
"Sejak kapan, kita punya bayi besar?"
Di tengah sarapan pagi, papa melontarkan kalimat tersebut. Tujuannya sudah pasti, mengolok Zain yang sedari tadi ditatapnya. Aku yang tengah menyuapi Zain, menjadi sedikit canggung di hadapan kedua mertuaku.
"Biarin aja, Pa. Tangan Zain 'kan lagi sakit." Mama menginterupsi. Sedangkan Zain, terlihat cuek saja meski ia tengah menjadi bahan perbincangan.
"Semalam bisa memegang tongkat. Sepulang dari masjid, Zain sempat menggangu kucing di depan rumah yang sedang melakukan perkembangbiakan, sebelum akhirnya pura-pura mengambil buku dan masuk ke dalam kamarnya. Kenapa pagi ini mendadak tidak bisa memegang sendoknya sendiri?"
UHUUK....
Informasi sang papa, membuat Zain tersedak. Segera kutepuk-tepuk punggungnya, setelah menyodorkan segelas air ke hadapannya.
"Namanya juga usaha." Mama ikut menimpali, membuat sang putra tersedak untuk kedua kali.
Setelah sarapan selesai, mungkin aku harus memberikan banyak pertanyaan pada Zain.
***
"Di sini banyak nyamuk ya, Mah? Banyak banget bunga lavender!"
Setelah sarapan, Zain sengaja menghindariku. Membuatku menunda mempertanyakan maksud dari informasi yang papa berikan.
Disebabkan aku bingung hendak melakukan apa, aku menemui mama yang sedang merawat bunga di halaman depan.
"Itu bunga kesukaan, Zain." Mama menjawab tanpa menoleh ke arahku. Tangannya sibuk memangkas daun kuning pada salah satu bunga anggrek yang berderet rapih.
Aku hanya mengangguk menanggapi, meski tak terlihat oleh mama. Banyak hal yang sama sekali tidak kuketahui tantang Zain. Aku pikir, dia hanya hobi merenung di teras belakang rumah kami, sambil mengamati tunas pohon yang kini sudah tumbuh beberapa helai daun.
"Mama dan papa mengira, setelah kalian menikah, rumah ini akan semakin ramai dengan hadirnya satu orang lagi. Ternyata Zain telah menyiapkan rumah tanpa sepengetahuan kami."
Suara mama perlahan mendekatiku yang tengah berjongkok di depan rumpun bunga lavender berwarna ungu. Di tangannya terdapat gembor, alat berbentuk teko besar untuk menyiram tanaman.
"Sering-seringlah main ke rumah ini," ucapnya lagi, setelah menuangkan air dari alat tersebut ke atas rumpun bunga lavender.
"Iya, Mah," jawabku singkat.
"Kalo mau, kalian bisa tinggal juga di sini. Rumah ini terlalu besar untuk ditinggali kami berdua." Mama menatap rumah di hadapannya. Saat aku mengikuti arah mata mama, nampak Zain tengah memperhatikan kami dari balkon kamar di lantai atas.
"Ish ... kalau lihat anak itu mama jadi pingin nyubit ginjalnya. Selalu saja membuat keputusan tanpa berdiskusi terlebih dahulu, entah dianggapnya apa kami ini." Suara mama terdengar geram. Entah apa maksud dari yang dibicarakannya kali ini.
***
"De, sebaiknya kamu cepat mandi. Aku akan mampir ke kantor hari ini."
Baru saja masuk ke dalam kamar, Zain langsung memelukku dari belakang. Sepertinya ia telah memperkirakan kedatanganku.
"Kalau mau ke kantor, tinggal berangkat aja,Mas. Kenapa harus menungguku mandi?"
"Kita harus ke kantor bersama."
"Ngapain? Aku bosan! Menunggu Mas Zain mengerjakan urusan kantor yang tidak kupahami."
"Kok, ngomongnya gitu, sih?" Zain melepaskan pelukannya, memutar tubuhku sehingga kini saling berhadapan.
"Aku juga nunggu kamu sampai selesai mengurus bunga bersama mama, aku sama sekali tidak mengeluh bosan!"
Aku menggaruk kening, mencoba mengingat di mana letak kesalahan dari ucapanku sebelumnya. Hanya semakin pusing yang kudapat, bukan jawaban.
"Aku mandi dulu." Pamitku dan segera beranjak dari hadapan Zain, yang menatapku dengan mimik wajah kesal.
Tanganku diraihnya sebelum aku benar-benar beranjak dari tempatku berdiri.
