Pelakor? Siapa Takut!

Pelakor? Siapa Takut!
Makmum penurut


"Alhamdulillah."


Begitu mas Zain selesai mengucapkan qobul dengan satu tarikan napas. Menggemalah rasa syukur semua orang yang menyaksikan ijab qobul antara aku dan mas Zain.


Hati ini bergetar di saat mas Zain kembali menghalalkanku di depan keluargaku, dengan sensasi yang berbeda dari akad sebelumnya. Dulu, sebelum mas Zain mengajukan kesepakatan aneh, hatiku sangat bahagia. Kali ini berlipat-lipat bahagia karena pernikahan ini akhirnya dilandasi dengan cinta.


Jantungku berdegup kencang, ketika mas Zain menaruh tangannya di atas ubun-ubunku untuk membaca doa setelah akad. Setelahnya mencium keningku untuk beberapa saat. Hampir saja mata ini menitikkan airnya jika mas Zain tidak segera menurunkan kecupannya pada kelopak mataku.


Aku membalasnya dengan meraih tangan suamiku dan mendaratkan ciuman pada punggung dan telapak tangannya dengan khidmat.


"Akad sudah selesai. Selanjutnya, aku dan Rayya akan pulang," ucap mas Zain tanpa malu-malu bahkan terkesan malu-maluin.


Aku menundukkan pandangan ketika tak sengaja mataku bersobok dengan pak ustadz. Mana pak ustadz jadi ikutan senyum-senyum.


"Sabar Zain, masih sore juga. Kayak pengantin baru aja. Kalian cuma mengulang akad, bukan mengulang malam pertama." Om Rahman nyeletuk sesuka hati.


"Ada sesuatu yang tidak kalian pahami," balas mas Zain dengan pongah. Kemudian melirik jam di pergelangan tangannya.


"Ini bukan sore, tapi dah dini hari. Besok pagi, aku harus berada di kantor untuk mempresentasikan langkah yang harus dilakukan kedepannya, mengenai aplikasi belanja online yang aku dapatkan kemarin, selama di California. Malam ini aku harus mempelajarinya dulu."


"Akhirnya kamu dapatkan tender itu, Zain?" Om Rahman menanggapi cerita mas Zain dengan semangat. Mungkin mereka saling berbagi cerita sebelumnya.


"Selamat, Zain."


"Makasih, Om."


Keduanya pun saling berjabat tangan dan juga berpelukan. Memang dari awal mas Zain menikah denganku, mereka sudah menjalin kedekatan khusus.


"Selamat, ya, Zain. Untuk pernikahanmu, juga tender barumu." Bang Adam pun turut memberi selamat, bersalaman tapi tidak dengan pelukan. Kurasa mas Zain masih mengganggap bang Adam rivalnya.


"Kurangi cemburumu padaku Zain, sekarang aku kakaknya Rayya."


"Itu tergantung situasi, Dam. Kamu cuma kakak angkat, masih bukan muhrim untuk istriku." Mas Zain menepuk bahu bang Adam setelahnya.


Ish, apaan sih! Mereka berdua.


Ucapan selamat juga terucap dari mama Wanda dan tante Aira, tak lupa beberapa asisten rumah tangga yang kebetulan menyaksikan kami menikah malam ini.


"Selamat, ya, Mas, Mbak, atas pernikahannya. Semoga kalian akan tetap bersama bukan hanya sampai kakek- nenek, melainkan sampai jannah. Niatkan pernikahan atas dasar ibadah agar semua yang kalian lakukan bernilai pahala," nasehat dari sang ustadz yang masih seumuran dengan mas Zain juga terlontar.


Aku hanya menganggukan kepala ketika nasehat-nasehat lainnya meluncur dengan ringan darinya. Kadang merasa tertampar kadang juga merasa terwakili karena ucapan sang ustadz.


"Ada apa ini, kok rame-rame," ucap Tasya as Caca yang kini tengah berdiri di anak tangga paling atas. Tangannya dimasukkan kedalam saku celana jeans belel yang ia kenakan. Dress yang sebelumnya ia gunakan telah berganti menjadi crop top berwarna nude, tampak kontras dengan warna kulitnya yang putih.


Pak ustadz segera menundukkan pandangan ketika Tasya mendekat ke arahnya. Tentu saja demikian, separuh perutnya ia biarkan terekspos, menantang setiap mata yang memandang.


