Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Pursuing Love


"Mah, Rayya boleh tau gak? Kenapa Mama memilih Rayya sebagai menantu Mama, untuk mendampingi mas Zain? Mas Zain pria yang sempurna, kenapa Mama tidak memilih wanita yang setara dengan mas Zain?"


Setelah aku menyajikan teh dan camilan di meja depan mama dan papa, aku memberanikan diri menanyakan hal yang mengganjal hatiku.


"Kenapa sayang?" Mama menarik tanganku dengan lembut, yang masih berjongkok di sisi meja untuk duduk di sebelahnya.


"Apa Zain, memperlakukanmu dengan buruk?" tanyanya kemudian mengelus puncak kepalaku, papa hanya memperhatikan kami dengan sorot mata yang sendu. Membuat perasaanku menjadi semakin tidak enak.


"Mas Zain baik Mah, sangat baik. Rayya cuma ingin tahu saja, kenapa memilih Rayya, bukan yang lain."


Mama menundukkan pandangan, di genggamnya kedua tanganku. Setelah menghembuskan napas perlahan ia menoleh ke arah suaminya duduk dan mulai bercerita saat suaminya menganggukan kepala.


"Maafkan mama, sayang! Bolehkah mama memintamu untuk tetap berada di sisi Zain apapun yang terjadi?" Sorot mata mama begitu mengiba, serpihan-serpihan bening mulai berkerumun di sekitar kornea matanya yang berwarna coklat. Mata yang sama, seperti yang dimiliki Zain.


Aku mengangguk meng--iyakan permintaan mama, ada sedikit sesal karena menanyakan hal tersebut. Entah apa yang membuat mereka menjadi begitu emosional.


"Beberapa tahun yang lalu, Zain pernah mencoba mengakhiri hidupnya karena seorang wanita."


"Wanita yang meninggalkan Zain, dengan menikahi pria lain?" tanyaku menyela cerita mama.


"Apa Zain menceritakan padamu?" Rona wajah mama menampakan sebuah harapan dari ucapanku.


"Hanya itu yang mas Zain ceritakan padaku." Dipeluknya tubuhku, setelah mengucapkan kata syukur. Binar cerah memenuhi wajahnya.


"Mama tau, kamu adalah jodoh terbaik yang Allah kirimkan untuk Zain," ucap mama penuh antusias. Aku justru semakin tak mengerti, setelah melihat wajah sendu mereka berubah menjadi rona bahagia.


"Mama hanya menunjukkan fotomu, keputusan menikah Zain sendiri yang menginginkannya. Setelah sekian banyaknya wanita yang mama coba dekatkan dengan Zain, namun ia tolak. Mama tidak punya muka lagi untuk meminta teman mama kembali menjodohkan putri mereka dengan Zain. Mama hanya merasa bahagia ketika putra mama memutuskan untuk menikah, sekaligus bingung karena Zain menginginkan pernikahan hanya dalam waktu sepekan." Mama menghirup napas dalam, sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Saat itulah, mama mengingat tantemu yang memiliki seorang keponakan yang sudah besar. Mama juga ragu karna perbedaan usia kalian yang cukup jauh, tapi kamu menerima lamaran Zain, dan tidak keberatan segera menikah, meski tanpa proses saling mengenal dulu." Kenangnya bahagia.


Orang tua mana yang tidak menginginkan hal terbaik bagi putra-putrinya, begitu juga dengan kedua orang tua Zain. Mereka pasti punya impian yang besar untuk kebahagiaan Zain. Meskipun mereka tau kekurangan dalam diri putra mereka.


Aku yakin mereka tau rumah tangga kami tidak baik-baik saja. Sepertinya aku harus menginkari janji yang sebelumnya kubuat dengan menganggukan kepala, agar aku tetap berada di sisi putranya, apa pun yang terjadi.


"Apa ada hal lain, yang ingin Mama ceritakan pada Rayya?"


"Maksud kamu apa, Nak?" Mama membelalakan matanya.


"Sepertinya Mama dan Papa sudah tahu bagaimana nasib pernikahan kami. Rayya tidak bisa memaksa mas Zain menerima Rayya, jika hatinya masih ada wanita lain, sedangkan Rayya juga tidak bisa bertahan tanpa ada harapan. Maaf, Mah. Rayya tidak bisa berada di sisi mas Zain seperti yang Mama minta. Berpisah adalah keputusan yang terbaik bagi kami," paparku pada kedua orang tua yang kini berwajah sendu.