"Oke! Kita selesaikan sekarang!" Aku menghentakkan tanganku sehingga genggaman tangan Zain terlepas. Sebelum Zain kembali meraihnya aku lebih dulu melipat tangan di depan dada.
"Mas Zain, selama ini membohongiku dengan pura-pura tidak bisa melakukan aktivitas dengan tangan kanan. Maksudnya apa?"
"Aku gak pernah pura-pura. Kamu sendiri yang ingin dekat denganku, dengan pura-pura membantuku. Ingat kan? Aku bilang bisa makan sendiri? Kamu yang tidak mau jauh dariku, kenapa menuduhku?"
Aku tersentak, mengingat kembali saat itu dan setelahnya memang Zain tak pernah sekalipun meminta bantuanku. Akulah yang selalu menawarkan diri untuk membantunya. Kenapa aku merasa kesal dengan ucapan papa di meja makan?
"Aku tidak pernah pura-pura, Mas. Aku tulus membantumu."
"Tapi ... papa mengatakan sema_"
"Tidak perlu memikirkan ucapan papa. Apa pun yang aku lakukan, bukankah harusnya kamu merasa senang, karena tujuanmu mendekatiku tercapai?" Dicubitnya kedua pipiku, senyum kemenangan begitu nampak di wajahnya.
"Mas Zain, yang seharian kemarin menggodaku. Kenapa kini aku yang merasa telah merayu lebih dulu," gumamku untuk diri sendiri.
"Istriku pura-pura lugu," ucapnya setelah berhasil merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.
"Semalam, sudah kukatakan. Memang kamu yang selalu menggodaku, selalu menggoyahkan imanku."
"Aku tak merasa seperti itu!" Mulutku masih mencoba menyangkal meskipun dalam hati tak dapat mengelak. Aku memang selalu ingin dekat dengan Zain. Akan tetapi, aku sudah membuat jarak dengan Zain beberapa hari terakhir ini.
"Terimaksih, untuk kepedulianmu padaku, sehingga aku merasa dicintai. Terimakasih, karena telah menjadikanku pria paling beruntung bisa memilikimu."
Hatiku bergetar mendengarkan apa yang diucapkan Zain. Aku juga merasa sebagai wanita paling beruntung karena Zain telah memilihku di antara jutaan wanita cantik yang ada di negeri ini.
Tanpa meminta izin, aku semakin membenamkan kepalaku pada dada bidangnya. Menghirup aroma parfum yang melekat pada tubuhnya sambil mendengarkan ritme jantungnya yang berdetak kencang. Tak berbeda dengan jantungku sendiri.
"Buruan mandi," perintahnya, tapi aku tak mengindahkan dan semakin mempererat pelukan.
"Lima menit lagi."
"Aku terlambat, De!"
"Sudah terlambat dari tadi juga!"
Terdengar Zain menghela napasnya, namun, tetap membiarkanku berlama-lama dalam pelukannya. Beberapa kali di kecupnya kepala ini.
"De, selama pernikahan kita, mungkin aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku tidak akan membuatmu menangis. Tapi aku berjanji, akan selalu berusaha membuatmu bahagia."
Dalam hati aku mengamini apa yang Zain ucapkan.
"De, semut mulai menyerangku, mereka salah paham, mengira aku menguasai makanan manis mereka. Padahal aku hanya memeluk istriku."
Aku tersenyum mendengar gombalan pertama kali yang di ucapkan suamiku. Kulkas dua puluh pintu yang dulu entah hilang kemana. Sebetulnya aku masih belum rela melepaskan pelukan, tapi apalah daya, aku pun tak rela suamiku diserang semut-semut itu.
"Kenapa cemberut?" Zain bertanya ketika melihat wajahku sesaat setelah aku mengurai pelukan.
Aku hanya masih ingin berlama-lama dalam pelukannya. Namun, berbeda yang ada di benak Zain saat melihatku dengan wajah yang murung. Zain memangkas habis jarak di antara kami, sehingga memudahkan untuk saling bertukar saliva.
"Kita berjuang bersama dalam waktu sepekan ini. Aku juga tengah berjuang meredam gejolak yang sebetulnya membuatku marah. Aku tau, itu bukan kehendakmu. Tapi jika kamu bersikap seperti ini terus, sepertinya aku tidak bisa menunggu waktu sepekan."
Aku mengerti apa yang diucapkan Zain. Sebelum hal itu benar-benar terjadi, aku segera berlari menjauhinya.
"Aku mandi dulu," teriakku sebelum memasuki kamar mandi.