Mas Zain pun segera menyingkir, mendekat ke arahku. Sepertinya mas Zain mulai paham tentang larangan memandang wanita yang bukan mahrom untuknya. Atau mungkin karena khawatir jika aku meledak marah dan terancam tidur di luar kamar.


"Ada pengajian?" tanya Tasya lagi mencoba menunduk untuk mencuri tatapan sang ustadz. Segera kutarik kak Tasya hingga menjauh beberapa langkah dari sang ustadz. Kasihan juga pak ustadz merasa tertekan seperti itu.


"Apa, sih, kamu?" Disingkirkannya tanganku dari lengannya.


"Tahu apa sih kamu tentang kesopanan!" Kak Tasya menjawab dengan ketus, sangat ketus. Benar-benar berbeda 180° dari kak Tasya sebelumnya. Membuatku berakhir dengan menggaruk tengkuk yang tak gatal.


Pada akhirnya pak ustadz secepatnya berpamitan dan meninggalkan rumah besar ini di antar oleh mas Zain dan bang Adam.


"Apa asiknya ngaji, sih!" ujar kak Tasya yang kurasa tidak membutuhkan jawaban. Ia kembali naik ke lantai atas setelah melambai pada punggung ketiga pria yang berjalan semakin menjauh.


Sepertinya yang sebelumnya disepakati, aku dan mas Zain pulang ke rumah impian tanpa tante Aira dan om Rahman. Mereka beralasan akan menjaga Tasya jika ia kembali tantrum dan hanya ada bang Adam seorang diri sebagai pria.


*****


"Aah, akhirnya sampai di rumah juga." Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Mas Zain mengikuti masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Membuatku kembali terduduk dan menautkan kedua alis.


"Kenapa dikunci, Mas. Kan cuma kita berdua yang tinggal di rumah ini."


"Biar safety," jawabnya singkat. Kemudian berjalan ke arahku dengan senyuman mencurigakan.


"Katanya mau mempelajari data presentasi buat besok pagi?" ucapku yang paham dengan arti senyuman itu. Caranya merangkak dari sisi ranjang untuk mendekatiku terlihat menggemaskan.


"Gak usah dipelajari tentang itu. Aku mau belajar yang lain," bisiknya di telingaku yang membuat segala macam bulu di tubuhku berdiri kecuali bulu mata. Aku begitu malu hingga tak sanggup menatap lekat wajahnya yang tinggal beberapa senti.


"Dek," sapanya lembut. "Sabar, ya. Sebaiknya kita ambil wudlu dulu dan sholat dua rokaat. Sunahnya begitu." Mas Zain segera beranjak, lalu menuntunku ke kamar mandi.


Kok kesannya aku yang gak sabaran, ya. Ada yang salah ini.


Setelah mengambil wudlu dan memakai mukena untuk bersiap melakukan sholat, mas Zain kembali memegang keningku seraya berdo'a sedikit keras hingga terdengar di telingaku.


"Allahumma Innii Asaluka Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa Syarri Ma Jabaltaha Alaih. Wahai Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang Engkau berikan kepadanya, serta aku berlindung kepada-Mu daripada keburukannya dan keburukan yang Engkau berikan kepadanya.”


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakattuh."


Dua rokaat sholat selesai ditunaikan, kuraih tangan mas Zain yang lebih dulu menggantung. Mendaratkan kecupan pada punggung dan telapak tangannya.


Tak berapa lama kecupan di kening kudapatkan. Bahkan mas Zain membantu melepaskan mukena yang menutupi kepalaku hingga menampakan panjang rambutku yang baru pertama kali kuperlihatkan padanya.


"Istriku sangat cantik," puji mas Zain sebelum mengangkat tubuhku dalam gendongannya untuk memindahkanku ke atas ranjang.


Malam ini tak seperti biasanya, mas Zain tidak buru-buru mencumbuku melainkan berdoa terlebih dahulu sembari menuntunku.


"Allahumma Jannibna asy Syaithon wa Jannib asy Syaithon Ma Rozaqtana. Wahai Allah jauhilah kami dari setan dan jauhilah setan dari apa-apa yang Engkau rezekikan kepada kami."


Seusai berdoa, mas Zain baru memangkas jarak di antara kami. Menstimulasi setiap inci tubuhku agar tak terlalu tegang.


"Nanti jika terasa sakit, tahan sedikit, ya, Dek," bisiknya di sela mengambil oksigen untuk memenuhi paru-paru kembali.


Sebagai makmum aku hanya mengangguk menuruti setiap bimbingan imamku.