Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Memimpikan Ayah


"Ingat kan, Mas Zain janji akan menjawab semua pertanyaanku?"


Setelah kembali ke tempat awalku di ranjang sisi kiri, aku tetap berbaring menghadap Zain, sedangkan ia yang tengah menatap langit-langit kamar sedikit tersentak saat aku menyebutnya, mas Zain.


"Aku akan bertanya satu pertanyaan setiap hari selama tiga bulan. Setelah itu, mungkin aku tidak akan bertanya apapun lagi, atau semakin banyak pertanyaan yang akan kamu jawab, tergantung keputusanmu."


"Maksudmu?" Rasa penasaran sepertinya membuat Zain memalingkan wajahnya padaku.


"Setelah tiga bulan, aku akan pergi dari sini. Dengan atau tanpa persetujuanmu. Tentang mama, aku akan mangurusnya sendiri, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun."


"Berapa usiamu sekarang?" tanyanya setelah memposisikan tubuhnya berhadapan denganku dan menjadikan lengan kanannya sebagai bantal.


"Mas Zain, tidak tau usiaku? Ish ...." Aku mencebik kecewa.


"Lahir di tanggal satu bulan Juli 23 tahun yang lalu. Tapi aku tidak yakin dengan pola pikirmu yang melampaui usiamu? Kamu memonopoli tahun kelahiranmu?!"


Aku tersenyum bangga, suamiku setidaknya tau kapan pertama kali aku hadir di dunia ini.


"Aku didewasakan oleh keadaan."


Aku mengenang kejadian yang memaksaku dewasa lebih dini pada kejadian sepuluh tahun yang lalu.


Pada sore yang cerah, semburat senja nampak begitu indah mewarnai langit yang nampak berwarna oranye keemasan. Semilir angin yang bertiup dengan lembut menggugurkan daun-daun yang telah menguning dari dahannya, tak luput wajahku juga dibelai olehnya.


"Rayya!" Teriak pria paruh baya di seberang jalan sambil melambaikan tangannya padaku yang tengah duduk di sebuah halte. Aku membalas lambaian tangannya dengan senyuman.


Aku beranjak untuk menemui pria yang menjadi cinta pertamaku. Dengan sedikit perjuangan setelah beberapa kali berhenti, menanti jalanan kembali lengang dari kendaraan, sampailah aku pada pria yang kini di hadapanku.


"Mau beli es krim?" Seperti hari-hari sebelumnya, ia selalu menawarkan es krim, tapi hari ini aku menolaknya.


"Pulang saja! Rayya cape." Aku segera membonceng sepeda motor butut kesayangannya dan melingkarkan tanganku dengan erat pada pinggang lelaki yang melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


"Gimana lesnya?" Ayah setengah berteriak agar suaranya sampe ke telingaku.


"Menyebalkan!" jawabku yang membuat ayah tertawa.


Sepekan tiga kali, aku harus mengikuti les di luar jam sekolah karena ayah memaksa. Ayah ingin agar aku bisa lulus dengan nilai yang memuaskan, padahal dipaksa belajar bagaimana pun, otakku sudah mentok.


Aku tetap melakukan kemauan ayah meski sebetulnya tidak suka. Bentuk baktiku pada ayah, sebagai putri satu-satunya yang selalu ia banggakan.


Ibuku wafat saat melahirkanku, begitulah yang selalu ayah ceritakan, aku selalu dimanjakannya agar aku tidak kehilangan sosok ibu dalam hidupku.


"Rayya sayang Ayah," ucapku sambil mencium aroma keringat yang melekat pada baju yang ia kenakan. Sudah menjadi kebiasaanku berbisik lirih di punggungnya meski ia tak mendengar, karena terhalang bisingnya kendaraan yang berlalu lalang.


"Ayah juga sayang Rayya," jawabnya yang membuatku mendongak memperhatikan wajah ayah di spion motor.


"Kelak Rayya juga akan menemukan seseorang yang menyayangi Rayya seperti sayang seorang ayah," imbuhnya lagi dibarengi dengan senyuman khasnya, membuatku mengernyitkan alis tak memahami maksud ucapannya.


Tidak ada yang terasa aneh dalam perjalanan pulang sore itu, semuanya nampak biasa saja hingga ayah tiba-tiba berteriak kencang. Motor yang dikendarainya oleng hingga melewati jalur yang seharusnya.


