengelus dada berkali-kali sambil ber-istighfar.
"Rayya, coba ingat-ingat kembali tujuanmu menikah. Apa sudah benar jalan yang kamu tempuh untuk menjadi istri yang sholehah bagi suamimu? Zain sudah baik dengan mengijinkanmu berada di sini selama sepekan. Kenapa kamu memutus akses komunikasi dengannya. Apa kamu tidak takut dilaknat para malaikat karena kamu tidak memberikan haknya sebagai suamimu? Mengetahui keadaanmu juga termasuk haknya, Zain--Rayya!"
Aku kembali menunduk merenungi ucapan tante Aira. Dulu aku yang begitu antusias menerima perjodohan dengan mas Zain, berjanji pada diri sendiri untuk menjadi kuat dalam menghadapi masalah apa pun yang akan datang.
Karena kami memang tidak saling mengenal dan membutuhkan pendekatan lebih intens dari pasangan lainnya.
Mengingat tentang laknat ... ah, aku juga menjanjikan hak suamiku yang lain. Apa ini semacam teguran dari Allah karena aku mengabaikan hak-hak suamiku. Sehingga hatiku mengeras dan tak merasakan getaran pada suamiku sendiri.
Apa aku termasuk sedang membantu pekerjaan syaitan yang ingin memisahkan istri dari suaminya?
"Mas Zain, cerita apa aja sama, Tante?"
"Handphone Rayya tidak bisa dihubungi karena gak ada jaringan!"
Aku melongo mendengarkan tante Aira yang menirukan cara bicaranya mas Zain.
"Terus, Rayya menumpuk dosa karena selain berbohong pada suami, Rayya juga mengabaikan suami?"
Mak jleb, pisan. Apa aku terlalu egois karena memikirkan perasaanku sendiri.
Apa tante Aira juga tahu alasanku menghindari mas Zain?
"Renungkan dalam-dalam. Biar tante yang melanjutkan mencuci piring."
Ketika tante Aira beranjak, aku juga mengikuti.
Aku penasaran ke mana suamiku pergi dengan pesawat hingga menitipkanku dua pekan lamanya pada tante Aira.
"Makanya, handpone tuh bukan cuma buat stalking orang koreyah aja. Bales kalo suami kirim chat, angkat telponnya juga, gak pura-pura gak ada sinyal!"
Dahiku mengerut mendengar gerutuan tante Aira. Yang diucapkannya tidak semuanya benar. Beberapa salah. Aku tidak stalking orang koreyah yang dimaksud tante Aira, karena mengingatkanku pada wajah mas Zain.
Aku juga balas pesan. Meski pesan mas Zain terkirim jam berapa dan aku membalas beberapa jam kemudian.
Telepon kadang juga kuangkat. Aku gak seburuk itu memperlakukan mas Zain. Ya, walaupun selama satu pekan ini aku baru mengangkat teleponnya dua kali.
"Tan, tinggal jawab aja. Mas Zain ke mana, mau ngapain, sama siapa?"
"Tanya sendiri!" ucapnya sambil membanting lap setelah digunakan mengeringkan piring.
"Cuma centang satu, Tan!" Kuikuti ke mana pun langkahnya pergi sambil merengek.
"Om?"
Aku juga memasang tampang memelas pada om Rahman yang kebetulan berpapasan di ruang tengah. Tentu saja jawabnya mengendikkan bahu, dia mana tahu aku meributkan apa.
Akhirnya aku menyerah setelah lelah namun tak mendapatkan apa yang kuinginkan.
Kembali ke kamar, menelungkupkan diri menatap chat yang masih centang satu hingga ketiduran.
*****
Galau tingkat kabupaten.
Dua puluh jam terlewati setelah perbincangan dengan tante Aira kemarin, pesanku masih saja centang satu.
Ke mana sebenarnya mas Zain. Kenapa tidak dibicarakan sebelum-sebelumnya, saat aku masih mau membalas pesannya.
Apa mas Zain marah? Kenapa hingga saat ini tidak memberi kabar. Apa aku harus kirim telepati?
"Makanannya salah apa, Rayya. Kok ditusuk-tusuk doang?"
Aku melirik sekilas tanpa mengurangi aksiku menekan geram ayam goreng dengan garpu.
"Gak usah diganggu, Mas. Lagi galau dia."
Keduanya kompak tertawa di atas penderitaan keponakannya sendiri.
Puas banget mereka, kayaknya.
" Zain belum mengaktifkan Handpone-nya. Emang belum sampai?"
"Harusnya sih, udah. Dari satu jam yang lalu."
Mendengar ucapan terakhir tante Aira, aku semangat menyimak. Hanya menyimak saja, gengsi buat nanya. Paling jawabnya masih sama seperti kemarin. Tanya sendiri aja. Dah tahu cuma centang satu.
"Mungkin malas mengaktifkan handpone. Sepekan diabaikan, Zain lelah menunggu kepastian. Mungkin juga sedang memberi pelajaran sama istrinya yang tak perhatian!"
"Mas Zain, bukan pendendam. Ia tak mungkin sengaja melakukan itu untuk membalasku!" Kubela suamiku, karena selama aku tinggal satu atap sebagai istrinya, begitulah kepribadian yang ditunjukan mas Zain.
Sepertinya tidak ada yang lucu dari ucapanku, tapi sepasang suami-istri ini kembali menertawakanku.
"Rayya, Rayya. Kamu tahu gak, cinta sama bodoh itu beda tipis?"
Cih, apaan
Aku memutar bola mata malas.
"Memang Zain gak punya keluarga, gak punya teman, jadi kamu cuman mengandalkan informasi dari tante?"
Kenapa aku tak berpikir sampai kesitu.
Aku langsung berdiri, balik kanan menuju kamar, sambil merutuki otak yang tak terpakai ini. Beg*, beg*, beg*.