Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Nanti malam tidur sendiri


"Dek, gak mandi dulu, sebentar lagi adzan subuh, loh."


Aku masih di tempatku berbaring, bergelung dengan selimut seraya memandangi lelakiku yang baru keluar dari kamar mandi. Rambut basahnya ia keringkan menggunakan handuk kecil dengan satu tangan.


Masih takjub dengan petakan di perutnya yang sudah ku absen tadi malam.


"Kenapa?" tanyanya begitu lembut saat berjongkok di depanku. Aroma sabun dari tubuhnya menusuk hidungku hingga membuatku hampir terbuai lagi.


"Sakit," rengekku sambil menggigit ujung selimut. Mas Zain hanya tertawa yang membuatku dalam mode gemas.


"Mau aku angkat ke kamar mandi?"


Aku segera mengangguk. Tak bisa kubayangkan betapa ngilunya jika harus berjalan sendiri ke kamar mandi.


Mas Zain meletakkan satu tangannya di punggungku dengan satu tangan lainnya di kakiku. Sedangkan aku mengalungkan tanganku di leher suamiku, membenamkan kepalaku di dadanya setelah mas Zain benar-benar membopongku.


"Mas Zain izinnya pelan-pelan, tapi sampai bikin aku gak bisa jalan."


"Itu salahmu, Dek. Kenapa terlalu menggemaskan."


Setelah menurunkanku di kamar mandi. Mas Zain kembali mengambil haknya pada bibirku hingga beberapa saat. Sampai wajahku benar-benar memerah Karena kehabisan napas.


"Jika begini terus, kita bisa terlambat mendirikan sholat subuh, Dek."


Segera tangan ini memilin perutnya. Siapa yang mulai duluan, siapa yang disalahkan. Ini namanya lempar batu sembunyi sekalian orangnya.


*****


Memenuhi kewajiban seorang istri yang lainnya, kulangkahkan kaki menuju dapur meski dengan tertatih. Membuat sarapan untuk suamiku yang kini tengah sibuk dengan berkas dan laptop untuk menyiapkan presentasi.


Belum begitu lama berkutat di dapur, suara ketukan pintu di perdengarkan. Sekilas kulirik jam yang bertengger di dinding.


Masih terlalu pagi untuk seseorang bertamu ke rumah orang lain.


"Biar aku saja yang bukain pintu, Mas," pintaku ketika berpapasan dengan mas Zain yang mulai menuruni anak tangga.


"Terimakasih, Dek." Senyum mas Zain mengembang seketika, dilemparkannya flying kiss ke arahku sebelum balik kanan untuk kembali ke kamar.


Kelakuan suamiku ada-ada saja. Mungkin dia lupa usianya berkepala tiga ketika tengah melihat istrinya yang super menggemaskan ini.


Sebelum membuka pintu, terlebih dulu aku menyibak sedikit gorden dan mengintip seseorang di balik sana. Takutnya seseorang yang tak dikenal dan berniat tidak baik. Alhamdulillah-nya kak Tasya yang berdiri di sana.


Kak Tasya?! Ngapain sepagi ini datang ke rumahku?


Apalagi dengan pakainnya yang super irit. Hotpants hitam lima belas senti di atas lutut dan tank top warna senada yang hanya membungkus asetnya lalu membiarkan yang lainnya terekspos media. Ditambah rambut yang dikuncir kuda dengan tinggi.


"Cepet, buka!" Jeritnya ketika melihatku mematung di balik korden yang tersingkap.


Sebelum membuka pintu, aku berjalan cepat menuju kamar. Mengambil selimut untuk menutupi tubuh kak Tasya sebelum memasuki rumahku.


Mas Zain bisa dalam keadaan darurat bencana jika melihat kak Tasya seperti ini.


Setelah pintu terbuka. Segera selimut di tanganku, kubentangkan lebar-lebar untuk membungkus semua aurat kak Tasya. Tak peduli dengannya yang kebingungan disertai memberontak.