Aku dan ayah terjatuh, tubuh kecilku terseret sejauh lima puluh meter. Aku masih mengingat jelas saat tubuhku terplanting hingga ke bahu jalan sebelah kanan menjauhi ayah yang tergeletak di tengah jalan.


"Ayah!" Aku berteriak saat sebuah truk dengan kecepatan tinggi mendekatinya dan ...


Kepalaku menjadi sangat berat saat aku melihat cairan berwarna merah tercecer di sekitar ayah, dadaku terasa sesak diiringi pandangan yang berkabut dan kemudian gelap.


Aku membuka mata, seiring degup jantung yang berdetak kencang. Kejadian itu kadang hadir dalam mimpiku seperti nyata. 'Itu hanya mimpi' gumamku memegangi dada yang terasa sesak.


Sebuah tangan menyentuh pundakku dengan lembut, menarik tubuhku dan membenamkan kepalaku di dadanya. Aku segera mengeratkan pelukanku pada pria yang kini membelai punggungku, menangis dalam dekapan suamiku.


Karena mimpi itu aku tidak bisa kembali tidur, setelah melakukan sholat malam yang diimami Zain, aku bergegas ke dapur menyiapkan sarapan. Sedangkan Zain membuka laptopnya, ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"Tanyakan satu hal, aku akan menepati janjiku."


Aku menoleh pada Zain yang tengah membuka kulkas untuk mengambil air minum di dalamnya.


"Masih terlalu pagi untuk meminum air dingin, mau kubuatkan teh?" tawarku padanya yang hendak meminum air yang tengah dalam genggaman, kemudian diurungkannya hal itu dengan mengembalikan ke dalam kulkas.


"Boleh."


Setelah membuat satu cangkir teh camomille, aku membawanya ke hadapan Zain, yang ternyata masih berkutat dengan laptopnya. Sebelumnya aku tidak melihatnya membawa serta benda tersebut.


"Pekerjaanmu sudah selesai?" tanyaku saat Zain menutup laptopnya.


Zain mengangguk kemudian menyesap teh dalam cangkir. Ia menaruh kembali cangkir yang telah kosong ke atas meja.


"Aku belum menanyakan apapun!" Aku terpaku menatap senyum tipis di bibirnya sebelum beranjak dari duduknya.


"Sudah!" jawabnya.


"Pekerjaanmu sudah selesai? Aku menjawab dengan anggukan. Pertanyaan hari ini, done!" Kemudian melangkah meninggalkan dapur.


"Aku menunggumu tiga puluh menit bukan untuk menanyakan hal itu, Zain?!" teriakku berharap Zain mendengar dari jarak dapur hingga ruang tengah yang berdampingan.


"Kenapa teriak-teriak, Rayya." Mama yang keluar dari kamarnya menegur, hingga membuatku salah tingkah.


"Gak papa, Mah!"


"Mama mau sarapan? Rayya sudah masak sayur asam, sambel terasi dan ayam goreng." Aku menawarkan pada mama sambil membuka tutup saji, memperlihatkan hasil masakkanku padanya.


"Jam segini sudah selesai masak?" Mama mengernyitkan alisnya memandangi lauk yang ada di meja makan.


"Semalam Rayya tidak bisa tidur."


"Masih terlalu pagi buat sarapan, mama akan buat teh untuk papa, nanti kita sarapan bersama selepas sholat subuh."


"Biar Rayya saja, Mah."


Aku hendak mengambil gelas untuk menyiapkan teh, namun mama menyuruhku kembali ke kamar membantu menyiapkan keperluan Zain.


Apa itu sebuah kode agar aku selalu dekat dengan zain? Aku menghentikan langkah sejenak saat berada di depan pintu kamar.


"Bissmillah," ucapku setelah jantung mendadak berdebar disertai kaki yang menjadi lemas, semoga ini bukan sebuah tanda kelaparan karena tidak dibarengi mata berkunang-kunang dan perut keroncongan.


Biasanya saat ini Zain sedang mandi pagi. Aku khawatir terjadi Dejavu seperti sebelumnya, menyolonong masuk ke kamar Zain dan melihat enam kotak di perutnya.


Kubulatkan tekad mendorong pintu secara perlahan, tak lupa lima jari yang lainnya untuk menutup mata meski dalam keadaan berjarak. Namun ...


Kenapa aku kecewa ya, setelah do'aku terkabul agar tidak terulang kejadian yang sama.


Astaghfirullah ...