Tangis mama Renata mengalir dari pelupuk mata, bukannya aku tak punya hati, tapi aku hanya punya satu hati yang harus aku lindungi dari hal apapun yang akan menghancurkannya.


"Zain menyesali perbuatannya, dia berniat membatalkan pernikahan denganmu, mama yang melarang Zain melakukannya. Semua kerabat kami tahu kalian akan menikah pada hari berikutnya, tidak mungkin membatalkan pernikahan dengan tiba-tiba. Tolong! Jangan tinggalkan Zain. Mama melihat Zain mulai tertarik padamu, Zain bahkan mau memegang tanganmu juga menertawakanmu, hal yang tidak pernah mama lihat selama lima tahun terakhir."


"Mah, sudahlah." Papa menghampiri kami yang saling berpelukan, mengusap punggung mama dengan lembut.


"Pikirkan juga perasaan Rayya, posisikan jika kita adalah orang tuanya. Kita pasti akan membuat keputusan yang sama dengan Rayya, jika pernikahan tidak membuatnya bahagia," ucap papa setelah mendudukan mama kembali di sofa.


"Papa lihat kan?! Zain bisa dekat dengan Rayya, bukankah papa juga tau mereka sedekat itu hingga saling berbisik?" Papa menganggukkan kepala saat mama menatapnya penuh pengharapan. Kini manik mata mama di tujukan padaku. "Rayya, bertahanlah sebentar lagi, mama yakin Zain akan membuka hatinya untukmu," ujarnya lalu menghapus air mata yang membasahi pipiku dan mengabaikan air matanya sendiri.


"Tiga bulan. Bertahanlah tiga bulan lagi demi Zain, jika dalam waktu itu putraku masih tidak bisa menerimamu, mama sendiri yang akan mengurus perpisahan kalian. Tolong! Mama melihat ada harapan di matamu, kamu bisa membuat Zainku kembali menjalani hidup yang normal."


Aku tak kuasa menolak permintaan mama kali ini, karena jauh di lubuk hati yang terdalam, aku juga menginginkan Zain membalas perasaanku. Apa aku mampu memasuki relung hati Zain? Berjuang sendiri menjadi penawar hati Zain yang telah hancur, karena wanita bertato inisial Z.


Mama begitu bersukur dengan keputusanku, berulang kali ia mengucapkan kata terimaksih yang membuatku jadi tak enak hati. Ditambah lagi dengan kecupan di pipi kanan dan kiriku yang lebih dari sekali ia lakukan, membuatku merasa mendapat dukungan dari orang tua sendiri.


"Siapa nama wanita itu Mah?" tanyaku setelah kami tenang dengan menyeruput teh yang menjadi dingin.


"Namanya Ta ... Zain kembali," ucap mama yang mendengar langkah Zain, menuruni anak tangga.


Zain menuruni tangga dengan tergesa sambil menunjukan ibu jari dan kedipan sebelah matanya.


"Papa lihat kan? Zain bahkan bisa memainkan matanya dengan genit," ucap mama setengah berbisik pada suaminya.


"Mama akan tidur di kamar bawah saja, biarlah lantai atas menjadi privasi kalian," imbuh mama sebelum Zain sampai dan akhirnya duduk di sebelahku.


Mama dan papa yang menyaksikan momen tersebut tak bisa menyembunyikan senyum mereka, bagaimana kalau mereka tahu jika kedekatan kami lebih dari ini, hingga aku berani menjambak rambut putra mereka.


"Ngapain senyam-senyum sendiri? Jangan berpikir aneh-aneh ya meski kita tidur satu ranjang?!" ucapan Zain membuatku terhenyak saat memikirkan kejadian sebelumnya.


"Emang kamu lagi mikir apa?" godaku pada Zain yang merebahkan tubuhnya di sisi kanan ranjang.


Aku beranjak dari dudukku dan mendekat ke sisi Zain yang telah menutupi matanya dengan lengannya yang berotot.


"Ngapain?!" hardiknya saat menyadari kedatanganku, ia menggunakan jari telunjuk yang ditempelkan pada keningku untuk menghentikan aksiku.


"Menikmati wajah tampan suamiku," godaku.


"Mundur!"


"Aku akan mundur, jika kamu setuju kita berpisah."


Aku hanya tersenyum melihatnya dilanda kepanikan. Hubungan darah memang unik, Zain mempertahankanku untuk memenuhi harapan mamanya. Sang mama memohon padaku untuk kehidupan anaknya.


Sedangkan aku? Untuk apa aku bertahan di sini? Pursuing love.