Jeritannya tak kupedulikan, kudorong paksa kak Tasya memasuki kamar di lantai bawah yang sudah kusiapkan baju ganti yang lainnya.


"Gak mau! Baju norak kayak gitu!" tolaknya dengan tangan bersedekap di depan dada.


"Di luar dingin, Kak Tasya bisa masuk angin."


"Jangan panggil aku Kak, karena kita seumuran dan jangan panggil aku Tasya. Aku Caca dan aku berbeda dari Tasya. Mengerti?"


Aku mengangguk saja, untuk mengiyakan. Dari yang aku browsing-browsing di internet. Uniknya kepribadian ganda, mereka kadang beda usia dengan pemilik raga yang sebenarnya. Biasanya mereka juga tak ingat apa yang dilakukan jiwa yang mendominasi ketika yang lainnya ditidurkan.


"Karena kita seumuran, boleh dong kita berteman," ucapku sambil menggantung tangan berharap kak Tasya, eh, si Caca menerimanya.


Plak...


Ditepisnya tanganku sambil mendecih, kemudian menaikan satu sudut bibirnya.


"Rival tak mungkin bisa berteman. Aku akan merebut Zain darimu!" Wajahnya nampak begitu julid sebelum menyenggol bahuku dengan bahunya menuju pintu.


"Kemarin kamu bilang aku pelakor. Sekarang siapa yang pelakor?" Aku balik badan untuk melihatnya yang tengah kesulitan menarik kenop pintu. Tentu saja, aku sudah menguncinya dan kini kunci itu kujinjing dengan jari di depan mukaku untuk meledek Caca.


"Buka!" Teriakan Caca memekakan telinga disusul suara mas Zain di balik pintu menyebut nama panggilan untukku.


"Zain, buka pintunya. Aku Caca. Aku dikurung oleh wanita tak waras ini."


Kuhela napas sesaat dengan menggelengkan kepala. Kunci pintu hanya satu dan kini ada di tanganku, bagaimana mas Zain bisa membukanya.


"Dek, kamu gak papa, kan?"


"Aku dikurung wanita sia--"


"Heh!" Aku menginterupsi Caca, hingga membuatnya menoleh padaku. "Dek, itu, panggilan untukku. Mas Zain, mengkhawatirkanku. Jadi jangan kepedean, ya!" Aku mencibir ke arahnya.


"Aku baik-baik saja, Mas. Mas Zain balik ke kamar aja dan pastikan mengunci pintu!" perintahku agar mas Zain segera menjauhi kami. Tak ada gunanya juga berdiri di balik pintu.


"Kamu beneran gak papa, Sayang?"


"Iya, Mas."


"Heh, pelakor!" bentak Caca. "Sayang itu panggilan Zain untukku, jangan kege'eran deh kamu. Zain hanya mengkhawatirkanku."


Gigiku gemelutuk mendengar apa yang dikatakan Caca. Kedua tanganku mengepal erat bersiap membungkam seseorang di balik pintu. Kenapa mengganti panggilan di saat tak tepat seperti ini.


"Mas Zain, nanti malam tidur sendiri!" Aku marah, sangat marah. Seberapa jauh hubungan mereka hingga menyematkan panggilan sayang.


"Biar aku yang menemani, Zain." Caca bicara seenak jidat di depan istri sah mas Zain yang tengah marah. Apa dia tidak berpikir perang dunia bisa terjadi lagi. Untung saja Caca sakit, jika tidak ... sudah kutarik kuncir kudanya.


"Maaf, Dek. Tadi panggilan sayang buat kamu, kok. Aku sayang kamu, istriku yang menggemaskan Rayya Khairunisa. Nanti malam kita bisa tidur satu kamar kan?"


Mendengar jawaban mas Zain, Caca menendang pintu. Sedangkan aku tersenyum penuh kemenangan. Tidak akan pernah ada tempat untuk wanita lain di hati pria selain istri sahnya.


Jika ada pria yang lebih memilih wanita idaman lainnya sudah bisa dipastikan mereka akan menyesal setelahnya.